Perlindungan Hukum Kopi Luwak

Kopi luwak bisa dibilang merupakan salah satu kopi termahal di dunia. Saat ini harga di market German dan eropa pada umumnya sekitar 150 €/ kg (bahkan ada yang sampai 200 €/ kg tergantung asal dan produsen kopi luwak), kalau mau “dirupiahkan” dengan kurs saat ini sekitar 2.1 juta (ga enak kalau tulisnya Rp 2.100.000,- terlalu banyak angka nol 😷). Kopi unik ini dikenal di seluruh dunia merupakan asli produk Indonesia tetapi Malaysia dan Vietnam sudah mulai produksi juga. Untuk itu, perlu suatu perlindungan hukum untuk kopi luwak.

Kementerian Pertanian dengan sigap mengakomodir kebutuhan ini dengan mengeluarkan Permentan no 37/Permentan/KB.120/6/2015. Permentan mengenai kopi luwak selengkapnya bisa di download disini. Peraturan tersebut mengatur mulai dari definisi, cara pemeliharaan luwak sampai standar mutu kopi luwak yang dihasilkan. Manfaat peraturan ini adalah menjamin kesejahteraan hewan dan pelestarian lingkungan, juga keamanan pemelihara hewan serta konsumen mendapatkan jaminan produk kopi luwak yang halal dan toyyiban.

Tahap selanjutanya, jika belum ada, kopi luwak sebaiknya juga didaftarkan sebagai paten di Kemenkunham, lalu pada paten dunia seperti yang dilakukan oleh masyarakat Gayo untuk kopi Gayo. jangan sampai nanti negara tetangga yang mematenkan kopi luwak, lalu kita marah-marah ga karuan, padahal salah kita sendiri kenapa tidak mematenkan produk Indonesia 🙉.

Permentan mengenai Kopi Luwak. Sumber: perundangan.pertanian.go.id/

Permentan mengenai Kopi Luwak. Sumber: perundangan.pertanian.go.id/

Seperti disebut dibagian atas mengenai harga kopi luwak yang cukup menggiurkan, tentu membuka peluang untuk pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk berbuat curang, seperti mengoplos kopi luwak dengan non luwak, atau menyiksa binatang sampai stress bahkan mati demi keuntungan produsen. Jadi dengan peraturan atau tata cara produksi kopi luwak yang baik dan benar menjamin produsen-produsen kopi luwak yang baik demi kelangsungan usahanya serta tentu kelestarian lingkungan. Sebagian cara mengenai produksi kopi luwak yang baik sudah saya bahas pada bagian sebelumnya, silahkan dilihat kembali. Salah satu yang harus dipahami adalah buah cerry merah kopi hanya sebagai “snack” saja untuk luwak, bukan sebagai makanan utama.

Kenapa kopi luwak bisa berharga mahal? sepertinya banyak kombinasi mulai dari produk langka (jumlah kopi luwak asli sangat sangat terbatas), perawatan luwak yang cukup mahal, rasa yang unik salah satunya tingkat keasaman berkurang serta aroma khusus karena efek pencernaan di perut hewan, serta tentu saja marketing. Kopi luwak sering didiskusikan di acara talkshow serta film luar negeri walau ada yang berkomentar positif atau negatif.

Banyak orang yang merasa harga kopi luwak tidak masuk akal. Well…. penjelasannya sederhana saja, sama seperti tas seperti Hermes, bagaimana coba menjelaskan harga tas bisa sampai ratusan juta. Selain tentu pengaruh harga bahan baku kulit buaya, tapi masa sih sampai semahal itu. Banyak kerajinan tas kulit buaya yang lebih bagus di Indonesia, salah satunya saya lihat di Merauke, Papua, buaya rawa lagi dan organik, tapi ya harganya hanya kisaran jutaan saja. Nah tas Hermes menjadi mahal karena kombinasi rancangan, marketing dan yang memakai para selebriti dan sosialita, tentu faktor harga menjadi relatif.

Demikian juga kopi luwak. Harga secangkir kopi luwak di cafe Bandara atau mall mungkin bisa mencapai Rp 200-300 ribu (kopi biasa saja bisa berharga Rp 30-50 rb). Dan menurut saya, kopi luwak sebaiknya tidak dimasukkan dalam komoditas kopi “reguler”, ini sesuatu yang berbeda, karena produk hewani, sudah melalui proses pencernaan dan pengeluaran hewan yang namanya luwak. Konsumen yang membandingkan rasa kopi luwak dengan kopi reguler kemungkinan akan kecewa. Misal konsumen yang punya favorit kopi tertentu dengan tingkat keasaman dan aroma tertentu, dia akan mengharap dengan membayar sejumlah uang akan mendapatkan efek keasaman dan aroma yang berlipat ganda. Padahal tidak demikian. Rasa dan aroma kopi luwak berada pada wilayah yang berbeda. Tingkat keasaman malah cenderung rendah sehingga kemungkinan bisa dikonsumsi oleh konsumen yang bermasalah jika meminum kopi (belum ada data ilmiah mengenai ini, bisa menjadi penelitian menarik) serta aroma menurut saya seperti berasap yang khas, tidak ditemui di produk kopi reguler. Pertama kali konsumsi kopi luwak, saya pikir aroma khas asap tersebut karena proses roasting saja, tetapi setelah mencoba beberapa sample kopi luwak (yang asli tentunya), aroma tersebut seperti menjadi signature khas untuk kopi luwak. Mungkin ini yang menyebabkan konsumen tertarik untuk membeli kopi luwak walau harganya cukup aduhai. Mengenai selera tidak bisa diperdebatkan bukan…….

 

Location: Göttingen, German

Time: November 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s