Kopi Jawa: The Legend

Logo Java Software

Logo Java Programming Language

Familiar dengan logo diatas? Buat anda yang tidak akrab dengan bahasa program kemungkinan besar pernah melihat logo ini, bahkan sudah menggunakan aplikasinya entah di laptop, handphone, jam tangan, mesin cuci, kulkas dan lain-lain. Loh kok bisa? Yup bahasa program ini mempunyai motto “write once, run everywhere“. Sekali ditulis, bisa berjalan di platform manapun dan alat apapun (well, almost everything..). Tentu saya tidak membahas tentang bahasa pemrograman disini, tetapi perhatikan lagi logo di atas. Apa hubungannya bahasa pemrograman komputer dengan logo cangkir berasap (yang bisa kita asumsikan itu cangkir kopi karena banyak cafe menggunakakan logo serupa) serta Jawa?

Ya perkiraan anda benar….. ini kemungkinan ada hubungannya dengan kopi jawa. But why? konon menurut cerita dari berbagai sumber mengenai asal mula penamaan bahasa pemrograman tersebut, para programmer (yaitu orang yang membuat baris-baris coding, kurang lebih seperti itu definisi awamnya) pencipta Java mencari nama yang cocok untuk bahasa pemrograman baru yang mereka buat saat itu. Sempat terpilih oak, terinspirasi dari pohon oak yang tumbuh diluar kantor, tetapi nama tersebut dianggap kurang menjual. Nah, sekonyong-konyong, salah satu programmer mengusulkan nama Java karena mereka mengkonsumsi kopi Jawa selama melakukan pekerjaan coding. Benar sekali, ada anekdot di kalangan mereka mengenai kopi, bahwa kopi merupakan bahan bakar programmer untuk menghasilkan barisan kode-kode program. Tanpa perlu panjang berpolemik dan berargumen, semua setuju untuk menggunakan nama Java, nama yang sangat familiar dengan keseharian dan perkerjaan mereka.

Pertanyaannya, kenapa kopi Jawa, bukan kopi Brazil yang lebih dekat ke USA atau kopi lainnya? Sejarah mengenai kopi Jawa akan diceritakan lebih lanjut pada bagian lain. Short story, kopi Jawa ini yang mengawali perdagangan internasional kopi dan yang pertama dilelang. Kopi Jawa pertama tiba di Amsterdam pada tahun 1711, dengan berat 894 pound, kira-kira 405 kg, dengan ukuran karung standar perdagangan kopi saat ini 60 kg perkarung berarti tidak sampai 7 karung, jumlah yang sangat kecil untuk perdagangan dunia saat ini. Jumlah ini cukup revolusioner saat itu karena selama berabad-abad perdagangan kopi dikuasai oleh kekhalifahan Utsmani menggunakan kopi bersumber dari Yaman (karena itulah nama Arabika melekat sampai sekarang).

Kopi Jawa yang dibeli dari Speicherstadt, Hamburg

Kopi Jawa yang dibeli dari Speicherstadt, Hamburg. Kopi berasal dari perkebunan Blawan, pegunungan Ijen, Jawa Timur.

Yang cukup mengejutkan saya, ternyata kopi Jawa yang pertama dijual tersebut berasal dari daerah dramaga untuk kopi Robusta dan daerah Priangan untuk kopi Arabica, Jawa Barat. Umumnya kita ketahui kopi Jawa, ya berasal dari daerah Jawa Timur. Jadi sumber awal kopi di Indonesia berasal dari daerah Jawa Barat, yang nanti tidak hanya menyebar di Indonesia tetapi belahan dunia lain. Dan pada umumnya kita ketahui Jawa Barat lebih cenderung sebagai penghasil teh bukan? fakta tersebut menarik untuk ditelusuri, pada gilirannya saya akan tulis pengalaman saat pengambilan sampel kopi di seluruh Jawa.

