Surplus kok Impor Beras?

Seminggu terakhir berita dan diskusi mengenai swasembada bpangan khususnya beras sedang menghangat seiring dengan kehebohan “papa minta saham” yang cukup menenggelamkan hal penting selain masalah swasembada seperti darurat fiskal karena target pajak tidak tercapai. Permasalahan-permasalahan yang kelihatannya berdiri sendiri tetapi saling terkait. Tentu kita tidak membahas keterkaitan ini agar tidak terjebak dalam pembahasan “conspiracy theory“.

Dalam beberapa berita yang saya perhatikan, ulasan berita memang cukup tendensius seperti judul tulisan ini. Kementan tentu jadi sasaran tembak pertama. Walau saya merupakan salah seorang karyawan di kementerian pertanian, mudah-mudahan tulisan ini tidak menjadi bias.

Sudah setahun, negara kita tidak impor beras ditengah gempuran musim kering berkepanjangan ditambah situasi sosial politik (mafia, pemburu rente, penimbun bahan makanan pokok dan sejenisnya), prestasi ini perlu diapresiasi dan dihargai. Tentu penghargaan ini kepada semua pihak yang terlibat untuk mensukseskan program swasembada pangan, yang akan terlalu panjang jika disebut satu persatu, diantaranya mulai dari konsumen yang tidak mubazir ketika makan, pihak yang membangun bendungan dan irigasi, pabrik pupuk, babinsa dan seterusnya, yang pasti terutama petani yang mau menanam serta merawat padi sampai panen. Jadi memang keberhasilan program swasembada pangan merupakan hasil kerjasama dari banyak pihak dan lintas sektoral dalam ruang lingkup yang berbeda.

Kemudian, ketika pada akhirnya, toh kita harus mengimpor +- 1 juta ton beras pada akhir tahun, ini karena untuk persediaan stok pemerintah sampai awal tahun depan demi menjaga stabilitas ekonomi, sosial dan politik negara. Kita tahu bersama bahwa beras sudah menjadi komoditas politik karena jika ada kesalahan dalam urusan beras yang menjadi makanan pokok hampir 250 juta rakyat Indonesia, urusan bisa runyam serunyam runyamnya🙂 .

Permasalahan penghitungan data produksi beras. Berita terkait bisa dilihat di link berikut.

Permasalahan penghitungan data produksi beras. Berita terkait bisa dilihat di link berikut.

Menjadi menarik ketika data menunjukkan bahwa tahun ini kita surplus produksi beras. Pada saat yang bersamaan, kok impor beras? nah ini seru. Tentu banyak point yang bisa jadi pertanyaan. Apakah data produksi memang betul, apakah metode perhitungan sudah benar, kenapa kalau surplus kok impor? Paling tidak ini beberapa pertanyaan mendasar.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian tentu perlu dalam rangka akademis atau ilmiah, walau kenyataannya banyak yang tendensius “berbau” politik. Seperti biasa, kaum “salahwi” mulai membully pemerintah, katanya tidak mau impor, kok impor juga, mana dukungannya terhadap ekonomi rakyat. Lalu tuduhan-tuduhan manipulasi data untuk memperbesar anggaran pengadaan pupuk dan sejenisnya, traktor dan pompa yang katanya hanya display tidak dibagikan hanya untuk panjangan dan lain sebagainya. Dan tentu, sasaran tembak pertama ya tempat saya bekerja ini.

Tentu sulit untuk membahas panjang lebar mengenai pertanyaan tendensius tersebut di tulisan yang ringkas ini. Sebagai gambaran, bisa jadi data produksi benar dengan metode yang digunakan selama ini, tidak ada manipulasi. Jajaran Kementerian Pertanian dari tingkat level atas sampai bawah yang bekerjasama dengan banyak pihak lain sudah bekerjakeras melakukan apa yang bisa dan mungkin dilakukan. Kalaupun terpaksa juga impor, tidak perlu dibahas lagi kita mengalami el nino dengan tingkat parah seperti tahun1998-99 lalu. Dan kita tahu juga apa yang terjadi pada tahun-tahun tersebut. Kita beruntung tahun ini kita tidak mengalami huru hara seperti pada awal reformasi, walau pemerintah “digempur” dengan cukup keras mulai dari permasalahan asap sampai nilai tukar rupiah anjlok ditambah “gorengan” berita dan status negatif di sosmed, Alhamdulillah saat ini kita masih bisa bekerja dan makan dengan segala keterbatasannya. Anda yang pernah mengalami kejadian tahun 98-99 tentu tidak ingin negara kita mengalami kejadian serupa lagi, so berpendapatlah dengan positif dan bijaksana.

Kalau mengutip kalimat Pak Bustanul Arifin di video wawancara berikut, ‘jika swasembada diartikan hanya mengimpor kurang dari 10%’ tentu kita sudah mencapai swasembada. Dan saya setuju dengan pendapat beliau tentu bukan ini saja yang kita inginkan tetapi swasembada berkelanjutan dalam tahun-tahun selanjutnya. Mengenai pengertian swasembada sendiri tentu masih bisa diperdebatkan oleh para ahli.

