Beras Medium atau Premium?

Mulai akhir minggu kemarin, heboh di pemberitaaan media massa mengenai kasus beras. Ada banyak dimensi mulai dari ekonomi, hukum sampai politik, dan kadang terdapat istilah-istilah yang cukup membingungkan untuk saya, sebagai masyarakat awam. Salah satunya adalah mengenai kualitas beras medium dan premium. Apa maksudnya?

Setelah saya telusuri, ternyata istilah ini terdapat di SNI 6128:2015 yang mengatur tentang beras. SNI merupakan standar mutu di Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Indonesia, bisa mencakup produk atau teknik produksi. Nah, karena saat saya belajar dulu, hanya mengenal mutu 1, 2 dan seterusnya untuk beras. Di peraturan yang relatif baru ini, tahun 2015, kualitas atau mutu beras dibagi menjadi kelas premium, medium 1-3.

Sumber: SNI 6128:2015

Isue beras ini sudah melebar kemana-mana karena memang beras merupakan komoditas politik, pemerintah punya kepentingan untuk menjaga stabilitas ketersediaan beras dan keterjangkuan rakyat untuk membelinya. Kalau tidak? hmmm……  Juga segala permasalahan perberasan mulai dari masalah tataniaga, subsidi, ketersediaan pupuk, benih, sarana produksi nasional, tengkulak, mafia, penentuan harga, wereng, sampai masalah mutu beras “pns”, minggu ini banyak dibahas oleh ahli-ahli pertanian yang sebagian besar saya kenal dan memang kredible menjelaskan mulai hulu ke hilir, sampai yang tiba-tiba ahli dengan teori cocokologi dan teori konspirasi yang juga menarik disimak.

Ijinkan saya sedikit berbagi dari apa yang saya pernah pelajari saat kuliah, juga saat meneliti bersama rekan-rekan di BB Padi mengenai cara membedakan varietas beras menggunakan teknologi pengolahan citra digital (silahkan lihat di bagian publikasi). Saya memfokuskan mengenai kualitas beras, karena ini bidang minat dan sedang belajar mengenai hal ini.

OK, lanjut ya…. ada perbedaan definisi SNI 2008 dan SNI 2015 mengenai kualitas beras. Itu bukan masalah, kelas mutu boleh berubah dan bisa diperbaiki mengikuti perkembangan di masyarakat. SNI 2015 mengenai beras pun, sepertinya harus mengalami perubahan lagi, karena ada beberapa bagian yang debatable serta belum masuk kriteria. Contoh kecil saja, ada jenis beras diluar premium (kalau tidak bisa dibilang diatas premium), yang rasanya wangi asli, pulen dan waktu tanamnya bisa antara 4-6 bulan. Biasanya ini varietas lama, produktifitasnya tidak setinggi varietas unggul baru, dan waktu tanamnya lama. Saya pernah mencoba ini di suatu daerah antah berantah yang lumayan terisolir. rasanya ueenaaakkk, bahkan tanpa lauk pun rasa nasinya sudah enak bingits. Di pulau Jawa pun, masih mungkin kita temui petani, kemungkinan besar berusia lanjut, yang masih setia menanam varietas lama tersebut yang menanamnya dalam jumlah terbatas. Nah, karena itu, sulit jika beras jenis ini dikategorikan sesuai SNI yang ada. Harganya harus special (baca: mahal) karena ketersediaan terbatas dan rasanya istimewa. Dan Rasa tidak termasuk kriteria di dalam SNI. Padahal, ini juga menentukan harga beras tersebut di pasar.

Anda mungkin pernah makan di suatu restoran dengan menu masakan nusantara, yang rasa berasnya uenak tenan? kemungkinan mereka memesan khusus dari petani dan wilayah tertentu, bukan beras sembarang yang diperoleh di pasar becek atau gerai modern. Itu menjadi selling point restoran tersebut, membuat orang ingin kembali dan kembali lagi menikmati makanan khas berselera.

