Couscous, makanan khas Tunisia di kulturen messe Göttingen

Minggu lalu, pemerintah kota Göttingen untuk kesekian kalinya menggela acara kulturenmesse, dimana bangsa-bangsa yang ada di kota kecil ini menampilkan kesenian dan budayanya, mulai dari seni tari, lagu, pariwisata sampai masakan. Tujuannya adalah untuk saling mengenal antar bangsa-bangsa tersebut dan saling memahami. Jargon di mari disebut Integration, untuk melawan radikalismus dan ekstremismus und so weiter. Familiar dengan istilah-istilah itu ya, tidak perlu diterjemahkan lagi. Ini permasalahan global dunia, bukan hanya negara kita saat ini yang sedang ribet dengan gerakan-gerakan radikal. Dan German pernah punya pengalaman pahit mengenai hal ini saat perang dunia ke-2, dan mereka tidak mau lagi terlibat dengan urusan yang begitu-begitu. Tapi namanya ideologi ekstrim dan radikal tidak pernah bisa hilang, ya harus dilawan, salah satunya dengan cara integrasi, saling memahami budaya masing-masing.

Meriah sekali acaranya, ada berbagai macam bangsa disini. tentu Indonesia melalui PPI Göttingen turut melakukan diplomasi kebudayaan, yang didukung oleh KJRI Hamburg. Seperti biasa juga, Indonesia mendapat sambutan meriah dari para pemirsa dan selalu ditungu-tunggu, karena Indonesia selalu menampilkan ragam budaya yang luar biasa. salut untuk kerja dan keringat teman-teman di PPI Göttingen, ditengah kesibukannya kuliah dan urusan ini itu, masih menyempatkan waktu untuk bangga menjadi orang Indonesia serta berlatih dan menampilkan kebudayaan kita yang adihung adiluhur. Bagaimana dengan kalian yang ada di Indonesia, bangga dengan budaya sendiri? atau malu hanya untuk sekedar memakai baju dan berbahasa daerah? hmmm…. Penampilan kegiatan untuk tahun 2017 bisa dilihat pada video dibawah ini. Dokumentasi tahun-tahun sebelumnya juga bisa dilihat di youtube.

Selain stand Indonesia yang pastinya menyediakan minuman dan makanan sedap mulai dari cendol sampai bakso dan selalu habis ludes terjual, banyak stand makanan lain yang perlu diburu 🙂 . Salah satunya adalah stand negara Tunisia. Ya, negara asal mulanya arab spring. Yang efeknya dirasakan oleh banyak negara di dunia sampai saat ini. Penjualan dari stand Tunisia sebagian didonasikan untuk membantu sebagian warga negara mereka yang sedang kesulitan akibat kondisi politik yang carut marut. Dan mata saya pun tertuju ke couscous, sudah lama saya tidak menikmati makanan sedap ini. Dan benar saja, ketika saya mencicipinya, sensor-sensor rasa dilidah saya mengaktifasi segelintir memori di otak dan membangkitkan perasaan haru.

Couscous, sebagian dari bulgur, sebagian dari basmati

Beberapa dekade yang lalu, couscous seenak ini saya nikmati di salah satu sudut kota Jakarta. Dibuat oleh 2 nenek saya (kami keluarga besar, adik dan kakak dari nenek saya ada banyak dan masing-masing mempunyai spesialisasi masakan tertentu 🙂 ), Mereka sempat besar dan merasakan Tunisia (kita membicarakan tahun pada zaman sebelum kemerdekaan 😉 ), jadi urusan masakan Tunisia tidak usah diragukan lagi. Dan sekali-sekali, kalau beruntung, nasinya berupa basmati, nasi berbentuk lonjong dan pera, cocok sekali untuk jenis masakan ini (saat itu tidak mudah untuk mendapatkan basmati, selain harganya mahal, jadi menunggu ada yang membawakannya sebagai oleh-oleh). Sedaapnye masakan Opa, seronook…. (edisi “overdosis” upin dan ipin karena mendampingi si kecil nonton youtube).  Masakan Tunisia cenderung dominan dengan tomat, jadi saya pun tidak masalah kalau harus switch ke masakan Italia karena banyak juga menggunakan tomat hehehe

Sebagian masakan rumah kami sedikit banyak berhubungan dengan budaya Tunisia, banyak berhubungan dengan tomat. Selain coucous, juga yang saya suka adalah shakshuka. Ini masakan andalan saya jika bepergian jauh, simple dan mudah buatnya. Kurang lebih bahan dasarnya tomat, telur ayam dan kentang, simple. Bahkan sampai ke Merauke dan Göttingen, saya kadang masak shakshuka. Tapi entah, tetap lebih enak shakshuka buatan mama tercinta…. padahal resep sudah sama hmm….. anyway, saya pemakan segala macam masakan kebudayaan, dari sabang sampai merauke lanjut ke istanbul dan paris, saya cicipiki kok selama Halal dan Toyyib 🙂 Ga ada pantangan hehehe

Location: Göttingen, German

Time: May 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s