The Journey to the East

Judul di atas sebagai pembuka untuk beberapa cerita berikut, bukan dalam rangka mencari kitab suci seperti dalam cerita silat tetapi pengambilan data kopi mentah di Indonesia. Saya memang melakukan perjalanan ke bagian timur dunia yaitu Indonesia, dan dimulai dari Jawa Barat ke Jawa Timur🙂. Banyak cerita dan indormasi serta pengetahuan baru yang saya peroleh. Dimulai dari persiapan yang terus terang membuat saya khawatir karena saat saya berangkat ke Indonesia bertepatan dengan pengumuman akhir presiden terpilih, syukurnya tidak ada gejolak di tanah air. Saya tiba dua hari sebelum lebaran tahun ini, dan diluar dugaan (seharusnya sudah bisa diduga) seminggu saat lebaran itu saya tidak bisa kemana-mana, kantor tutup juga kolega yang berhubungan dengan kopi sedang berlibur, plus macet parah seantero Bogor dan Jakarta membuat saya harus menunggu untuk mulai beraktifitas mengambil data. Hitung-hitung istirahat menghilangkan jet lag. Juga selama keliling Jawa, bersamaan dengan pembatasan BBM bersubsidi yang menyebabkan antrian truk dan kendaraan di daerah.

Luwak sehat sesuai standar animal welfare

Luwak sehat sesuai standar animal welfare

Di antara pengalaman yang paling seru, saya pilih momen saat saya pertama kali menyentuh binatang luwak atau musang atau careuh. Kenapa saya senang bisa memegang musang, ada ceritanya tersendiri. Saat tinggal di Jakarta, kami memiliki pohon jambu air di rumah. Saat musim berbuah, biasanya satu kali panen besar dan satu kali panen kecil dalam setahun, muncul lah si musang ini di malam hari. Tanda si musang telah datang, atap rumah berbau seperti pandan. Rupanya pipis musang berbau seperti pandan. Kalau si musang sudah datang, terdengar suara gesekan daun di pohon. Kadang saya suka keluar rumah dengan membawa senter, dan terlihat matanya berkilau terkena kilatan sinar senter. Jadilah cepat-cepatan panen dengan si musang. Yang apes tetangga sebelah, seingat saya mereka pernah memelihara ayam, dan sudah bisa ditebaklah apa yang terjadi kalau si musang berbulu ayam….

Menyentuh Musang

Menyentuh Musang

Nah, ketika ada ajakan Bu Hermin untuk melihat luwak peliharaan beliau di daerah Gunung Manglayang, Bandung, ini menjadi tawaran menarik yang tidak bisa dilewatkan. Akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun kemudian setelah melihat binatang ini di Jakarta, saya bisa memegang binatang tersebut secara langsung. Rupanya binatang ini sudah menjadi hewan peliharaan oleh komunitas MLI (musang Lovers Indonesia) yang sudah memiliki cabang di beberapa kota. Mengenai lokasi yang saya kunjungi akan saya bahas kemudian. Musang ini bergerak bebas di dalam lokasi yang bisa dibilang tempat konservasi luwak yang disebut KLM (Kopi Luwak Manglayang) yang mulai banyak penggemarnya. Penasaran dengan cerita KLM ini? nantikan pada beberapa tulisan berikutnya ya…

Luwak dikembangbiakkan dalam lokasi terbuka

Luwak dikembangbiakkan dalam lokasi terbuka

Location: Bandung, Indonesia

Time: August 2014

2 thoughts on “The Journey to the East

  1. pengen komen soal penulisnya aja deh, untuk komen perdana. huehehe…
    kok lo udah ubanan ya, Nan? hihihi… dah gitu aja. kalo lo jadi gemuk sih gue udah terlalu heran, jadi ga usah nanya. huehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s