Kopi Bali: IG Pertama

Kopi Bali merupakan kopi yang pertama kali mendapatkan sertifikat Indikasi Geografi (IG) di Indonesia. Salut untuk pihak-pihak yang telah bekerja keras untuk mewujudkan sertifikat IG tersebut, mulai dari puslit koka, pemda setempat, instansi-instansi terkait serta tentu saja petani-petani pemilik kebun dan warga Bali. Sertifikat tersebut sekaligus merupakan sertifikat pertama untuk item IG setelah terbit undang-undang mengenai hal tersebut (UU No.15 tahun 2001 tentang merek serta penyempurnaan PP No.51 2007 tentang perlindungan indikasi geografis.

Dari buku persyaratan indikasi geografis  kopi arabika Kintamani Bali, inisiasi IG dimulai sejak juni 2007 yang melibatkan 61 subak abian (mewakili 3.201 keluarga petani yang berarti mewakili lebih banyak lagi orang anggota keluarga), 4 pengolah swasta dan 2 penyangrai belokasi di Denpasar. Pekerjaan sesungguhnya sudah dikerjakan jauh beberapa tahun sebelumnya. Bisa dibayangkan bagaimana banyak instansi dan pihak bekerja sama untuk mendapatkan sertifikat IG. Syaratnya adalah produk harus memiliki ciri spesifik yang tidak dimiliki pada produk di wilayah lain. Jadi memang harus dilakukan pembenahan mulai dari kondisi pertanaman di kebun (mulai dari cara tanam, bibit varietas tertentu dan seterusnya), teknik pengolahan sampai jadi produk green bean atau roasted bean sehingga menghasilkan ciri khas. Tentu tidak mudah untuk menyamakan persepsi dan merubah kebiasaan-kebiasaan yang ada. Perlu sosialisasi, pertemuan-pertemuan, pelatihan-pelatihan yang semuanya itu membutuhkan waktu, dana dan kesabaran.

20151101_090156_lzn

Manfaat sertifikat IG adalah perlindungan hukum. Jadi Kopi arabika kintamani Bali, ya kopi species arabika, bukan robusta atau lainnya, yang ditanam di Kintamani Bali, bukan di daerah lain. Ada efek lain seperti membuat produk IG menjadi dikenal pasar, tapi tidak serta merta produk tersebut akan laku dan memiliki harga bagus. Untuk itu, perlu usaha marketing yang bagus. Salah satu unsur marketingnya sudah dipenuhi, yaitu produk yang bersertifikat, tapi tidak cukup hanya itu, ingat-ingat lagi pelajaran bauran pemasaran (4P: place, product, price and promotion)…..

Sertifikat IG arabika Kintamani Bali menjadi contoh untuk sertifikasi IG lain, seperti kopi Gayo, ubi Cilembu, madu Sumbawa dan lain-lain nya yang terus bermunculan. Bayangkan betapa kesalnya kita ketika membeli duku palembang ternyata bukan dari palembang, rambutan binjai yang bukan dari binjai, dodol garut yang bukan dari garut. Di tingkat internasional, seperti kopi Gayo yang merk “Gayo” nya dimiliki Belanda, yang kemudian melalui perjuangan yang panjang akhirnya bisa dimiliki lagi oleh Indonesia. Dan sampai saat ini (perlu dicek lagi, kalau ada yang tahu info mengenai hal ini silahkan dishare di sini), kopi Toraja yang nama merk “Toraja” nya dikuasai Jepang. Jadi orang Indonesia tidak boleh menjual kopi Toraja diluar negeri, hanya Jepang yang boleh punya hak untuk menjual😿 . Well, this is not right! Perlindungan secara hukum melalui sertifikat IG tentu akan memberi keuntungan bagi masyarakat pemilik komoditas tersebut. Dan penyadaran mengenai hal ini perlu dilakukan pemda setempat dan pihak-pihak terkait kepada masyarakatnya melalui sosialisasi dan advokasi.

20151101_093523_lzn

Green Bean Bali Kintamani

Kopi Kintamani Bali yang pertama saya coba, saya beli di Botani Square Bogor, berupa roasted bean. Setelah menguasai teknik produksi kopi, saya membeli green bean  dari Speicherstadt Kaffee, Hamburg. Profile rasa menurut saya berada di level medium untuk tingkat pahit, asam, manis dan body. Ada aroma yang saya tidak tahu bagaimana mengidentifikasinya, setelah saya baca deskripsinya sepertinya merupakan note jeruk. Menurut pendapat saya, bagusnya kopi Kintamani di pasarkan sebagai afternoon coffee atau kopi yang diminum menjelang sore pulang kerja atau malam hari karena rasanya yang tidak berat, sehingga tidak mengganggu jadwal tidur pada orang yang sensitif terhadap caffein.

Beberapa waktu lalu, saya mendapat oleh-oleh kopi Bali dari rekan yang sedang berkunjung ke petani kopi langsung di Bali. Sepertinya mereka membutuhkan dukungan untuk pemasaran produk. Saya cek di situs Speicherstadt Kaffee dan Sweet Maria , kopi Bali sedang tidak tersedia. Potensi pasar untuk yang senang marketing, sekalian membantu petani.

Kopi Luwak Bali Produksi Petani

Kopi Luwak Bali Produksi Petani

Location: Göttingen, German

Time: November 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s