Coffee Roasting: First Trial

Na Ja… Es geht….. Setelah beberapa kali mencoba home roasting dengan beberapa metode dan peralatan, seingat saya pada batch ke 5 ini, untuk pertama kalinya saya mendengar first crack dan second crack… alunan musik yang indah. Suara first crack dan second crack inilah yang menentukan proses pembentukan rasa dan aroma kopi dari green bean. The moment of truth…. saat roasting baru ketahuan rasa sebenarnya dari green bean. Bunyi letupannya seperti saat anda membuat popcorn (tentu dengan ritme dan nada berbedašŸ˜‰.

Mendinginkan Hasil Roasting.

Mendinginkan Hasil Roasting.

Perjalanan biji kopi mentah yang disebut green bean sangat panjang dan kompleks agar bisa dinikmati menjadi sebuah kopi yang nikmat dalam cangkir. Dan salah satu fase nya adalah roasting. Tahap ini yang saya pelajari terakhir karena ini paling penting dan paling sulit. Ya tentu saja saya bukan ahli roasting, tapi bisa mendengar first crack dan second crack saja sudah senangnya bukan main.

Vienna roast. Ada sedikit titik seperti minyak.

Vienna roast. Ada sedikit titik seperti minyak.

Green bean yang saya gunakan untuk roasting pada tulisan ini merupakan kopi Java Arabica yang diperoleh dari Speicherstadt, Hamburg. Saat pertama kali mencoba, hasil roasting cenderung French roast (bahasa halus untuk sedikit gosongšŸ˜‰, rasa flat alias datar-datar saja. Sepertinya karena terlalu banyak mengaduk dan waktu terlalu lama dan suhu terlalu tinggi. Ganti suhu dan waktu tetap hasil tidak menggembirakan. Sekalian juga dicoba teknik penyimpanan setelah roasting, hasil cup testernya pahiiitt…

Setelah cari info sana-sini dan ganti peralatan…. semangat lagi untuk coba belajar roasting dengan peralatan baru yang sederhana dan murah tapi sepertinya hasil bisa menjanjikan. Batch berikutnya dengan peralatan baru, biji setengah matang alias medium roast tapi aroma masih seperti kacang yang digoreng, jelas rasa masih flat. Saya juga tidak mendengar secara jelas saat terjadinya first crack dan belum terjadi second crack tetapi proses roasting harus dihentikan karena biji kopi makin cepat menjadi gelap.

Perbandingan Green Bean dan Roasted Bean. Roasted bean akan mengembang lebih besar dari green bean.

Perbandingan Green Bean dan Roasted Bean. Roasted bean akan mengembang lebih besar dari green bean.

Setelah mengganti beberapa parameter beberapa waktu kemudian, walah first and second crack terdengar jelas dan ada jeda waktu sehingga bisa dibedakan dengan jelas. Hasil roastingnya pun kopi tercium aroma khas harum. Kamar saya pun menjadi berbau aroma kopi seperti pabrik kopi hehehe… walau masih ada sedikit aroma kacang goreng, mungkin aroma tersebut muncul pada saat pertama-tama proses roasting terjadi. Aroma sudah muncul, tetapi saya pikir potensi aromanya belum muncul maksimal jadi perlu trial and eror lagi.

Setelah biji hasil roasting diinapkan sehari, H2C (harap-harap cemas) biji kopi home roast sendiri dibuat espresso dan diolah menjadi cappucino. Hasilnya? alhamdulillah maknyus (paling tidak menurut pendapat pribadi). Hasil grind kopi home roast pertama ini sudah ludes dinikmati konsumen warkop roko 321, sepertinya belum ada yang komplain sakit perut atau pusing-pusing kepala. Nah untuk stock persediaan kita akan coba lagi buat akhir minggu ini. Bagaimana hasilnya? Entahlah…. kita coba saja…

Location: Robert Koch Strasse, Gƶttingen, German

Time: November 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s