Hambatan pada Pengembangan Industri Kopi Luwak

Pengembangan kopi luwak mengalami beberapa hambatan yang perlu dihadapi oleh para stake holder. Beberapa hal yang dapat saya identifikasi merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman di lapang, masih perlu diuji melalui penelitian lanjutan. Hal mendasar yang harus diingat adalah adagium “selera tidak bisa diperdebatkan”. Kita tidak bisa memaksa orang untuk menyukai atau tidak menyukai kopi luwak. Hal yang bisa dilakukan adalah mengidentifikasi apa yang menyebabkan orang menyukai dan tidak menyukai kopi luwak, dan kita konsentrasi kepada hal tersebut. Biarkan konsumen mencicipi kopi luwak, kemudian memutuskan untuk menyukai atau tidak menyukai kopi luwak. Menurut saya, hal utama yang sering luput adalah memisahkan kopi luwak dari jenis komoditi kopi reguler. Loh kenapa begitu? Begini pemikiran saya. Bahkan kopi jenis Arabika dan Robusta tidak berada dalam satu jenis perdagangan yang sama. Karakter komoditas yang berbeda serta harga yang berbeda menyebabkan karakter konsumen yang menikmati kopi Arabika dan Robusta berbeda. Demikian juga kopi luwak. Kopi luwak merupakan produk pangan hasil sekresi hewani (entah istilah ini tepat atau tidak), walau tidak sama jenisnya seperti telur dari ayam atau susu dari sapi. Sudah pasti karakter kopi luwak (dari jenis Arabika atau Robusta) akan berbeda dengan kopi reguler Arabika dan Robusta, dan kita bisa harapkan karakter konsumen yang berbeda pula. Mengenai rasa, sudah jelas berbeda antara kopi luwak dan kopi reguler, suka atau tidak suka rasanya kembali lagi ke adagium “selera tidak bisa diperdebatkan”.

Kopi luwak asli produksi Kopi Luwak Manglayang (KLM)

Kopi luwak asli produksi Kopi Luwak Manglayang (KLM)

Kita tahu bahwa kopi luwak memiliki harga premium sehingga sasaran pemasaran adalah konsumen premium juga. Gampangnya, bayangkan saja penjualan tas Hermes yang harganya mencapai puluhan bahkan ratusan juta dengan tas biasa yang harganya hanya jutaan, ratusan ribu bahkan hanya puluhan ribu rupiah saja. Beda barang, beda kualitas, beda kelas. Bukan berarti orang yang dari golongan ekonomi menengah ke bawah tidak bisa membeli tas Hermes, selama ada uang dan suka bisa beli. Dan bukan juga orang di golongan ekonomi menengah ke atas pasti membeli tas Hermes, kalau tidak suka dan uangnya untuk keperluan lain yang lebih penting, tidak akan membeli. Demikian juga kopi luwak. Sekarang, setelah kita mulai memahami karakter konsumen kopi luwak yang suka dan ada kemampuan membeli produk premium, tentu muncul tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi sebagai konsekuensi yang bisa menjadi hambatan bagi industri kopi luwak. Pertama, keaslian kopi luwak. Ini masih menjadi tantangan besar. Seperti yang dibahas pada artikel sebelumnya, uji laboratorium masih belum bisa menjawab tantangan ini, diperlukan sistem sertifikasi yang mumpuni. Pemalsuan produk kopi luwak atau pencampuran dengan kopi bukan luwak sangat mengganggu dan merugikan petani dan pengusaha kopi luwak asli yang sudah mengeluarkan biaya besar untuk memproduksi kopi luwak. Pemalsuan juga merugikan konsumen, membeli dengan harga mahal untuk barang palsu. Termasuk kesalahan pemahaman masyarakat mengenai kopi merek luwak. Beberapa kopi sachet di pasaran dengan harga seribuan saat ini menggunakan merek luwak. Tidak ada yang salah secara hukum karena memang tidak ada peraturan yang mengatur mengenai hal ini. Sayangnya banyak masyarakat yang menganggap merasa sudah meminum kopi luwak. Padahal kalau di cek kandungan bahan pada kemasan tidak ada penyataan mengenai bahwa itu benar kopi luwak. Nah penggunaan merek dan gambar luwak ini perlu didiskusikan oleh para stake holder tanpa perlu ada pihak yang merasa dirugikan. Sebagai contoh pernah ada peraturan (saya tidak tahu apakah masih ada atau tidak peraturan tersebut), misal jika kita menjual minuman “rasa” mangga, tidak boleh mencantumkan gambar mangga pada kemasan karena bisa memberikan informasi yang salah bahwa minuman tersebut dari sari mangga asli, padahal hanya air diberi perisa mangga dan bahan lain. Tentu hal tersebut merugikan produsen yang menjual sari mangga asli, harga tidak akan bersaing. Tidak ada yang salah dengan menjual minuman dengan rasa mangga atau dari sari mangga asli, yang terpenting adalah informasi yang diberikan benar dan tidak menyesatkan.

Menikmati kopi luwak di Saung Cikawari KLM

Menikmati kopi luwak di Saung Cikawari dengan suasana asri dan segar di Kopi Luwak Manglayang (KLM)

Kedua, animal welfare. Salah satu hambatan perdagangan kopi luwak untuk pasar luar negeri adalah mengenai kesejahteraan luwak. Ada beberapa video yang bisa disaksikan di youtube, bagaimana luwak disiksa di kandang yang kecil dan jorok. Luwak tersebut stress dan sakit-sakitan. Memang ada beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab dengan “mengkomersialkan” luwak. Luwak dipaksa makan kopi dengan tanpa diperhatikan kesejahteraannya. Mungkin mereka melakukan itu karena kurang pengetahuan dan pembinaan, dan hanya sebagian kecil saja. Banyak petani dan pengusaha yang sudah menerapkan konsep animal welfare untuk luwak dan ini yang tidak atau jarang diliput oleh media luar negeri. Saya mencoba untuk sedikit berkontribusi dengan cara membuat video yang menjelaskan mengenai konsep animale walfare yang diterapkan oleh Kopi Luwak Manglayang (KLM) di link video youtube postharvestnotes. Mudah-mudahan dapat membantu mengkonter isu-isu negatif yang dilontarkan serta meyakinkan konsumen luar negeri. Ketiga, harga. Tidak bisa dihindari kopi luwak asli pasti mahal karena perawatan luwak yang mahal serta keunikan produk. Sebenarnya mengenai harga tidak masalah, tinggal penerapan strategi marketing seperti ceruk pasar mana yang harus dibidik, membuat kemasan kecil sehingga terbeli oleh khalayak ramai. Misal, jika harga jual kopi luwak pada umumnya 1 juta per kg, tentu orang pada umumnya berat membeli, tetapi jika dijual dalam kemasan 50 gr dengan harga 50 rb tentu lebih terjangkau. Sebenarnya kemasan 50 gr bisa untuk 5 gelas kopi, lebih murah daripada minum di gerai kopi yang satu cangkirnya saja bisa mencapai minimal 30 rb. Sementara 3 masalah utama dulu ya, jika hal ini sudah bisa dihadapi, harapannya industri kopi luwak dapat menjadi industri yang stabil dan memberikan kehidupan yang layak untuk para stake holder, termasuk hewan luwak itu sendiri.

Location: Göttingen, German

Time: Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s