Hasil Uji Kopi Wamena

Pada tulisan sebelumnya, saya menemukan bungkus kopi Wamena yang masih belum dibuka. Kopi tersebut saya peroleh saat Coteca 2012. Tertera tanggal kadaluarsa masih sampai bulan juni 2014. Sooo, unpacking dimulai. Biji kopi terlihat bagus, ukuran seragam dan hasil roasting medium dark. Tidak ada aroma khas kopi lagi. Biji selanjutnya di grind menggunakan grinder elektrik, saya sedang malas menggunakan grinder manual. Biji di grind sampai tingkat kehalusan espresso, waktu kerja tidak sampai 10 detik. Hasil grind berupa bubuk kopi juga tidak menimbulkan bau khas kopi. Sebanyak satu cup takaran kopi atau sekitar 8 g bubuk kopi saya seduh atau pouring menggunakan air panas dan diamkan sekitas 5 menit. Takaran selanjutnya dibuat espresso menggunakan mesin espresso Philips Saeco kelas home espresso. Pada gambar, ekstraksi menggunakan espresso terlihat terdapat lapisan berwana coklat pada permukaan kopi yang disebut crema.

Kualitas penampakan hasil roasting bagus.

Kualitas penampakan hasil roasting bagus.

Selanjutnya kopi di slurping. Hasilnya? flat, datar alias hambar. Wajar mengingat umur kopi yang bisa dibilang sudah menjadi fosil kopi. Jadi walaupun di kemasan tertera belum kadaluarsa, ini menunjukkan sudah tidak layak konsumsi. Jadi batal undangan saya untuk menikmati kopi Wamena di warkop 321. Satu hal yang perlu menjadi perhatian, kopi dikonsumsi karena aroma dan rasa, bukan karena pahit atau kafein. Kopi tidak sama dengan kafein. Kalau hanya mau konsumsi kafein, bisa minum minuman berenergi, which is not recommended. Sudah banyak kejadian orang meninggal karena mengkonsumsi minuman berenergi secara tidak bertanggungjawab, so jalankan hidup sehat. Saya mulai menyadari hal ini saat ada adik kelas meninggal karena rutin mengkonsumsi minuman berenergi untuk membantunya beraktifitas. Dan dari berita banyak kisah serupa seperti ini.

Loh kok kopi tidak identik dengan kafein? Jawabnya adalah ya. Kopi bisa dibuat sebagai decaf, alias kafein mendekati 0%. Teknik ekstraksi juga menentukan. Mesin espresso menghasilkan kafein yang lebih sedikit daripada alat brewing lainnya. Species juga berpengaruh. Robusta mempunyai kadar kafein sekitar 2-3% dan Arabica kisaran 1%. Teknik roasting juga mempengaruhi kadar kaffein. Jadi, dengan teknik benar kita bisa mendapatkan kopi yang kita minum dengan kadar kaffein rendah. Hidup menjadi lebih sehat. Tidak mengherankan orang Italia bisa mengkonsumsi 3-5 gelas espresso per hari, jumlah yang dianggap normal dan jumlah kaffein masih dibawah ambang yang bisa diterima oleh tubuh (dan jantung). Mereka mempunyai kualitas mesin espresso terbaik di dunia.

Uji organoleptik.

Uji organoleptik.

Jadi sekali lagi, orang mau membeli kopi mahal-mahal karena aroma dan rasa. Ukuran kadaluarsa kopi seharusnya dihitung dari tanggal roasting. Jadi yang harus dicantumkan adalah tanggal roasting pada kemasan. Maksimal 2 minggu setelah roasting masih bisa dianggap fresh roast. Untuk standar saya pribadi, 5 hari setelah roasting sudah bisa dianggap maksimal. Saya merasakan aroma dan rasa yang mulai menurun setelah masa penyimpanan 5 hari. Dan saat terbaik pada 1-2 hari setelah roasting. Aroma dan rasa maksimal pada periode ini untuk selanjutnya menurun. Penyimpanan dalam kemasan hanya membantu sedikit saja. Analogi sama seperti krupuk dan kripik. Ukuran kadaluarsa krupuk dan kripik adalah saat sudah melempem tanpa perlu terkena jamur dan sejenisnya.

