Nonton Bareng Filosofi Kopi

Bahasa anak muda sekarang: "Kopi aja ada yang sayangin, masa kamu engga...."

Bahasa anak muda sekarang: “Kopi aja ada yang sayangin, masa kamu engga….”. Sumber gambar dari pinterest, bukan karya sendiri.

Saat bulan maret kemarin ada di Indonesia, saya keliling di kota Bogor untuk mencari DVD film Filosofi Kopi. Tapi ternyata belum ada di pasaran. Nah, bulan April sudah ada yang upload di dunia maya, rupanya rekaman dari salah satu stasiun tv di Indonesia saat tahun baru. Jadilah kami warga desa Göttingen membuat termin untuk nonton bareng. Lapak 321 dibuka untuk rekan-rekan yang ingin menikmati kopi racikan sendiri sambil nonton film. Seru kan nonton film Filosofi Kopi sambil menyeruput kopi fresh asli Indonesia. Biar bisa menghayati filmnya secara lebih mendalam toh…

Dunia anak mempunyai ketertarikannya sendiri.

Dunia anak mempunyai ketertarikannya sendiri.

Salah satu manfaat tongsis

Salah satu manfaat tongsis

Suasana nonton layar tancap

Suasana nonton layar tancap

Untuk nonton bareng ini, saya menyiapkan blending kopi Jawa dan Mandheling dengan 4 tingkat roasting berbeda. Sekalian saya siapkan kopi untuk presentasi mengenai kopi di Berlin pada esok harinya. Sepertinya teman-teman menyukai kopi racikan 321. Jadi jangan pernah remehkan kopi hasil bumi Indonesia ya. Orang luar negeri rebutan loh untuk bisa menikmati kopi origin Indonesia. Merupakan misi saya juga untuk berbagi rasa dan aroma kopi nikmat, agar kita orang Indonesia juga merasakan betapa nikmatnya hasil bumi negeri sendiri. Selama ini kita hanya menikmati hanya ampasnya saja, hasil-hasil grade terbaik dikirim keluar negeri. Sudah saatnya situasi ini tidak berlanjut. Saatnya kita menikmati hasil bumi terbaik dari Indonesia.

Secara umum film yang merupakan adaptasi dari novel ini mempunyai jalan cerita yang bagus, akting juga OK. Oya, kedai Filosofi kopi pun ada di alam nyata di daerah Blok M. Sayang sekali saya tidak tahu hal ini saat ada di Indonesia tempo hari. Hanya satu yang membuat saya “irritated”, saat sang barista menjelaskan mengenai cappucino di menit awal film, tetapi yang dibuat sebenarnya adalah latte. Tentu kita bisa berdebat panjang disini mengenai perbedaan cappucino dan latte. Satu hal yang jelas, cappucino hampir 1/3 bagiannya adalah busa susu, sulit dibuat gambar di atas cairan espresso. Yang bisa dibuat gambar seperti itu adalah latte, makanya disebut latte art. Anyway busway, tidak perlu complain karena filmnya juga gratis dan memang bagus, so enjoy the movie🙂

Ini latte, ini bukan cappucino. Cappucino bukan latte.

Ini latte, ini bukan cappucino. Cappucino bukan latte.

Serunya lagi nonton menggunakan bemaer, jadi serasa nonton layar tancap. Bersama generasi baru di Göttingen, tentu menjadi kesempatan untuk silaturahmi sesama warga. Menu kue yang dibuat rekan-rekan disini, plus mie goreng, mantab sudah menikmati weekend yang cerah pada akhir April kemarin.

 Location: Göttingen, German

Time: April 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s