Kopi Wamena

Saat ini saya sedang stock opname persediaan kopi. Sebagian kopi yang sudah kadaluarsa atau saya anggap kadaluarsa harus dibuang karena tidak layak konsumsi. Bukan karena jamuran atau sejenisnya, tetapi rasa dan aroma sudah tidak layak alias bad taste. Sedih juga harus membuang koleksi kopi yang selama ini sudah menemani hari-hari melewati perubahan cuaca 4 musim. Sampel-sampel kopi ini saya kumpulkan dari banyak lokasi dalam rangka belajar untuk sedikit memahami tentang kualitas kopi. Tidak terasa sudah banyak jenis, bentuk dan lokasi kopi dari berbagai belahan dunia yang sudah mampir di lidah. Masih baannyaaak yang belum ditelusuri. Ijinkan saya membagi selayang pandang tentang kopi yang saya koleksi.

Koleksi kopi dimulai dari wilayah ujung timur Indonesia, Papua. Papua memiliki beberapa zona ekologi berbeda yang sedikit banyak membentuk karakter masyarakat lokal yang tinggal turun temurun dilokasi tersebut. Beberapa diantaranya adalah masyarakat Sentani yang tinggal di daerah pinggiran Danau Sentani yang tersohor itu, merupakan zona rawa-rawa. Tanaman yang banyak tumbuh adalah sagu, gembili juga cukup populer. Kesamaan zona lokasi dengan Merauke yang juga berupa daerah rawa mungkin yang menyebabkan Sentani (Kabupaten Jayapura) memiliki banya plasma nutfah gembili. Lain kesempatan kita akan bahas mengenai gembili ini. Daerah zona pantai seperti Nabire dan Biak mempengaruhi mata pencaharian serta interaksinya dengan warga luar Papua.

Kopi Prima Garden. Wangi dan sedaaapp....

Kopi Prima Garden. Wangi dan sedaaapp….

Di bagian tengah Papua sebagian besar terdiri dari Pegunungan, kadang disebut Pegunungan Tengah yang terdiri dari banyak daerah seperti Pegunungan Jayawijaya, Pengunungan Bintang dan daerah Wamena. Silahkan melihat-lihat beberapa ulasan mengenai Wamena di blog ini. Daerah ini seperti negeri di atas awan, unik serta banyak potensi yang bisa dikembangkan. Masyarakat Wamena terkenal juga dengan rajin bekerja dan pandai mengolah lahan walau lokasi ini bisa dibilang cukup terisolasi dengan dunia luar. Hanya pesawat satu-satunya jalan untuk menempuh lokasi ini.

Kemasan Sari Prima saat itu tahun 2011.

Kemasan Sari Prima saat itu tahun 2011.

Beberapa hari sebelum ditugaskan ke Papua, saya diajak senior untuk datang ke Kampus Pertanian Cimanggu untuk menghadiri seminar tentang Papua. Rupanya pembicara merupakan peneliti dari salah satu lembaga yang didanai oleh USA, kalau tidak salah USAID dan Amarta. Setelah googgling sejenak, saya menemukan dokumen mengenai hal ini di sini. Mereka memaparkan apa yang sedang dikerjakan dan pencapaian-pencapaiannya.

Bagian Belakang Kemasan

Bagian Belakang Kemasan

Cukup menarik bahwa jika benar mereka yang pertamakali mengembangkan kopi di Papua. Silahkan jika ada pembaca mempunyai fakta lain, dibagi infonya ke sini. Saat terakhir meninggalkan Papua, saya sempat berhubungan dengan staf WWF (kemudian menjadi mantan staf) yang pernah bekerja di Papua dan dia ikut membantu memasarkan produk ini di Jakarta. Saat itu pemasaran belum banyak dilakukan. tetapi baru-baru ini ketika berbicang dengan kolega asal Papua yang kuliah di Goettingen juga, beliau tidak bisa lagi membeli dalam bentuk biji kopi Wamena untuk oleh-oleh sang Prof. Berarti pemasaran kopi ini sudah berjalan dengan baik, tinggal digenjot tingkat produksinya.

Keterangan Kopi Organik, Belum ada Sertifikat Organik.

Keterangan Kopi Organik, Belum ada Sertifikat Organik.

