Corlulu Ali Pasa Medresesi

Ini tempat ngopi sudah ada dari zaman pertengahan sekitar tahun 1500an. Dari 300 tahun yang lalu lokasi ini juga mulai terdapat madrasah untuk sekolah agama dan juga dervish (istilah turki untuk sufi). Entah apakah masih berjalan madrasahnya, tetapi ada masjid di lokasi ini. Dari jalan utama hanya terlihat gang kecil, dibagian depan ada kuburan tempo dulu dan bagian dalam lokasi seperti melingkar. Di sepanjang gang ada toko souvenir dan tentu tempat kongkow, tinggal pilih saja.

image544

Suasana ngopi pada zaman pertengahan. Sumber: Ukers, W. H. 1922. All about coffee.

Suasana ngopi di Turki pada zaman pertengahan. Dari gambar dugaan saya ini suasana ngopi di Istana, bukan di tempat ngopi rakyat. Perhatikan tempat perapian, tempat duduk dan kolam air mancur yang sama persis dengan foto pada tulisan sebelumnya di istana Topkapi. Sumber: Ukers, W. H. 1922. All about coffee.

image542

Suasana ngopi kelas rakyat jelata

Suasana dalam tempat ngopi ini masih dipertahankan seperti pada zaman pertengahan, sehingga kita dibawa seperti pada zaman romantik tersebut. Menu dan rasa tidak terlalu istimewa, so so, tetapi harga juga sangat murah. Menu yang ditawarkan sederhana saja, memang tempat untuk nongkrong dan ngobrol sambil menikmati waktu yang seakan terhenti disini. Suaana sekarang bisa dibandingkan dengan gambar tempo dulu diatas.

Suasana di jalan utama

Suasana di jalan utama

DPP_0048

DPP_0050

DPP_0053

DPP_0055

DPP_0057 DPP_0058

 

Suasanna abad pertengahan

Suasana abad pertengahan

DPP_0060

Lampu Aladin yang indah, bisa dibeli dibanyak tempat terutama Grand bazar

Lampu Aladin yang indah, bisa dibeli dibanyak tempat terutama Grand bazar

DPP_0063

DPP_0064

Penjaga pintu yang sigap melayani jika ada tammu datang dan pergi atau butuh sesuatu.

Penjaga pintu yang sigap melayani jika ada tamu datang dan pergi atau butuh sesuatu.

DPP_0067

DPP_0096

Bagai terlempar ke masa lalu

Bagai terlempar ke masa lalu

DPP_0098

DPP_0099

Walau temanya ngopi, saya tidak memesan kopi turki untuk malam itu, sudah terlalu banyak untuk sepanjang hari. Saya mencoba menu lain dengan mencicipi sahleb, semacam susu campur rempah-rempah, teh turki dan hokah atau shisha. Senangnya kami bergabung bersama sahabat dari belahan bumi lain. Ada Mba Meity dan suami dari Bremen yang kebetulan juga sedang di Istanbul, juga James dari Scotlandia teman satu penginapan. Serunya kongkow dalam balutan suasana abad pertengahan. Karena kami tidak ada yang merokok, jadinya patungan hoookah saja untuk meramaikan suasana. Pastikan ujung hookah punya masing-masing ya agar tidak bertukar racun dan bakteri😉 . Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan hookah ini, hanya air dengan aroma seperti apel atau mint yang lalu dipanaskan menggunakan arang, lalu kita hirup uapnya. Yang ada pegel rahang untuk menghirup uapnya karena harus menyedot dengan semangat.

Ujung berwarna hijau bisa dicopot dan dipasang, untuk masing-masing orang, tempat keluarnya uap rasa apel atau mint, atau lainnya, tergantung selera.

Arang untuk memanaskan air

Arang untuk memanaskan air

DPP_0093

Ujung berwarna hijau bisa dicopot dan dipasang, untuk masing-masing orang, tempat keluarnya uap rasa apel atau mint, atau lainnya, tergantung selera.

