Penanganan Limbah Pascapanen Padi

Pemandangan jerami yang bertumpuk-tumpuk di pinggir sawah mungkin tidak asing bagi anda yang suka memperhatikan saat panen padi. Biasanya panen padi dilakukan secara berkelompok, bisa menggunakan alat perontok padi atau digebot yaitu memukul-mukul batang padi yang sudah diarit ke sebuah batu atau kayu. Saya pernah mencoba teknik menggebot ini di suatu daerah di Cilimus, Kuningan, Jawa Barat. Secara produktifitas tentu teknik ini lebih rendah dibandingkan menggunakan alat perontok padi. Tetapi suasana keakraban dan gotong royong yang tercipta sungguh luar biasa. Selalu ada canda tawa dan cerita-cerita diselingi semilir angin sawah yang berhembus membawa suara berirama padi yang dirontokkan. Hanya waspada jika tidak biasa dengan teknik menggebot ini, punggung anda akan pegal-pegal, apalagi yang mempunyai bakat encok sangat tidak disarankan. Batang jerami yang sudah digebot atau sudah habis bulir padinya terpisahkan di mesin perontok, dikumpulkan menjadi suatu gundukan disuatu tempat di sawah.

Jerami yang bertumpuk-tumpuk di pinggir lahan sebagai salah satu limbah pascapanen padi, biasanya dibakar oleh petani setelah beberapa hari kemudian. Jerami baru bisa dibakar setelah cukup kering karena terpapar oleh sinar matahari. Pilihan ini diambil oleh petani karena jika tidak dibakar, jerami yang tersebar dilahan akan menyulitkan saat pengolahan tanah untuk penanaman selanjutnya. Jerami padi akan menyangkut di mata bajak. Kadang sulit untuk melepaskan mata bajak yang sudah terlilit oleh jerami saat pengolahan tanah.

Proses Pengomposan Jerami Padi

Proses Pengomposan Jerami Padi

Hanya pembakaran jerami merupakan suatu tindakan yang menyia-nyiakan sumber pupuk alami. Kok bisa? Ya jerami yang dibakar tersebut hanya akan menghasilkan arang atau karbon dengan kode unsur hara C. sedangkan unsur nutrisi yang dibutuhkan tanaman, yang terbesar adalah Nitrogen (N), Phospor (P) dan K (kalium) yang sering disebut unsur hara makro. Bukan karena ukuran molekulnya yang besar, tetapi unsur tersebut banyak dibutuhkan oleh tanaman untuk bisa tumbuh dan menghasilkan produk seperti buah, daun, tuber, biji dan lain sebagainya. Kebutuhan NPK tersebut biasanya dipenuhi melalui pemupukan NPK. Selain NPK, unsur hara lain yang diperlukan tanaman adalah S, H, O. kalau ada unsur Makro yang dibutuhkan tanaman, berarti ada unsur mikro? Ya anda benar. Banyak unsur mikro yang dibutuhkan tanaman seperti Mg, Ca, Fe dan lain sebagainya. Unsur mikro bukan berarti unsur tersebut tidak penting, tetapi dibutuhkan dalam jumlah sedikit saja, kalau banyak malah menyebabkan gangguan fisiologi bagi tanaman.

Bisa saya ibaratkan kebutuhan garam dapur (NaCl) pada makanan manusia. Tentu kita membutuhkan dalam jumlah tertentu pada makanan kita, selain sebagai penyedap masakan (bisa dibayangkan sayur tanpa garam) garam memang dibutuhkan oleh manusia untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Tetapi jika terlalu banyak?? Selain makanan anda keasinan yang mana tidak enak dimakan, bisa menimbulkan banyak gejala lain diantaranya mungkin meningkatnya tekanan darah. Jadi garam dapur tersebut bisa dianalogikan sebagai unsur mikro bagi tubuh. Lalu unsur makro bagi tubuh apa? Anda bisa sebut beberapa seperti air (H2O), karbohidrat dan lemak diantaranya anda butuhkan dalam jumlah yang cukup. Kalau terlalu banyak juga kemungkinan akan mengurangi produktifitas anda karena obesitas.

Demikian juga unsur-unsur hara yang diperlukan untuk tanaman. Semua penting dan harus tersedia dalam jumlah yang sesuai. Nah jika jerami dibakar, anda hanya kan mendapatkan unsur hara C. Jelas unsur hara ini juga diperlukan tanaman dan juga bagus untuk tanah. Tetapi bagaimana dengan unsur hara lain yang diperlukan? Sebenarnya jawabannya ada di lahan itu sendiri. Setiap hektar tanaman padi bisa berpotensi untuk menghasilkan jerami kering sebanyak 15 ton per hektar untuk sekali musim tanam. Yah jika dirasa angka ini terlalu banyak atau fantastis, mungkin 10 ton per hektar juga bisa dibilang cukup bagus sebagai sumber bahan organik.