Dari berita-berita di koran lokal saat di Papua, kopi Wamena memang diarahkan untuk di ekspor ke Amerika. hanya kadang terjadi masalah, ketika permintaan rutin setiap bulan untuk beberapa kontainer tidak bisa dipenuhi oleh produsen di Wamena. Entah saat ini, yang pasti kalau di Papua sendiri sampai sulit untuk mendapatkan biji kopi Wamena berarti pemasaran ke luar Papua berjalan dengan baik. Bahkan saya menemukan sebuah cafe di Hannover, German yang menggunakan kopi wamena sebagai campuran bahan bakunya. Cukup menarik dan surprising. Saya cari fotonya dulu ya untuk kita bahas lebih lanjut mengenai cafe tersebut.

IMG_8251

Ketika melakukan stock opname, ternyata saya memiliki 3 kopi Wamena dari sumber berbeda. Pertama adalah kopi Wamena produksi CV. Prima Garden. Prima garden merupakan cafe, mungkin bisa dibilang yang pertama di Jayapura dan Sentani. Konsep cafe sederhana, tetapi menu yang disajikan maknyus. Ada beberapa cafe Prima Garden di Jayapura dan Wamena. Jika anda berkunjung ke Jayapura, coba mampir untuk menikmati kopi dan kue yang disajikan. Cafe ini biasanya menjadi langganan kantor jika ada rapat atau perlu konsumsi untuk suatu kegiatan. Kadang jika anggaran mepet, dan harus memilih apakah paket makan siang atau kopi dan kue dari cafe ini, lebih sering rekan-rekan memilih konsumsi dari Prima Garden. Biasanya kita sudah hafal siapa yang pesan kopi hitam, cappucino atau kopi susu. Setiap memasuki cafe dengan desain sederhana ini, aroma kopi langsung semerbak. Kue yang disajikan pun terasa home made. Sore hari kalau sedang sepi kegiatan atau mati listrik (OMG, saat itu byar pet sering terjadi karena pasokan listrik terbatas dari PLTD) saya suka mampir untuk menikmati kopi plus kue labu yang uenak. Menu cafe saat itu masih terjangkau untuk PNS jomblo (saat itu ya…) dengan gaji yang hmmmm :-)…..  di tengah harga-harga Papua yang wuaahhhhh….. Saya belum menemukan koleksi foto cafe Prima Garden, kalau sudah ketemu akan saya share. Saya menemukan sebuah foto gelas kertas Prima Garden yang mungkin familiar buat pembaca yang berada di Jayapura, Sentani dan sekitarnya.

IMG_8252

Kopi produksi CV Prima Garden mengusung merk Sari Prima. Pada kemasan terdapat logo kopi organik. Memang perda di daerah Wamena melarang petani untuk menggunakan pestisida dan pupuk buatan. Tanah subur membuat produksi bagus. Hanya untuk pemasaran ke luar negeri, perlu lembaga sertifikat organik untuk menyatakan bahwa kopi yang diproduksi benar-benar organik. Pembuatan sertifikat pastinya butuh biaya yang mungkin tidak terjangkau oleh petani. Disinilah peran Pemda dengan melakukan pembiayaan untuk membantu pembuatan sertifikat organik dan mungkin ditambah denga sertifikat fair trade. Tentu sertifikat fair trade masih bisa diperdebatkan, tetapi akhir-akhir ini ada kecenderungan pasar untuk lebih menerima kopi dengan sertifikat fair trade. Walau sebenarnya hanya sekitar 30% dari produk-produk fair trade yang benar-benar fair trade. Nah loh…. kita bahas pada kesempatan lain tulisan ilmiah mengenai ini.

Ukuran biji tidak seragam menyebabkan perbedaan hasil roasting.

Ukuran biji tidak seragam menyebabkan perbedaan hasil roasting.