Hal yang menarik, saya merasakan sensasi asin pada espresso. Tentu rasa lebih kuat pada kopi hasil ekstraksi espresso. Crema terbentuk banyak dan bagus. Tapi tetap aroma dan rasa sudah menurun drastis. Rasa kopi sudah hampir hilang. Hambar. Jadi pastikan kopi yang anda konsumsi benar-benar fresh untuk kenikmatan yang maksimal.

Location: Göttingen, German

Time: May 2014

6 thoughts on “Hasil Uji Kopi Wamena

  1. Ooohh tenang Lenti, kopi mandahiling sudah dalam urutan publikasi, tunggu penampilannya hehehe aku ada beberapa sample biji hijau dari sumut yang belum di roast, mungkin bisa jadi berasal dari tempatmu🙂

  2. Kami atas nama KSU Baliem Arabica produsen Kopi Wamena minta maaf atas kejadian ini. kami perlu sampaikan bahwa kendala transportasi dan logistik dari Tanah Papua ke Makassar saja sudah setengah mati. Lebih mudah dari Manado ke Singapura atau Makassar ke KL daripada dari Jayapura ke Makassar. Belum lagi transportasi dari Wamena ke Jayapura.

    Perlu diketahui bahwa pada saat ini ada banyak tengkulak yang mempermainkan nama “Kopi Wamena”, sama dengan beberapa tahun lalu mereka mempermainkan Kopi Luwak, sampai harganya hancur gara-gara itu. Saat ini Kopi Wamena sedang naik daun, tetapi sedang dihantam oleh para pemain tidak bertanggung-jawab.

    Dan herannya, para tengkulak itu kebanyakan berada di birokrasi pemerintahan Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat dan Kabupaten-kabupaten, terutama Kabupaten Jayawijaya dan kabupaten pegunungan tengah lainnya. Tanyakan saja kepada para Bupati dan Gubernur. Kalau mereka menyangkal itu keterlaluan.

  3. terimakasih bbcoffee atas infonya. Ya benar akses wamena ke luar tidak semudah itu walau bukan sesuatu hal yang mustahil. Tentu perlu support dari pemerintah daerah untuk mempermudah pengangkutan dari kebun ke bandara wamena, lalu ke jayapura dan seterusnya. Mengenai pemain tidak bertanggungjawab, saya sendiri mempunyai pengalaman pribadi. Sample kopi yang dikirim tidak sesuai dengan yang dijanjikan, dan setelah mereka menerima pembayaran lalu menghilang tidak bisa dihubungi lagi untuk konfirmasi. Hal-hal ini yang membuat pemasaran kopi kita terkendala diluar negeri. Padahal seandainya berbisnis dengan fair dan jujur, rejeki akan terbuka luas. Tipu-tipu hanya mengurangi rejeki. Kalau boleh tahu, seperti apa cara “permainan” pemain tidak bertanggungjawab tersebut? Saat ini saya sedang meneliti cara untuk otentikasi kopi berdasarkan origin dan spesies untuk mencegah penipuan2.

  4. Cara penipuan 1. Ada yang menyebut nama Kopi Wamena tetapi sebenarnya dicampur dengan kopi arabika lain; 2. Ada yang sebenarnya campuran kopi wamena dan kopi robusta; 3. Ada yang sama sekali kopi non-Wamena, tetapi mereka menyebutnya Kopi wamena. Misalnya Kopi Moanemani, Kopi Arfak, Kopi Pegunungan Bintang juga disebut Kopi Wamena; 4. Yang paling jahat Kopi non-Papua, tetapi aroma dan rasanya hampir mirip (saya tidak menyebutnya) dan mereka menyebutnya Kopi Wamena. Ya, banyak penikmat Kopi tertipu, tidak sedikit pebisnis Kopi juga tertipu.

    • Info yang menarik Pak Jhon Kwano, perlu kerjasama agar Kopi Wamena dapat dikembangkan dan membawa kesejahteraan untuk warga yang menanamnya. Salah satunya perlu advokasi untuk menghindari tipu-tipu tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s