Banyak hal menarik dari 4 sesi wawancara tersebut, tentu yang diwawancara adalah orang ahli di bidangnya sehingga banyak informasi penting dan menarik yang dapat kita peroleh. Menurut Bu Sukarmi, komisioner KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) bahwa memang ada kecenderungan permainan kartel beras walau perlu dibuktikan lebih lanjut untuk keperluan hukum. Tentu tidak gampang untuk membawa kasus-kasus penimbunan ke meja hijau karena berhubungan dengan perangkat perundangan, definisi penimbunan, barang bukti dan lainnya. Sebagai contoh ketika Bu Sukarmi sidak ke pasar beras Cipinang, beras medium sudah 3 bulan tidak ada digudang. Ketika hendak membuka gudang, tidak diperbolehkan, nah ini menimbulkan kecurigaan tetapi KPPU tidak mempunyai wewenang untuk membuka gudang. Di sisi lain, di Karawang tempat produksi beras, gudang beras penuh. Padahal Karawang sebagai salah satu suplier beras ke Cipinang. Nah loh?! Kajian sudah ada, nama-nama sudah ada yang dicurigai tetapi tidak semudah itu untuk membawa ke pengadilan. Untuk kasus penimbunan sapi yang menyebabkan harga daging menggila beberapa bulan, menurut Bu Sukarmi baru akan naik sidang beberapa saat lagi. Tentu ini perlu menjadi perhatian pemerintah untuk memberantas para pemburu rente di segala komoditas. Sepertinya hampir semua komoditas ada “mafianya” entah apa definisi mafia tersebut, siapa dan apakah pernah terbukti. Tentu ini menjadi tantangan KPPU beserta aparat terkait.

Pak Bustanul Arifin menyoroti mengenai perhitungan produksi beras serta cara pengendalian harga dan dsitribusi beras. Saya pernah ngobrol-ngobrol santai dan diskusi dengan beliau saat Tropentag 2014 di Praha. Saat itu beliau merupakan salah satu pembicara utama mengenai sosial ekonomi petani kopi di Lampung. Yup, diskusi ilmiah perlu terus dikembangkan untuk terus memperbaiki metodologi, mulai dari pengambilan sample sampai perhitungan ketersediaan beras di Indonesia. Ini sangat penting dan krusial sebagai dasar pengambilan keputusan dan kebijakan yang tepat.

Saya setuju bahwa tidak bisa semudah itu untuk menghitung persediaan beras dengan cara rata-rata produksi dikalikan luas lahan panen. Terlalu banyak kemungkinan bias dengan perbedaan varietas yang ditanam, produktifitas berbeda untuk lokasi berbeda (spesifik lokasi) serta penghitungan luas panen yang masih manual dengan estimasi berdasarkan pandangan mata. Belum lagi ditambah perhitungan kehilangan pascapanen yang cukup rumit mulai dari kehilangan di lahan, pengangkutan, konversi gabah kering panen, gabah kering simpan, gabah kering giling, loss di penggilingan yang sekali lagi tergantung varietas dan lokasi, so that is not simple……..

Kemudian kembali lagi kok bisa surplus tapi impor? nah saya ilustasikan seperti ini. Misal rata-rata biaya hidup kota metropolitan Jakarta Rp 5 juta. Lalu seseorang, sebut saja Melati mendapatkan gaji Rp 11 juta, tapi ternyata mempunyai hutang. Gaji di atas rata-rata tapi kok punya hutang? tentu jawabannya bisa bermacam-macam. Mulai dari mungkin Melati sedang mencicil rumah, mungkin gaya hidupnya mahal, atau mungkin dia sedang lelah……

Demikian juga surplus beras kok bisa impor? salah satu jawabannya ada di wawancara tersebut, Bulog sebagai wakil pemerintah dalam mengendalikan pengadaan dan distribusi beras, hanya menguasai beras nasional kurang dari 20%. Nah, dari data itu saja sudah terlihat, berapapun kita surplus, kalau beras sebanyak 80% dikuasai pihak lain, dan jika pihak tersebut menimbun beras, ya pemerintah harus melakukan sesuatu, dalam hal ini impor, untuk mengendalikan pasokan dan harga di tingkat masyarakat. Tentu saja sekali lagi, akan butuh waktu dan bukti untuk membuktikan pihak-pihak yang menimbun beras dalam rangka memburu rente (apakah ada atau tidak, dan kalau ada siapa, apakah ada bukti yang meyakinkan?). Praktek penimbunan beras menyengsarakan masyarakat dan membahayakan situasi ekonomi, sosial dan politik negara.

Jadi, jangan tendensius dulu untuk menuduh pihak ini itu tidak becus kerja atau melakukan manipulasi. Dari link berita di bagian pertama tulisan, BPS bertanggung jawab terhadap data dengan melakukan verifikasi ulang. Tentu diskusi ilmiah sangat terbuka untuk memperbaiki mekanisme perhitungan yang belum berubah dari tahun 1973 (Link berita disini). Pasti sudah banyak kajian ilmiah yang dilakukan untuk memperbaiki cara penghitungan. Saya pernah menghadiri seminar hasil mahasiswa statistik saat kuliah Master sekitar tahun 2006. Thesisnya tentang perhitungan persediaan beras yang ternyata berbeda dengan perhitungan kementan, kemendag dan BPS. Terlihat bahwa pihak yang menghendaki impor akan menyatakan bahwa negara kekurangan stok, sedangkan pihak yang tidak ingin impor menyatakan bahwa persediaan cukup. Lalu perhitungan mana yang benar? Thesis tersebut mencoba melakukan metode baru yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Satu lagi mengenai perhitungan luas lahan panen, kita sudah punya kok cara perhitungan luas lahan dan produktifitas padi berdasarkan citra satelit. Banyak paper membahas mengenai hal ini, salahsatunya dari badan litbang kementan yang bisa di download disini. Sekarang tinggal pihak-pihak yang berwenang mulai dari pemerintah dan dunia akademisi untuk duduk bersama-sama mencari solusi dan metode lebih baik untuk menghasilkan perhitungan yang lebih akurat.

Pendugaan Produktifitas Padi berdasarkan Citra Satelit.

Pendugaan Produktifitas Padi berdasarkan Citra Satelit.

Location: Göttingen, German

Time: December 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s