SLPTT Kedelai dan Jagung (Bag 2)

Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) dilaksanakan untuk komoditas padi, kedelai dan jagung karena merupakan komoditas utama dan saat itu dibutuhkan produksi yang cukup untuk menghindari impor. Saya dan rekan saat itu tahun 2009 mendapat tanggungjawab untuk mengelola komoditi kedelai dan jagung. Saat itu negara kita mengalami masalah dengan luas tanam serta produktifitas dan produksi kedelai, Saat itu tahun 2009, berdasarkan data statistik Indonesia mengekspor kedelai sebanyak 446,001 ton dengan nilai US$ 341.923 dan mengimpor 1,3 juta ton dengan nilai US$ 621.281. Dari data tersebut jelas terlihat kita kita net importir, dan kondisi tersebut berlangsung selama beberapa tahun. Tentu perlu usaha untuk memproduksi kebutuhan dalam negeri, kalau tidak devisa negara akan tergerus dan kita akan menjadi tergantung terhadap suplay dan harga dari luar negeri. Kondisi ini tentu menjadi bahaya untuk ketahanan pangan.

Seperti dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, program ketahanan pangan pemerintah, dengan program dan nama yang bisa berbeda, maksud dan tujuannya tentu menyediakan pangan untuk rakyat. PTT tentu merupakan perbaikan dan pengembangan dari program-program sebelumnya. Setiap program akan selalu dievaluasi dan dikembangkan secara terus-menerus, dan harus dilaksanakan setiap saat oleh pemerintah, dalam hal ini salah satu eksekutornya adalah Kementerian Pertanian. Kalau kita bicara mengenai ketahanan pangan, tentu bicara banyak dimensi dan sudah pasti banyak stake holder yang terlibat, bukan hanya Kementan.

Paket PTT (sumber: Laksono, P., Adnan. 2011. The economical feasibility of soybean farming with the integrated crop management (ICM): case study at Nimbokrang District Jayapura. Widyariset 14(2): 267-273.)

Paket PTT (sumber: Laksono, P., Adnan. 2011. The economical feasibility of soybean farming with the integrated crop management (ICM): case study at Nimbokrang District Jayapura. Widyariset 14(2): 267-273.)

Nah, PTT kedelai ini bertjuan meningkatkan produktifitas di lahan petani, dengan menggunakan segala daya upaya mulai dari penggunaan pupuk (termasuk di dalamnya jenis, cara dan waktu pemberian), pestida, jarak tanam, benih, dan lain-lain. Beda dengan Bimas zaman dahulu, ketika program bisa diterapkan dengan mudah karena petani tidak punya pilihan lain, dan ada sedikit “tekanan”. Zaman reformasi ini, kita tidak bisa memaksakan program. Tidak ada yang bisa menyuruh atau memaksa petani untuk menanam kedelai. Atau jika mau tanam kedelai, mau menggunakan anjuran benih dan teknologi yang akan diuji. Hal ini bisa dikerjakan dengan diskusi dan kesepakatan bersama. Bahkan untuk penentuan tanggal tanam pun, kami mengikuti kalender petani yang punya perhitungan sendiri. Mereka punya kearifan lokal yang harus dihargai dan dipahami.

Lokasi tanam untuk PTT kedelai dan jagung ini terletak di distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura. Keren ya di Papua menggunakan istilah distrik seperti di luar negeri😛 Kurang lebih distrik itu sama dengan kecamatan lah kalau di tempat lain. Nimbokrang merupakan wilayah pertanian yang sebagian warganya transmigran. Saya tidak tahu berapa jauh dari Sentani, tetapi kira-kira 1.5 jam perjalanan menggunakan mobil atau motor dan tanpa macet. Pernah juga beberapakali menggunakan motor, tapi keder juga kalau di tengah jalan mengalami ban bocor, terpaksa menunggu truk yang lewat untuk mengangkut ke pom bensin terdekat yang tidak dekat😉 . Sepanjang perjalanan dari Sentani ke Nimbokrang kita akan disuguhi pemandangan yang menurut saya spektakuler, tapi itu nanti lain cerita ya……

Lahan yang terifestasi oleh gulma harus dikendalikan menggunakan herbisida

Lahan yang terifestasi oleh gulma harus dikendalikan menggunakan herbisida

Nimbokrang banyak terdapat petani yang menanam kedelai. Ada juga yang setelah panen langsung tanam lagi. Tidak mudah menaklukkan alam Papua ini. Pembukaan lahan kemudian mengolahnya bukan sesuatu yang mudah. Tetapi para petani tersebut luar biasa, mereka dengan sabar dan tekun mengolah alam untuk menghasilkan sesuatu. Di lokasi yang kita tanami, lahan mengalami serangan gulma yang parah. Terdapat beberapa jenis gulma, sebagian berduri macam Mimosa sp alias sejenis putri malu, nama yang indah tetapi ketika anda menghadapinya di lapang, sesuatu banget terkena duri-duri yang tajam. Tangan tergores duri tidak mengapa, asal jangan hati yang terluka oleh putri malu 😷

lahan tanpa gulma mudah untuk dibajak

lahan tanpa gulma mudah untuk dibajak

Kondisi jadi serba salah. Jika tanah diolah, biji-biji atau tunas gulma yang berada di lapisan bawah tanah akan berpindah ke atas yang akan menyebabkan gulma akan makin menggila. Alternatifnya adalah menggunakan herbisida, jenis pestisida untuk menggendalikan gulma. Jenis herbisida juga harus disesuaikan, pakah gulma yang kita hadapi rumput, teki atau gulma berdaun lebar. Setelah penyemprotan herbisida, butuh waktu beberapa saat agar konsentrasi racun sudah mulai berkurang sehingga lahan bisa ditanami kedelai.

(bersambung…)

Location: Nimbokrang, Jayapura, Papua

Time: Mei 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s