Sari Prima merupakan kopi Arabika dan dijelaskan pada kemasan. Pada uji organoleptik kopi Wamena sari Prima dari bungkus yang saya beli terdapat rasa stale yang sangat mengganggu. Rasa pahit juga dominan. Selain rasa seperti tanah (earthy) dan berasap yang merupakan ciri khas dari kopi Wamena dan Indonesia pada umumnya. Padahal kopi yang saya nikmati di Sentani rasanya enak. Setelah saya perhatikan, biji kopi dari kemasan yang saya beli saat itu akhir tahun 2011 berukuran tidak seragam. Ada yang kecil dan ada yang besar. Kondisi ini menyebabkan biji kopi saat diroasting memiliki tingkat roasting berbeda. Ada yang medium sampai ada yang dark (mungkin hangus?). Sepertinya kemasan yang saya peroleh tersebut berasal dari batch produksi yang tidak bagus, atau juga proses sortasi yang tidak sesuai prosedur. Kemungkinan ada biji kopi jelek yang ikut di roasting. Ini perlu menjadi perhatiaan produsen saat melakukan roasting. Prinsip Garbage in garbage out berlaku. Mudah-mudahan hanya batch produksi ini saja yang kurang baik.

Pada sampel lain kopi Wamena produksi Maharaja Coffee yang dijual oleh Serambi Botani IPB, Botani Square IPB, ukuran biji kopi seragam tetapi terdapat beberapa pecahan biji. Produsen mndeskripsikan produk sebagai: wild, winy, medium acidity, full body. Deskripsi wild agak rancu dan sepertinya untuk keperluan marketing bukan deskripsi rasa. Keterangan di kemasan, Papua merupakan salah satu hutan hujan perawan yang masih tersisa di dunia, karena itu kopi wamena mereka sebut wild atau liar. Tentu klaim masih bisa diperdebatkan.

Rasanya ok hanya harga jual tidak ok, lumayan menguras kantong. Tidak ada keterangan apakah ini kopi jenis Arabika atau Robusta di kemasan walau kita tahu kopi dari Wamena merupakan jenis Arabika dan uji rasa mengkonfirmasi hal tersebut. Perbedaan arabika dan robusta sangat mendasar karena merupakan dua spesies bereda dengan karakter berbeda. Penting untuk mencantumkan jenis kopi pada kemasan.

Ukuran kemasan 100 g yang menurut saya sudah pas. Ukuran kemasan seperti bisa untuk 10-12 cangkir. Jadi sampai saat cangkir terakhir kesegaran fresh roasted coffee masih terjaga. Usahakan anda membeli kemasan dengan ukuran 100 g. Pada kemasan juga terdapat katup satu arah. katup ini berfungsi mengeluarkan karbondioksida (CO2) dari kemasan yang diproduksi biji, dan mencegah oksigen (O2) untuk masuk ke dalam kemasan agar produk tetap terjaga kesegarannya selama beberapa waktu.

Kopi Wamena produksi Maharaja Coffee untuk Serambi Botani

Kopi Wamena produksi Maharaja Coffee untuk Serambi Botani

Katup (valve) satu arah pada bagian atas kemasan sudah menjadi standar kemasan roasted coffee.

Katup (valve) satu arah pada bagian atas kemasan sudah menjadi standar kemasan roasted coffee.

Ukuran biji kopi relatif seragam dan warna hasil roasted seragam medium-dark.

Ukuran biji kopi relatif seragam dan warna hasil roasted seragam medium-dark.

Koleksi ketiga merupakan kopi wamena yang saya dapatkan secara cuma-cuma dari Ventura Coffe saat mereka pameran di Coteca Hamburg tahun 2012. Silahkan baca liputan tentang Coteca pada tulisan lainnya. Ternyata, kemasan belum saya buka dan belum tanggal kadaluarsa walau sudah setahun lebih dari saat roasting. Juga tidak ada keterangan arabika pada kemasan. Apakah rasa dan aromanyanya benar kopi arabika? hmmm saya harus coba dulu. Kalau rasanya masih layak, sepertinya akan ada sesi minum kopi spesial Wamena di lapak 321 dalam waktu dekat. Kita uji apakah kemasan dengan valve satu arah ini bisa mempertahankan kesegaran kopi bahkan setelah setahun lebih. Tunggu kabar lebih lanjut dari saya ya…….

Ventura Coffee produksi PT Fortunium. Berat 200g

Ventura Coffee produksi PT Fortunium. Berat 200g

Belum Kadaluarsa menurut kemasan.

Belum Kadaluarsa menurut kemasan.

Katup satu arah.

Katup satu arah.

Location: Göttingen, German

Time: May 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s