Semenjak awal perdagangan kopi pada abad pertengahan tersebut, kopi Jawa menjadi favorit, sehingga menjadi identik untuk penyebutan kopi terutama di USA. Mereka menyebut kopi sebagai Java. And, yup…. kopi Jawa masuk ke salah satu daftar kopi favorit saya. Secara umum, kopi Jawa mempunyai body yang kuat (maksudnya rasa pekat atau kental), manis yang tinggi, asam yang seimbang, aroma juga bagus. Bisa diminum sebagai single origin atau blending dengan kopi lain, terutama mantab jika diblending dengan origin Kenya dan Brazil jadi body, aroma, asam, dan manis akan maksimal. Hmmmm membayangkannya saja saya jadi ingin menyeduh kopi jawa lagi……

Kopi Robusta hadiah dari salah seorang dosen IPB yang sedang berkunjung. Digiling halus, berasal dari Malang, cocok untuk kopi tubruk ala Indonesia. Jatimulyo merupakan alah satu merk cukup terkenal di Malang dan sekitarnya.

Kopi Robusta hadiah dari salah seorang dosen IPB yang sedang berkunjung. Digiling halus, berasal dari Malang, cocok untuk kopi tubruk ala Indonesia. Jatimulyo merupakan salah satu merk cukup terkenal di Malang dan sekitarnya.

Koleksi kopi Jawa saya ada beberapa, dan stok green bean masih cukup banyak walau sudah lama tidak di roasting jadi saat ini tidak ada kopi fresh yang siap seduh 🍵. Ironisnya, saya mudah untuk mendapatkan green bean atau roasted bean kopi Jawa di German daripada di tanah air sendiri. Dan sulit untuk mendapatkan kualitas baik di tanah Indonesia karena kopi yang terbaik ada di luar negeri. Kita di Indonesia hanya mendapat kualitas sisa.

Kopi Jawa yang di dapat dari Botani Square serta Ventura.

Kopi Jawa yang di dapat dari Botani Square serta Ventura.

Sebagian permasalahan adalah kita tidak menyadari apa yang kita miliki. Orang luar negeri berlomba-lomba untuk mendapatkan sumber alam kita, dan kita cenderung menyia-nyiakannya. Sebut saja semua komoditas perdagangan di dunia, hampir pasti produk tersebut ada di Indonesia dan kualitas yang terbaik pula. Saya beruntung berada di eropa saat ini jadi bisa mencicipi kopi, coklat, teh, vanilla dan lainnya yang terbaik dan tidak mudah (atau tidak ada?) ditemukan di Indonesia. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, masa sih sejak zaman penjajahan, kita selalu mendapat dan mengkonsumsi produk kelas 3 ke bawah, hellowww……..

Sebagai perenungan mengenai kedigdayaan kopi Jawa dan produk-produk Indonesia pada umumnya, mari kita maiyahan bersama dengan Cak Nun yang baru saja pulang dari kegiatan USA November ini dan menemukan fakta yang kurang lebih sama. Beliau menyemangati petani kopi di Gunung Merapi dan memberi penjelasan betapa berharganya produk yang mereka hasilkan, kelas dunia walau seringkali dipandang sebelah mata oleh warga negeri sendiri.

Location: Göttingen, German

Time: November 2015

2 thoughts on “Kopi Jawa: The Legend

    • Iya Bang Rahmat. Tapi sudah lama tidak ada kebun kopinya lagi. Tahun kemarin bersama rekan saat ambil sample keliling daerah Dramaga, Caringin dan sekitarnya sampai ke gunung… semua orang menunjukkan oh ada kebun kopi ke arah sana… trus….. trus.. sampai sore-sore kehujanan, ternyata hanya sebuah nama lokasi Kebun Kopi… dulunya memang ada tanaman kopi entah kapan hehehe memang masih ada segelintir tanaman kopi terlihat tapi tidak significant dan tidak bisa disebut sebagai perkebunan kopi juga…. sudah berganti tanaman buah-buahan. Ironinya lagi, data statistik resmi masih menyatakan ada banyak kebun kopi di sana… hmmmm… Pada tulisan lain berikutnya ada foto-foto zaman belanda untuk perkebunan kopi di daerah dramaga, siapa tahu bisa untuk napak tilas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s