Kopi Aceh

Dari wilayah paling timur Indonesia kita langsung menuju wilayah paling barat, dibagian ujung Sumetra. Aceh. Nama resminya Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang mempunyai arti negeri yang tentram dan dirahmati oleh Allah. Sebuah Daerah Istimewa selain D. I. Yogyakarta. Istimewa karena sejarah, kebudayaan dan kekayaan alamnya. Bisa dibilang satu-satunya daerah yang tidak bisa dikuasai oleh Belanda di Indonesia selain D. I. Yogyakarta saat zaman penjajahan.

Salah satu keistimewaan yang dimiliki Aceh adalah kopi. Kopi yang terkenal adalah kopi Gayo. Merk Gayo ini sempat menjadi masalah dengan Belanda karena Belanda membuat patent merk Gayo. Das ist komisch. Masyarakat Aceh tidak boleh menjual kopi dengan menggunakan kata Gayo. Lah jelas-jelas Gayo adanya di Aceh, Indonesia. Melalui perjuangan rekan-rekan di sana akhirnya Aceh bisa menjual kopi Gayo ke luar negeri dan Belanda pun tidak bisa berbuat apa-apa mengenai hal itu. Bahkan, kopi ini merupakan salah satu kopi favorit dunia. Dari media saya baca, bahkan pengusaha kopi di Aceh sendiri kadang sulit untuk mendapatkan kopi Gayo.

Sebenarnya kopi yang merujuk kata Gayo pun kurang tepat. Apalagi kata kopi Aceh, tidak bisa mendeskripsikan kopi yang dimaksud. Aceh memiliki kopi berasal dari Gayo, Ulee Kareng dang Atu Lintang. Untuk green bean saya memiliki sampel dari daerah Bener Meriah, belum sempat diroasting jadi belum tahu rasanya bagaimana. Rekan kuliah di Goettingen, bang Ikhlas menjelaskan sebenarnya yang disebut kopi Gayo itu adalah kopi takengon, tempat tinggalnya. Dari beberapa situs saya perhatikan sepertinya Gayo sendiri merujuk ke etnis dan meliputi wilayah yang luas. Jadi mungkin lebih tepatnya kopi Takengon. Tapi sementara kita sebut saja dulu dengan kopi gayo. Masalah ini juga mirip dengan yang terjadi dengan penamaan Toraja-Kalosi yang masih diperdebatkan.

Ilustrasinya begini. jika orang Sumut di tanya, dari mana, lalu dijawab dari Medan. Medannya mana? Deli Serdang. Atau juga di Jawa misal di tanya dari mana, lalu dijawab dari Solo. Solonya mana? Sragen. Eyyaaaa. Mudah-mudahan anda menangkap maksud saya.

Dari media sosial saya berkenalan dengan beberapa aktifis kopi Aceh, sebagian dikenalkan oleh Bang Ikhlas. Salut juga banyak anak muda turun tangan untuk membantu petani dan memasarkan kopi dari Aceh. Tentu untuk pengembangan sebuah komoditas tidak mudah, meliputi masalah teknis, sosial dan ekonomi masyarakat.

Kopi Gayo menurut saya termasuk kategori “berat”. Minum kopi ini tidak bisa cepat-cepat, kecuali mungkin orang Takengon seperti reka saya tersebut🙂 Mungkin ini yang menyebabkan kopi ini menjadi incaran konsumen dari luar negeri. Membuat anda langsung greng. Kopi juga sudah menjadi kebuudayaan masyarakat Aceh. Banyak “keputusan” dan lobi-lobi penting dilakukan di kedai kopi. Menurut rekan saya disana, dari orang kecil sampai pembesar negri lebih mudah ditemui di kedai kopi daripada di kantornya. Hmmm menarik… saya sendiri belum pernah menjejakkan kaki ke tanah Serambi Mekah ini, sepertinya akan menjadi pengalaman yang menarik. Apalagi bisa mencicipi Mie Aceh Razali yang tersohor itu. Di Bogor dulu saya kadang mampir di warung mie aceh Bangladesh. Ada juga merk mie aceh franchise baru, tapi masih kurang maknyus.

Keterangan lokasi Gayo.