Di dunia perkopian, ada genre specialty coffee, nah siapa tahu di dunia perberasan, bisa juga diadopsi genre ini, untuk membedakan kualitas secara fisik saja berdasarkan SNI. Karena komoditas beras ini diatur oleh regulasi yang ketat, monggo para ahli berdiskusi dengan pembuat regulasi, untuk mencari jalan keluar yang baik untuk semua, mulai dari petani, tengkulak, sampai konsumen akhir. Tujuannya adalah menjaga kestabilan, ketersediaan dan keterjangkauan bahan makanan pokok serta membawa kesejahteraan untuk semua pihak. Terutama petani, mudah-mudahan dengan ada kasus ini, kita semua mulai memfokuskan pembahasan, bagaimana caranya agar petani sejahtera, bagaimana kelayakan usaha ekonominya, berapa luas lahan minimal harus dimiliki, varietas apa yang cocok ditanam dengan produktifitas berapa, harga berapa, serta bantuan lain apa diluar itu sehingga petani dapat hidup sejahtera, punya rumah bagus dan bisa sekolahkan anaknya serta bisa berobat jika sakit. Ini yang luput saya perhatikan dari polemik mengenai beras minggu ini, tidak ada yang mengajak omong petani dan membahas bagaimana mereka bisa sejahtera.

Bagus jika semua pihak memperjuangkan hak dan kepentingannya mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku bisnis…… Nah mari tambah pembahasannya, bagaimana supaya petani sejahtera. Caranya? ajak ngobrol mereka, rasakan susahnya kehidupan mereka yang jauh dari hiruk pikuk medsos dan analisis-analisis canggih, susahnya cari hutangan untuk anaknya sekolah, sekedar berobat ke puskemas, jeratan tengkulak, boro-boro mereka musti tahu standar mutu itu apa, HPP dan HET itu apa, siapa yang memutuskan, kenapa jumlahnya demikian? Ironis jika kita membahas cara memberantas kemiskinan dengan cara seminar di hotel mewah dengan makanan yang lezat. Memang ga boleh gitu? oh ya boleh-boleh saja…. silahkan… hanya ya itu ironis, bagaimana tahu kemiskinan, dalam hal ini susahnya petani kalau kaki tidak pernah kena lumpur di sawah serta bertemu ular serta tikus yang memakan bulir padi?

Kemudian, mengenai isu beras yang sedang hits itu bagaimana? Dari sisi kita konsumen, sederhana saja, ini berlaku untuk komiditi lainnya. Perhatikan barang dengan kemasannya, cocok apakah tidak. Kita tidak perlu jadi seorang ahli. Tinggal lihat tabel dari SNI tersebut, kalau di kemasan tertera Premium, ambil 100 gr beras, lalu lihat apakah ada butir menir, merah, kuning, kapur, benda asing dan gabah? kalau ada yang disebutkan tersebut, satu saja, berarti bukan kualitas premium. Kalau anda merasa ada unsur penipuan, jangan beli lagi, atau kalau mau ribet sedikit, bisa lapor polisi. kalau anda suka dan harga cocok? ya repeat order. Nah derajat sosoh, kadar air, apakah pakai pemutih atau pewangi buatan, ini musti dilakukan di lab. Sebenarnya untuk urusan pewangi dan pemutih, ini jadi rahasia umum digunakan di produsen nakal, dan entah apakah sudah ada yang jadi kasus hukum, sebagai konsumen kita bisa nilai apakah wajar warna putih (agak susah juga “wajarnya” seperti apa), serta wangi berasnya, untuk beras medium, biasanya tidak ada wangi, apalagi setelah disimpan lama wangi tercium konstan seperti awal beli, ini perlu dicurigai. Ya untuk pastinya tentu harus uji lab, tidak bisa main tuduh sembarang. Sebagai konsumen, tugas kita tingkatkan kewaspadaan dan “kecurigaan” karena barang ini akan masuk perut kita. Lebih baik “parnoan” daripada semua masuk perut, malah bikin sakit di kemudian hari.

Lalu…. –“kasus mengenai harga beli di petani, pengoplosan, mafia bla bla itu bagaimana?” buat saya, serahkan saja ke aparat penegak hukum, ada mekanisme hukum. “Tapi hukum sekarang tidak bisa dipercaya?” wahh…. ini sih diluar jangkauan saya menjawabnya, boro-boro ngerti hukum, saya cuma bisa baca tabel SNI saja hiks….. “Oh jadi kamu mendukung kezaliman, tidak memihak kepada pedagang yang hendak mengangkat kesejahteraan petani kecil, kamu ga ngerti politik ya, ga bisa ngitung? Anda agamanya apa?” hiks… hiksss… ampun oom….. saya cuma ngertinya makan nasi enak, itu juga ditambah lauk mie instant, ga ngerti yang begitu-begitu….. (nyam…nyam..nyam.. sambil makan nasi basmati kualitas medium dengan (kali ini bukan mie instant) menu tambahan tomyam manis pedas sehingga sedikit mngeluarkan air mata)

Location: Göttingen, German

Time: July 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s