Bibit Somaklonal VS Benih konvensional Kakao

Salah satu hal baru saat Temu Lapang Kakao 2009, diperkenalkan bibit somaklonal kakao. Bibit dengan perbanyakan somaklonal diklaim bisa diperbanyak secara cepat. Negara kita memang membutuhkan bibit kakao dalam jumlah banyak karena banyak tanaman yang terkena penyakit atau tua sehingga produktifitas menurun. Teknologi baru tersebut tentu menjanjikan. Hanya tetap menjadi pertanyaan, yang saya ajukan ke salah satu peneliti somaklonal saat itu. Pertanyaannya adalah, bibit somaklonal berasal dari bahan tanaman yang dianggap unggul, kemudian disebar ke seluruh Indonesia dalam jumlah banyak dan singkat. Nah, bagaimana kita dapat menjamin bahwa bibit yang bisa dipastikan atau dianggap memiliki sumber genetik yang sama, akan bisa bertahan dan tetap berproduksi secara baik pada agroekosistem yang berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia? Karena klon atau varietas A bisa berproduksi secara baik pada lokasi A, dan belum tentu berproduksi baik pada lokasi B, atau C atau D dan seterusnya. Sekarang tahun 2015, seharusnya sudah ada data produksi yang bisa diambil untuk menyatakan apakah proyek pengadaan bibit tersebut berhasil dengan baik ataukah perlu evaluasi lebih lanjut. Tanaman kakao mulai berproduksi dengan baik setidaknya mulai tahun ke-3, jadi data beberapa tahun ini bisa dijadikan acuan secara ilmiah.Saya tidak mengikuti perkembangan teknologi baru ini, tetapi  saya yakin para peneliti dan pengembang teknologi somaklonal mempunyai mekanisme untuk mengetahu bahan tanaman (klon) mana yang perlu dikembangkan dan lokasi mana dan jumlah berapa.

Pengembangan bibit somaklonal yag cukup menjanjikan untuk memperbanyak tanaman dalam jumlah banyak dan waktu singkat

Pengembangan bibit somaklonal yag cukup menjanjikan untuk memperbanyak tanaman dalam jumlah banyak dan waktu singkat

Teknologi bibit somaklonal tersebut mirip dengan kultur jaringan. Tentu ini merupakan teknologi yang menjanjikan untuk memperbanyak bahan tanaman dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. Kerjasama antara para petani sebagai pengguna bibit tanaman, peneliti dan penyuluh tentu diperlukan untuk mendapatkan data-data demi perbaikan industri kakao di tanah air.

Klon unggul kakao bermacam-macam. Pastikan bahan tanaman yang sesuai dengan lokasi kebun

Klon unggul kakao bermacam-macam. Pastikan bahan tanaman yang sesuai dengan lokasi kebun

Pengembangan bibit konvensional, dengan mendapatkan benih dari pohon atau klon unggul, membutuhkan penanganan khusus mulai dari panen buah, pencucian lendir sampai pemisahan benih dan pengepakan untuk dikirim ke daerah tujuan. Pengepakan juga dilakukan dengan teknik khusus agar benih tetap vigor atau daya tumbuh tetap tinggi ketika sampai di lokasi tujuan. Tentu bahan tanaman yang di tanam di lokasi tertentu juga tetap harus di monitor untuk mengetahui apakah cocok atau tidak ditanam di daerah tersebut.

Pemukul pod untuk membuka buah dan menganbil benih

Pemukul pod untuk membuka buah dan mengambil benih

Pencucian lendir dan pensortiran benih

Pencucian lendir dan pensortiran benih

Benih siap dikirim dengan penambahan serbuk gergaji atau sekam padi untuk menjaga kelembaban

Benih siap dikirim dengan penambahan serbuk gergaji atau sekam padi untuk menjaga kelembaban

Location: Jember, Jawa timur

Time: Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s