Pipa shisa atau hooka

Pipa shisa atau hooka

DPP_0100

Berkumpul ngopi-ngopi bersama sahabat dalam suasana abad pertengahan

Berkumpul ngopi-ngopi bersama sahabat dalam suasana abad pertengahan

Dalam suasana ngopi abad pertengahan, tentu membawa kesan sendiri. Sambil ngobrol-ngobrol yang bermanfaat, dan menyadari betapa singkatnya waktu yang kita miliki. Dari James saya baru mengetahui ternyata Inggris terdiri dari 4 kerajaan, England, Wales, Scotland dan Northern Ireland. Karena itulah disebut United Kingdom. Dan setiap daerah ternyata memiliki bahasa dan kebudayaan sendiri. Aslinya bahasa Inggris yang kita kenal ya hanya dari daerah bernama England tersebut. James tipe petualang dan aktifis yang humanis, sempat lama menjadi wartawan di Jepang, jadi kita sempat berdiskusi mengenai budaya kerja Jepang yang berbeda dengan Eropa. Saat itu Scotland sedang mengusulkan referendum untuk berpisah dari Inggris, paling tidak untuk sistem pendidikannya karena mereka mempunyai sistem berbeda. Beberapa bulan kemudian dari berita saya baca, keputusan referendum, Scotland tetap bergabung dengan Inggris Raya. James pernah menjadi sukarelawan di India, mengajar bahasa Ingris kalau tidak salah ingat untuk daerah miskin. Beliau bilang, kemiskinan terasa menampar di muka, terlihat setiap hari tanpa bisa kita melakukan apa-apa untuk mengatasinya. Tentu kemiskinan berkaitan erat dengan pendidikan. Dan kita sepakat, kualitas pendidikan tidak tergantung dari mahal atau murahnya, karena banyak sekolah mahal kualitasnya ya begitu tidak sebanding dengan harga yang dibayar, sama saja diseluruh dunia, sedangkan sekolah gratis banyak yang menghasilkan manusia-manusia yang bermutu. Hipotesis beliau, orang tetap menyekolahkan anaknya ke sekolah mahal karena ada keunggulan akses ke lingkaran sosial tingkat atas, bukan hanya karena mutu. kdang malah tidak ada hubungannya dengan mutu. Jika mereka sekolah ke sekolah papan atas, kemungkinan teman sekelasnya adalah anak para petinggi negeri seperti anak jenderal, menteri, bahkan mungkin anak presiden, pengusaha top, mereka akan besar bersama, dan mungkin banyak dari mereka yang juga akan menjadi pejabat negeri di kemudian hari. Akses ke lingkaran sosial tingkat tinggi yang tidak akan bisa diperoleh di sekolah gratis atau murah. Ini berlaku diseluruh dunia. Ingat toh seperti Prince William and Kate Middleton? mereka pergi pada sekolah yang sama, bahkan satu apartemen mahasiswa. Hmmmm suatu sudut pandang menarik yang bisa saya peroleh hasil dari ngopi-ngopi di suatu sudut belahan dunia pada waktu yang terhenti di zaman pertengahan.

Sahleb dan teh turki, jenis minuman lain yang patut untuk dicoba

Sahleb dan teh turki, jenis minuman lain yang patut untuk dicoba

Di tempat penginapan, Induk semang kami tertawa bahwa kami mencoba sisha, karena buat orang turki, itu hanya dikerjakan oleh orang gunung yang udik, hanya membuang-buang waktu melamun saja tidak ada manfaat😉 Beliau juga membuatkan Sahleb ala Mesir, yang ternyata jauh lebih enak daripada yang di tempat ngopi tersebut. Menarik dan asyiknya belajar kebudayaan dan sejarah sambil ngopi-ngopi santai….

Location: Istanbul, Turki

Time: Maret 2014

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s