Keterangan lokasi Gayo.

Kopi gayo dari Serambi Botani IPB.

Kopi gayo dari Serambi Botani IPB.

Kopi Gayo pertama produksi Maharaja Coffee untuk Serambi Botani IPB dengan berat kemasan yang pas 100 g. Deskripsi: Floral, spicy, medium acidity, full body, balanced.  Kopi diproduksi secara organik walau tidak ada sertifikat organik di kemasan. Produk ini bisa didapat di Botani Square, Bogor.

Sample kedua Gayo Arabika dari Ventura Coffee yang saya dapatkan saat Coteca 2012 di Hamburg, German. Kemasan menggunakan dua bahasa, Inggris dan China (atau kanji Jepang? keine ahnung). Menunjukkan bahwa produk ini ditujukan untuk pasar ekspor. Tidak terdapat certifikat produk dari fair trade, forest aliance dan sebagainya. Untuk kemasan untuk target konsumen luar negeri, sudah seharusnya memiliki sertifikat-sertifikat ini untuk dapat bersaing. Juga kemasan ini tidak terdapat sertifikat dari Indonesia seperti SNI, Depkes MD dan PIRT. Entah memang belum diurus sertifikat produknya atau hanya untuk kemasan untuk keperluan pameran. Menurut saya, walau “hanya” pameran, justru penting untuk melengkapi produk kopi dengan sertifikat-sertifikat yang mulai menjadi item marketing dan keputusan pembeli kadang sangat ditentukan oleh keberadaan sertifikat. Apalagi untuk konsumen di German yang sebagian fanatik dengat sertifikat produk. Mengenai biji kopi, biji berukuran relatif seragam dengan hasil roasting medium. Rasa dan aroma ok. Tetap saja, ketika memutuskan membeli, konsumen melihat kemasan terlebih dahulu.

Kemasan menggunakan klip.

Kemasan menggunakan klip.

Kopi Gayo dari Ventura Coffee.

Kopi Gayo dari Ventura Coffee.

Sample ketiga adalah kopi Atu Lintang. Kopi ini saya kenal pertama kali di Graha kopi. Kopi Atu Lintang ternyata dari derah Gayo juga. Hmmm.. sepertinya pemerintah daerah perlu mendeferensiasi asal daerah kopi Aceh karena memang rasa dan aroma kopi yang berbeda. Sama kasusnya seperti ubi cilembu dan sukabumi. Hasil roasting seragam karena ditangani dengan serius oleh Pak Hadi sebagai pemilik tempat. Aroma kopi terasa mantab, keasaman juga medium jadi tidak terlalu berat, after taste juga ok. Hanya karena saya salah melakukan penyimpanan, aroma kopi menurun drastis dalam waktu singkat. Schade.

Kopi Atu Lintang produksi Graha Kopi.

Kopi Atu Lintang produksi Graha Kopi.

IMG_8281

IMG_8286

Kopi berikutnya adalah Ulee Kareng. Saya mencoba kopi ini pertama kali saat ujian Toefl IBT di ETS Plaza Sentral Sudirman untuk keperluan berburu beasiswa sekolah. Kopi Ulee Kareng dipasarkan oleh warga Aceh yang berada di Jakarta. Harga agak lumayan tetapi sesuai dengan kualitas dan juga untuk mendongkrak perekonomian petani. Kopi ini bisa dibeli di Dapoe Aceh Melayu yang berada di lantai dasar gedung. Tentu menu masakan yang saya pesan adalah mie aceh🙂. Menikmati Mie Aceh buatan orang aceh dengan menikmati segelas kopi Ulee Kareng, lumayan menghilangkan kepenatan setelah ujian cas cis cus Toef IBT selama 4 jam berturut-turut. Sayang karena menikmati menu yang disajikan sampai tidak ingat untuk mengambil fotonya. Saya pernah mendapat oleh-0leh kopi Ulee Kareng dari kolega dari Aceh, tapi tidak ketemu saat melakukan stock opname. Ada lagi kopi Solong dari Aceh tapi saya belum pernah berkenalan dengan kopi tersebut.

 

Location: Göttingen, German

Time: May 2014

 

3 thoughts on “Kopi Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s