Gunung Pancar, Bogor

Di suatu lokasi di daerah Sentul, yaitu kampung Cimandala, desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor. Untuk mencapai lokasi ini, kita bisa melalui pintu tol Sentul. Melewati perumahan-perumahan daerah Sentul, tempat wisata dan restoran yang ramai dikunjungi warga Jakarta dan Bogor, terus lanjut lagi sampai tempat wisata alam Gunung Pancar. Tempat wisata yang cukup recomended, bagus, alami, berisi pohon pinus dan ada tempat camping. Lokasi yang dituju cukup menantang karena jalanan cukup terjal. Pemandangan kanan kiri jalan sangat indah.

Sebagian besar warga sekitar mengenal Pak Uci.

Sebagian besar warga sekitar mengenal Pak Uci.

deretan pohon pinus

deretan pohon pinus

taman wisata alam gunung pancar

taman wisata alam gunung pancar

Saya hendak menemui Pak Uci Sanusi, salah satu petani kopi di Bogor. Setelah sebelumnya gagal untuk mendapatkan sample kopi di daerah Dramaga, setelah tanya sana tanya sini, dirujuklah ke Pak Uci. Sayang sekali saya tidak menemukan jejak-jejak perkebunan kopi di daerah Dramaga, karena di daerah inilah pertama kali kopi dikembangkan di Indonesia. Sejarahnya akan dibahas pada artikel lain. Setelah membuat janji, saya menuju ke daerah sentul tersebut ditemani oleh mas Sunardi.

DPP_0083

Pak Uci (kiri) dan Mas Sunardi (kanan)

DPP_0077 DPP_0075 DPP_0048 DPP_0046

Track wisata yang dibangun warga

Track wisata yang dibangun warga

Lingkungan masih alami, jauh dari kebisingan kota, cocok untuk camping

Lingkungan masih alami, jauh dari kebisingan kota, cocok untuk camping

DPP_0018 DPP_0009

Sebagai warga Bogor, saya juga penasaran dimana sebenarnya kopi diproduksi dan oleh siapa. Kalau produk akhir, kopi liong bulan, sudah sangat terkenal. Juga saya ingin menelusuri sejarah kopi masa silam di Bogor dalam rangka memahami industri ini. Penelusuran sejarah kopi di Dramaga Bogor menjadi sesuatu yang tertunda.

Menemui rumah Pak Uci tidak sulit, beliau juga punya warung di tempat wisata gunung pancar. Semua warga di sini mengenalnya. Setelah bertemu Pak Uci, saya berbincang dengan beliau menjelaskan maksud kedatangan untuk meneliti kualitas kopi. Lalu diajaklah saya ke kebun kopi warga di sini yang ternyata juga dijadikan tempat wisata.

Menelusuri desa ini, merupakan suatu perjalanan ke dunia lain. Saya merasakan kontras perbedaan hiruk pikuk dari Bogor, melalui jalan tol, masuk ke Sentul dengan deretan perumahan mewah atau perumahan mennegah atas dengan segala fasilitas, resort hotel dan tempat wisata, lalu masuk ke gunung melalui hutan, dan di belakang hutan pinus itu terdapatlah sebuah denyut kehidupan di sebuah kampung yang sederhana. Tidak terisolir, tapi tidak gampang menuju lokasi ini.

DPP_0011

Masih banyak "laskar pelangi" di sekitar kita, perlu support dari banyak pihak.

Masih banyak “laskar pelangi” di sekitar kita, perlu support dari banyak pihak.

Berjuang di sektor pendidikan

Berjuang di sektor pendidikan

Saya diajak Pak Uci melewati track wisata yang beliau bangun bersama warga. Dibangun sendiri secara bergotong royong dan dari uang mereka sendiri, dengan harapan ada yang berlibur di desa mereka. Suatu pemikiran yang wow untuk saya. Kemudian saya diajak melihat sekolah, dibawah nama Yayasan Pancar Bakti Prihatin. Kisahnya menarik.

Yayasan ini dibangun oleh Pak Uci dan ayahnya, H. Ujang, tentu dengan kerjasama banyak pihak lain. Dibail pendirian yayasan ini ada sebuah cerita luar biasa. Yayasan dan sekolah ini didirikan atas keprihatina karena warga kampung sulit mendapatkan akses pendidikan. Mereka harus keluar kampung, melewati hutan pinus yang menghabiskan uang banyak untuk trasnportasi dan waktu perjalanan. Selain itu, ditengah maraknya pembangunan, warga kampung tidak mendapat kesempatan untuk ikut bekerja karena selalu ditolak dengan alasan tidak punya ijazah. Lalu Pak Uci dan H. Ujang berjuang untuk mendirikan yayasan dan sekolah ini.

DPP_0003 DPP_0004

Selain kopi, tanaman pala juga mulai ditanam dan dikembangkan.

Selain kopi, tanaman pala juga mulai ditanam dan dikembangkan.

Rumah orangtua Pak Uci, yaitu H. Ujang. Kami diterima dengan ramah di rumah yang selalu terbuka untuk tamu.

Rumah orangtua Pak Uci, yaitu H. Ujang. Kami diterima dengan ramah di rumah yang selalu terbuka untuk tamu.

Mulai dari mengurus perijinan ke departemen pendidikan di Jakarta, yang jaraknya jauh dan tentu hiruk pikuknya membuat gentar orang yang jarang ke kota. Ketika masuk gedung dilarang oleh satpam karena hanya memakai sendal. Akhirnya dipinjami sepatu, kalau tidak salah oleh satpam, agar bisa masuk gedung. Setelah berkonsultasi, ternyata untuk bisa mendirikan yayasan, pendiri harus memiliki ijazah formal. Sehingga Pak Uci pun berjuang menempuh pendidikan formal sampai dapat ijazah sebagai syarat pendiri yayasan. Setelah yayasan ada, juga harus meyakinkan penduduk membiarkan anaknya bersekolah.

Sebuah kerjakeras dalam rangka merubah nasib masyarakat melalui kepedulian dan jalur pendidikan. Inilah yang diperlukan oleh bangsa kita. Orang-orang yang perduli serta ikhlas menyumbang harta, waktu, tenaga sesuai kemampuan untuk merubah bangsa kita menjadi lebih baik lagi. Suatu hal yang langka, dimana sebagian besar kita hanya sibuk berkoar-koar di wall sosial media, nyinyir sana sini, tanpa melakukan sesuatu aksi positif nyata, sibuk menghasut dan mengadudomba masyarakat, tapi merasa paling berjasa bagi lingkungannya.

Tipikal pohon robusta, berdaun lebih lebar, lebih hijau gelap, bergelombang dan kasar.

Tipikal pohon robusta, berdaun lebih lebar, lebih hijau gelap, bergelombang dan kasar. Konsep perkebunan kopi disini agroforestry.

Robusta

Robusta

DPP_0111 DPP_0119

Kulit dan daging buah

Kulit dan daging buah

Biji kopi yang masih diselimuti parchment

Biji kopi yang masih diselimuti parchment

Lalu bagaimana dengan kopinya? saat itu panen kopi berdurasi pendek, jadi sudah selesai dipanen semua, dan semua green bean sudah dijual ke tengkulak. Saya mendapatkan satu dua pohon yang ada red cerry, jadi sekalian belajar memanen dan memprosesnya menjadi grean bean sendiri. Tidak banyak sample green bean yang saya peroleh, tapi saya mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. Sebuah pelajaran mengenai perjuangan dan kehidupan.

Location: Bogor, Indonesia

Time: July 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s