Bagaimana mengetahui keaslian kopi Luwak?

Isu mengenai kopi luwak selalu menarik untuk dibahas. Selalu ada kontroversi mengenai kopi luwak. Misalnya, bagaimana membuktikan keaslian kopi luwak. Apakah kita yakin kopi luwak yang kita minum tidak dicampur dengan kopi biasa, atau mungkin kopi yang berasal dari hewan lain? apakah benar arabika atau robusta?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih sulit untuk dijawab secara ilmiah. Uji laboratorium masih belum mampu untuk menjawab tantangan ini. Salah satu jalan adalah dengan membuat sertifikat keaslian yang biasanya disebut certificate of origin. Sertifikat origin ini mempunyai bentuk baku dari asosiasi kopi internasional (ICO) untuk jenis kopi arabika dan robusta reguler, tetapi sampai saat ini sepertinya belum ada bentuk baku sertifikat untuk kopi luwak. Saya pernah melihat sertifikat tersebut di pedagang kopi di Hamburg pada sampel kopi luwak dari salah satu daerah di Indonesia. Sertifikat tersebut berisi pernyataan asal kopi tersebut lengkap sampai di desa mana, kemudian dibubuhi tandatangan petani dan perangkat desa. Apakah ini benar-benar bisa menjamin keaslian kopi luwak 100%? sebenarnya tidak juga, tidak ada yang bisa menjamin 100%. Bagaimana jika salah satu petani kopi luwak tersebut nakal dan mencampur dengan kopi biasa demi mengejar keuntungan selangit? tidak ada yang pernah benar-benar tahu.

Konsep pemeliharaan luwak dalam kandang Kopi Luwak manglayang (KLM)

Konsep pemeliharaan luwak dalam kandang Kopi Luwak Manglayang (KLM)

Untuk melindungi petani, pengusaha dan hewan luwak itu sendiri, diperlukan suatu asosiasi untuk menjamin keaslian kopi luwak sampai prosedur baku beternak luwak. Sampai saat ini ada beberapa kelompok petani dan pengusaha kopi luwak tetapi Indonesia membutuhkan asosiasi kopi luwak bersama untuk perkembangan industri kop luwak di masa depan. Asosiasi ini harus bertugas untuk melakukan pembinaan terhadap petani dan pengusaha kopi luwak serta menjamin keaslian kopi luwak yang dihasilkan.

Bagaimana caranya asosiasi bisa menjamin keaslian kopi luwak yang dihasilkan anggotanya kelak. Sekadar pemikiran pribadi — Salah satu caranya adalah dengan penerapan sistem manajemen. Setiap anggota dicatat berapa luwak yang dimiliki, berapa rata-rata biji kopi luwak yang dihasilkan, berapa hari produksi, semua dilakukan sistem pencatatan secara baik dan bisa ditelusuri.

Sebagai contoh, untuk kasus kopi luwak yang dipelihara dalam kandang, secara kasar Luwak bisa menghasilkan 200 gr biji kopi per hari. Jika petani dan pengusaha luwak tersebut memiliki 25 ekor luwak, berarti sekitar 5 kg biji kopi luwak dihasilkan. Luwak tidak mungkin menghasilkan biji kopi sepanjang tahun karena ketersediaan cery merah kopi dalam setahun hanya sekitar 4 bulan. Jadi dalam setahun mungkin hanya dihasilkan sekitar 600 kg biji kopi. Nah jika ternyata kopi luwak yang dijual sebanyak 5 ton, bisa kita duga 4 ton selebihnya adalah kopi luwak palsu.

Konsep pemeliharaan luwak secara liar Kopi Luwak Manglayang (KLM)

Konsep pemeliharaan luwak secara liar Kopi Luwak Manglayang (KLM)

Bagaimana dengan kopi luwak liar? tinggal dihitung berapa kemungkinan luwak yang ada di luasan area kebun, tinggal dihitung dengan cara serupa. Juga harus diketahui ciri kopi yang dihasilkan dari luwak atau mungkin sisa dimakan hewan lain seperti kelelawar.

Dengan cara ini kita akan bisa mengetahui dan menjamin keaslian kopi luwak. Saat saya mengambil data di Indonesia sekitar Agustus tahun 2014, petani dan pengusaha luwak yang saya temui beberapa sudah bergabung dalam Asosiasi Kopi Luwak Indonesia. Anggota yang bergabung belum banyak dalam sepertinya organisasi ini masih terus berkembang. Saat yang bersamaan saya juga bertemu rekan dari Kementerian Pertanian di daerah pegunungan malabar, Bandung yang sedang merancang standar untuk pemeliharaan Luwak. Mudah-mudahan standar pemeliharaan luwak tersebut sudah ada dan terus diekmbangkan dan diterapkan oleh petani dan peternak luwak.

Hal penting lainnya yang harus dilakukan oleh asosiasi luwak adalah melakukan advokasi mengenai kopi luwak, tentu juga sebaiknya dibantu pemerintah. Seperti kita ketahui, kopi luwak mendapat tentangan dari LSM atau media di luar negeri. Mereka melakukan kampanye negatif mengenai kopi luwak, bahwa petani menyiksa hewan luwak. Well, mungkin ya untuk beberapa oknum petani dan pengusaha kopi luwak yang tidak bertanggung jawab. Tetapi banyak petani dan pengusaha luwak melakukan bisnis mereka secara bertanggung jawab dan “berperikeluwakan”😉 Jika mereka menentang produk kopi luwak karena berasal dari hewan dan dianggap menyiksa, kenapa tidak berfikir yang sama agar terkesan adil, bagaimana mereka “menyiksa” ayam untuk mendapatkan telur atau mendapatkan susu dari sapi?

Nantikan pada tulisan lainnya, saya akan membuktikan bahwa luwak bisa dipelihara dengan “prikeluwakan”.

Location: Göttingen, German

Time: Juni 2015

2 thoughts on “Bagaimana mengetahui keaslian kopi Luwak?

    • Ya bang Rahmat, memang ada beberapa penelitian mencoba mencari apa yang bisa menjadi pembeda antara kopi luwak dan bukan, seharusnya ada struktur kimia yang berbeda, tetapi penelitian2 tersebut masih terlalu sedikit untu bisa mengarah ke kesimpulan umum dan kemudian uji cepat seperti E-nose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s