Kopi Kolombia – Amerika

Seorang kolega kolombia selalu menekankan, It is Colombia, not Columbia… sepertinya dia kesal jika kita salah menyebut nama negaranya. Bahkan kita sendiri, kalau menyebut negara Indonesia, sering menjadi Endonesia saat menyanyikan lagu kebangsaan…

Kolega kami dari Kolombia (jika menggunaan ejaan Indonesia) juga merupakan suami istri dan tinggal di apartemen mahasiswa yang sama dengan kami, jadi beberapa kali kita saling mengundang makan. Dari mereka kami mengenal panada, sejenis pastel yang terbuat dari tepung jagung yang kemudian saya coba buat sendiri, kemudian Guacamole, sejenis masakan campuran bumbu dan alpukat, enak juga, dan baru tahu alpukat bisa dibuat jadi masakan tidak sekedar dikonsumsi sebagai buah dan diberi sirup. Mereka menunjukkan foto-foto mereka saat honeymoon di sebuah perkebunan kopi di Kolombia, ada semacam paket agro-wisata sehingga kita bisa merasakan kehidupan sehari-hari sebagai petani mulai dari petik cerry merah dan tentu menggunakan pakaian tradisional lokal. Sayang sekali saat ini mereka sudah berpisah. Konsep agro-wisata yang bisa ditiru oleh petani Indonesia untuk mengedukasi masyarakat mengenai memilih kopi yang baik, selain tentu sebagai penghasilan tambahan.

Kopi Kolombia

Kopi Kolombia

Rasa kopi kolombia, menurut saya malah mendekati kopi Jawa daripada kopi Brazil, tetangganya. Ada rasa kental dan manis yang seimbang. Beberapa tahun lalu kualitas kopi mereka belum bagus, dan mereka berjuang untuk itu, dan hasilnya bisa dinikmati sekarang. Kopi Kolombia bersaing dengan kopi Indonesia dari segi jumlah produksi, tapi tetap menurut saya jauh lebih enak kopi Jawa untuk grade yang sama🙂 Walaupun kopi Kolombia tidak sebaik kopi Jawa, mereka menjadi incaran pembeli karena bisa menyediakan kopi arabika dalam jumlah banyak. Ingat, kita hanya memproduksi kurang lebih 15% kopi arabika dari total produksi, sehingga produksi terbatas dan harga kopi Indonesia lebih mahal. Kondisi ini perlu dipikirkan bersama untuk jalan keluarnya.

Dan salah satu icon kopi Kolombia adalah Juan Valdez. Saya mendapat kopi ini dari kolega orang kolombia saat acara summer course DAAD. Kopi yang saya peroleh ini berasal dari daerah Santander. Merk ini mewadahi dan membantu pemasaran kopi lebih dari 500 ribu petani. Mantab memang rasa kopinya, wangi dan kental. Juan Valdez menjadi item marketing, national branding, konsepnya menciptakan tokoh fiksi bernama Juan Valdez, seorang petani kopi yang sangat perhatian terhadap kualitas kopi yang dipanennya. Pengembangan produk memang harus menyertakan dan memikirkan trik-trik pemasarannya. Ini tugasnya pemerintah dan pihak swasta untuk bekerjasama bahu-membahu. Efeknya bagus, petani menjadi tahu dan semangat untuk memproduksi kopi yang baik, dan produsen bisa meyakinkan pembeli dari luar negeri mengenai kualitas kopi yang mereka punya. Dan orang menjadi mudah ingat dengan ikon marketing. Teknik marketing ini banyak dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan terkemuka, contoh Ronald MCdonald sebagai ikon untuk menjual hamburger.

Kopi Kolombia Juan Valdez

Kopi Kolombia Juan Valdez

Ini yang belum terasa di Indonesia. Kerjasama marketing antara pihak pemerintah, petani, swasta dan pihak terkait lainnya. Seakan-akan setiap bagian yang harusnya bekerjasama, kenyataannya lebih banyak jalan sendiri-sendiri tidak terkoordinasi. Sudah ada contoh berhasil di Kolombia, tinggal kita tiru dan kembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia (bukan Endonesia).

Location: Göttingen, German

Time: December 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s