Permasalahan yang ada kenapa petani membakar jerami padi adalah jerami mengandung selulosa dan hemiselulosa yang cukup tinggi sehingga sulit terurai. Padahal waktu untuk persiapan lahan musim tanam berikutnya tidak cukup untuk membiarkan jerami terurai di lapang. Permasalahan ini juga saya jumpai di Kabupaten Merauke. Ironisnya, potensi pupuk yang ada bisa menjadi terbuang sedangkan kebutuhan petani juga tinggi terhadap pupuk.

Kompos Jerami Padi Siap Digunakan

Kompos Jerami Padi Siap Digunakan

Bagaimana solusinya? Saya mendapat pengalaman berharga ketika belajar mengenai kakao di jayapura, ada satu sesi tentang pembuatan pupuk organik dari bahan yang ada disekitar kebun (mengenai penanganan limbah kakao dibahas pada tulisan lainnya). Setelah bahan organik tersebut terkumpul dalam suatu lubang atau lokasi, kemudian disemprot menggunakan suatu cairan mikroba.

Mikroba tersebut dikemas sedemikian rupa dalam bentuk padat. Ada tiga jenis mikroba berbeda dalam satu paket yang disebut Promi. Kebetulan yang memperkenalkan Promi saat itu adalah salah satu anggota dari tim peneliti yaitu Dr Agus Purwantara. Beliau menjelaskan perlu waktu lama (kalau tidak salah 12 tahun) untuk menemukan strain mikroba dari bumi Indonesia yang  berdaya urai tinggi terhadap bahan organik serta menemukan teknik untuk perbanyakan serta penyimpanannya.

Setelah melihat hasil yang positif untuk mengkomposkan bahan organik kakao, saya berusaha mencobanya di lahan sawah di Kabupaten Merauke, Papua. Saya melihat situasi dimana petani membutuhkan pupuk yang pupuk tersebut kadang sulit didapat atau harganya cukup untuk mengurangi pendapatan hasil tani. Sedangkan di lahan tersebut ada sumber bahan organik yang bisa dijadikan alternative sebagai pupuk. Tahukan anda, setiap hektar lahan padi bisa menyumbangkan jerami yang jika dikomposkan bisa menghasilkan unsur hara setara dengan 120 kg Urea, +- 40 kg SP 36 dan +-250 kg KCl. Info lebih lengkap mengenai promi bisa anda lihat di http://isroi.com/.

Kunjungan Lapang

Kunjungan Lapang

Dari jumlah pupuk yang mungkin dihasilkan dari jerami tersebut, tentu kebutuhan pupuk pabrik yang biasanya dibeli oleh petani bisa dikurangi. Dan bukan hanya itu, bahan organik akan menyebabkan perbaikan lahan, meningkatkan tingkat kesuburan, meningkatkan organisme hidup seperti cacing tanah, mikroba dan serangga lainnya, yang pada gilirannya meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanaman serta pada akhirnya meningkatkan produksi.

Promi tersebut saya peroleh langsung dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia di Bogor (http://www.ibriec.org/) ketika saya pulang kampung ke Bogor. Dengan bantuan Pak Niko Kepala Kebun Merauke BPTP Papua, kita menerapkan teknologi Promi tersebut bersama petani binaan. Penggunaan promi sederhana saja, cukup dengan mencampur bahan-bahan yang terdapat dalam kemasan ke dalam ember atau wadah berisi air, lalu siramkan secara merata ke tumpukan jerami yang sudah disiapkan. Kemudian tumpukan jerami tersebut ditutup menggunakan terpal plastik. Satu hal yang memudahkan adalah pembuatan kompos tersebut tidak perlu ada proses membalik tumpukan seperti yang biasa dilakukan pada proses pengkomposan lainnya. Serta proses pengkomposan tersebut bisa dilaksanakan langsung di lokasi lahan, tanpa perlu memindahkannya ke tempat khusus untuk pengkomposan. Hasil pengkomposan menggunakan promi pun bisa langsung digunakan dilahan tanpa harus menggotong-gotong karung yang berat.

Dua minggu setelah penggunaan promi di jerami padi, ketika saya berkunjung ke lahan ternyata jerami sudah terdekomposisi dengan baik.  Waktu yang cukup singkat untuk mengkomposkan jerami padi, dan pupuk organik dari jerami tersebut sudah bisa digunakan di lahan. Cara tahu bahwa kompos tersebut sudah siap digunakan yaitu ketika diremas batang jerami akan mudah hancur. Untuk kesuksesan proses pengkomposan ini adalah pemberian air yang cukup serta merata pada seluruh bahan organik, sehingga organisme pelapuk dapat bekerja dengan baik. Permasalahan yang cukup penting untuk dicarikan jalan keluarnya adalah bagaimana promi tersebut bisa tersedia di lokasi-lokasi pertanian dengan mudah dan terjangkau oleh petani. Mengenai harga saya pikir sangat terjangkau, apalagi jika dihitung dengan penghematan pembelian pupuk yang dapat dilakukan oleh petani. Segala sesuatu mengenai promi bisa anda dapatkan di http://www.ibriec.org/.

Location: Merauke

Time: Agustus 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s