Simit

Hmmmmm puasa-puasa gini enaknya diskusikan mengenai makanan nih😉 tanpa keributan, tanpa gontok-gontokan dan tidak ada yang keberatan. Produk roti beragam ditiap negara. German sendiri memiliki lebih dari 600 jenis roti berbeda (jumlah pasti sulit diketahui karena ada produk yang sama tapi memiliki nama berbeda di lain negara bagian), garis besarnya ada yang disebut Brot untuk sebutan roti dengan ukuran besar dan Brötchen beserta segala produk turunannya. Jadi tidak heran kalau kita berkunjung ke BĂ€ckerei, gerai tempat menjual produk roti beserta kue-kue lain (tentu minuman termasuk kopi dan teh) kita akan menemukan banyak pilihan roti dan kue. Juga di rak-rak supermarket, untuk anda pecinta produk roti, disini surganya. Saya tidak pernah menemukan produk sebanyak ini di negara kita.

Pedagang simit di pasar kaget dengan gerobak penuh simit.

Pedagang simit di pasar kaget dengan gerobak penuh simit.

Negara lain dengan kebudayaan roti adalah Turki. Gandum sebagai salah satu bahan untuk membuat roti sudah ada di Turki mulai dari 4000 tahun SM berdasarkan info di Museum Archaelogi Turki. Mereka sudah mengenal budaya roti dari dahulu kala. Mereka juga produksi tepung terigu. Saya pernah mengikuti pamerannya di Jakarta saat awal-awal mereka ekspansi ke Indonesia. Tetapi entah sekarang sepertinya kalah saing dengan produk tepung dari negara lain. Pengimpor terigu terbesar di Indonesia masih dipegang oleh Bogasari dengan anek aproduk tepungnya. Kita masih belum bisa memproduksi gandum sendiri walau sudah ada beberapa varietas yang bisa menghasilkan gandum tetapi belum bisa dalam skala menguntungkan.

Salah satu produk roti Turki yang terkenal disebut Simit. Roti empuk dengan taburan wijen, aroma wangi dan harum, gurih, saat digigit perpaduan lemburt dan renyah. Apalagi ditemani teh turki dengan sajian gelas khasnya dan rasa sepat yang kuat (hayoooo puasa jangan dibayangkan😉. Simit mudah ditemui dimana-mana di Istanbul, Turki. Seperti produk gorengan di Indonesia, disetiap jalan bisa didapatkan.

Roti simit dengan  taburan wijen.

Roti simit dengan taburan wijen.

Simit pertama yang saya coba saat berkunjung ke pasar kaget Juma’at pagi. Ya sungguh menakjubkan, suasana pasar kaget sama seperti di Indonesia dan hanya ada saat Jum’at pagi. Segala macam barang ada dengan harga yang bisa ditawar. Tentunya situasi ini sangat familiar untu orang Indonesia🙂. Di tengah pasar, ada penjual simit dengan gerobaknya yang penuh dengan roti. Sebagai pecinta roti, saya tentu penasaran untuk mencobanya. Harga rata-rata 1 Lira (1 euro = 3 Lira) jadi relatif murah. Setelah mencoba, maknyus dan ketagihan juga. Setiap ada kesempatan, saya tidak sungkan untuk beli lagi. Selain itu, simit harganya paling murah dibanding jenis roti lain, pas lah untuk kantong mahasiswa. Mengenyangkan, hemat dan enak, kombinasi yang optimum.

Bersih-bersih menjelang toko tutup

Bersih-bersih menjelang toko tutup

Suasana gerai

Suasana gerai

100_8897

Gerai simit sarayi Istanbul, Turki

Gerai simit sarayi Istanbul, Turki

100_8908

100_8909

100_8911

Setelah jalan seharian, malam sambil istirahat saya istirahat di gerai Simit Sarayi. Tempatnya nyaman, elegan dan yang penting murah. Simit tetap berharga 1 Lira disini. Simit Sarayi bisa anda temui dibanyak tempat di istanbul. Lokasi yang kita kunjungi berada di perempatan jalan sehingga bisa memperhatikan denyut kehidupan Istanbul malam hari. Kesibukan orang lalu lalang sama persis dengan Jakarta sehingga anda tidak akan merasa asing disini. Sambil menikmati suasana, simit dipadu dengan teh dan kopi turki merupakan pilihan yang menarik.

2014-03-09 18.49.50 2014-03-09 18.50.04

Kopi turki dan simit

Kopi turki dan simit

 

Location: Istanbul, Turki

Time: Maret 2014

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s