Journey to the East: Begin

Pada beberapa artikel ke depan, saya sharing mengenai “perjalanan spiritual” keliling pulau Jawa pada 2014. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan sample untuk penelitian. Tetapi sebenarnya adalah memepelajari dunia persilatan kopi dari segala aspek seperti sejarah, sosial, budaya, teknis, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Saya mendapatkan banyak pelajaran berharga mengenai kehidupan, kebaikan hati, persahabatan, keihklasan, harapan dan cemas. Saya bertemu orang-orang hebat. Mulai dari petani, pedagang perantara, eksportir, asosiasi, aktifis, barista, pemilik cafe sampai the mafia. Hal-hal yang sama sekali tidak ada di literatur ilmiah mengenai kopi. Sebuah under world, nyata adanya, seperti rasa kopi yang nyata adanya. Manis, pahit, asam, bold, aroma, rasa yang tertinggal, semua bersatu padu laksana kehidupan itu sendiri.

DPP_0021

Tidak semua kisah dapat diceritakan. Tidak semua perenungan dapat dibagi. Sebagian cerita sudah ditulis pada artikel sebelumnya, beberapa mengena kopi luwak. Sebagian kisah berikut mudah-mudahan bermanfaat dan memberikan inspirasi.

Kisah dimulai saat mempersiapkan lokasi yang akan dikunjungi. Dimulai dari menghubungi beberapa pihak, tetapiseperti sahabat ketahui, susah berhubungan dengan pihak-pihak di negara kita. Email tidak dibalas atau respon lambat, telefon diputar-putar. Akhirnya berdasarkan data yang dikeluarkan pihak resmi, lokasi pun ditentukan. Sayangnya, pada kenyataannya data tersebut bisa berbeda dengan di lapang. Jangankan data kopi, komoditas yang harusnya jelas seperti beras, terdapat data yang saling bertentangan, yang beberapa waktu lalu Presiden Jokowi sampai marah karena data yang sampai di mejanya berbeda. Bagaimana mau bikin kebijakan yang benar jika data sudah tidak benar?

Kita tidak masuk ke masalah benar atau tidaknya data statistik yang dikeluarkan lembaga berwenang (bahkan data pemilu pun ada yang tega unutk memanipulasi😉 ), hanya bercerita pengalaman saja. Singkat cerita, sesampai di Indonesia, ada beberapa hari terjepit nasional, naif nya saya berpikir akan ada kantor yang buka, ternyata semua “meliburkan diri”. Setelah membuang waktu beberapa hari, saya mengunjungi beberapa kantor untuk menanyakan data petani dan wilayah kopi. Tidak diperoleh.

Bahkan sebuah asosiasi kopi pun tidak mempunyai data petani binaannya, entah tidak punya atau tidak mau berbagi. Sedikit keanehan juga, asosiasi tersebut berkantor di sharing office. Memang sekarang lagi trend, banyak perusahaan menyewa sebuah space kantor yang sama, dipakai oleh banyak perusahaan agar biaya sewa sangat-sangat murah demi mengejar alamat jalan yang prestisius. Keren dong jika alamatnya di jalan Thamrin atau Sudirman atau Kyai Tapa (NJOP nya mahal😉 ), padahal hanya mengeluarkan biaya beberapa juta saja untuk sharing office. Sah-sah saja sih dalam praktek bisnis. Hal lain yang perlu diperhatikan, ketika bincang-bincang secara tidak resmi dengan pihak asosisasi, mereka menguji kualitas kopi hanya berdasarkan sample yang dikirim. Padahal dalam industri, setiap karung kopi perlu diperiksa.

Selanjutnya,  saya mengunjungi daerah pamijahan, Bogor, sekitar daerah Dramaga yang seharusnya terdapat banyak perkebunan kopi berdasarkan data resmi,. Bersama mas Sunardi, saya ditemani mengeliling daerah tersebut. Setelah Mendaki gunung lewati lembah, Sungai mengalir indah ke laut, Bersama teman bertualang (#lagu ninja hatori) setiap bertemu orang, perempatan, kantor desa kami bertanya dimana kebun kopi. Kadang yang ditunjuk berlawanan arah dan sepanjang jalan hanya satu dua pohon kopi terlihat sporadis. Sebagian besar malah tanaman buah seperti jambu biji. Pada akhirnya ketika situasi hampir hujan (bogor gitu loh) dan sudah berjam-jam tidak menemukan perkembanga positif, akhirnya warga menunjukkan arah yang sama dan katanya sudah dekat. Antara harap dan cemas, kami sampai di sebuah kampung. Sudah curiga, saya tanya kebun kopinya mana. warga menunjuk ya ini kebun kopi. jreng-jreng…. ya itu sebuah kampung bernama kebun kopi. ya tidak ada pohon kopi, hanya perkampungan saja. Sama seperti dijakarta banyak nama memakai tanaman seperti pondok kopi, kebon sayur, kampung rambutan, dukuh atas dan jangan berharap ada perkebunannya. Hmmm…. sudah kuduga…

sudah-kuduga

Ya karena saya bukan siapa-siapa, bukan Presiden juga, ya tidak bisa marah-marah kalau ternyata data berbeda dengan kondisi di lapang😉 Sepertinya dul memang ada perkebunan kopi di situ, entah kapan, dan sudah ganti komoditas lain serta perkampungan, dan data belum diupdate untuk beberapa lama. Pada akhirnya, kami menikmati suasana hujan dengan nongrong di warung bakso, menunggu hujan reda. Pemilik kedai baik hati menemani kami sambil bincang-bincang.

Pesan moral: Perlu perbaikan menyeluruh untuk data statistik di indonesia, termasuk data petani, siapa dan dimana. Kalau saya orang asli Indonesia saja bisa “kecele” sulit mengakses data di negeri sendiri, bagaimana denga orang asing, apalagi misalnya ada investor yang mau menanamkan modalnya? semoga menjadi pemikiran bersama dan dicari solusinya.

Location: Bogor, Indonesia

Time: July 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s