Saat Mendapat Isu: Analisa Kesalahan Logika

Dalam agama, kita harus tabayyun (cek dan re-cek) ketika menerima suatu berita. Bagaimana caranya? ada suatu cabang ilmu yang mempelajari kesalahan logika (logical fallacy). Ini ilmu dari zaman kuda gigit besi, dan masih bisa digunakan sampai saat ini. Saya akan menggunakan contoh pemberitaan seputar impor beras, menggunakan metode yang dijabarkan oleh Bu Dina Sulaeman di sana dan di sini. Saya mohon ijin untuk mengcopy paste parameter yang digunakan dari link tersebut, dan memberikan contoh asumsi mengenai impor beras yang beredar, baik dipaparkan oleh ahli level dewa sampai level saracen. Kalau ada yang tertarik belajar lebih lanjut, ada rangkuman 100 lebih logical fallacy dari wikipedia sebagai awal. Mari kita kupas sama-sama.

 1. Argumentum ad hominem, yaitu membantah argumen seseorang dengan menyerang personalitas orang tersebut, bukan menyerang argumennya.

Contoh: “Dasar pemerintahan neo-Liberal dan kapitalis, sukanya melakukan impor”. Saya tidak akan komentar mengenai ini, karena dari tahun 2014 pemerintah pusat ak.a. Presiden RI banyak difitnah dengan segala macam hal yang tidak elok dituliskan. Sudah cukup banyak kasus fitnah yang berujung ke pengadilan, biarkan hukum yang menjawabnya. Masih banyak orang yang tidak bisa membedakan kritik dengan fitnah. Kebijakan yang dibuat jelas bukan pasti benar dan bisa memuaskan semua pihak, tapi sudah pasti melalui serangkaian pertimbangan dan pemikiran. Silahkan kritik dengan data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan, cek pertimbangan dan pemikiran yang dilakukan, dan beri masukan perbaikan akan lebih bersifat konstruktif.

Ad hominem

2. Argumentum ad verecundiam, yaitu berargumen dengan berlindung di balik kredibilitas orang atau menganggap semua perkataan orang yang dianggap kredible pasti benar, padahal kebenaran materialnya harus dibuktikan dulu dan kredibilitas seseorang harus relevan dengan pernyataannya.

Contoh sudah saya berikat pada artikel sebelum ini. Kita bisa cek perkataan ahli, apakah sesuai fakta dan logis, atau hanya asumsi dan penggiringan opini serta framming. Termasuk artikel yang saya buat, silahkan di cek kembali.

3. Argumentum ad baculum, yaitu berargumentasi dengan didasarkan pada kemungkinan buruk/ancaman bila sesuatu itu terjadi (atau tidak terjadi).

Contoh: “Impor akan menyebabkan harga gabah ditingkat petani turun saat panen nanti”. Senada dengan kesalahan logika berikutnya sebagai penjelas beberapa penyebabnya.

4. Fallacy non causa pro causa, yaitu berargumentasi secara keliru karena penyebutan ‘sebab’ yang tidak tepat (karena betul-betul bukan sebab, atau menyebut ‘akibat’ sebagai ‘sebab’, atau menyebut hanya 1 sebab padahal ada beberapa sebab)

Contoh: “Impor akan menyebabkan harga gabah ditingkat petani turun saat panen nanti”. Padahal, impor dilakukan untuk menekan harga di tingkat konsumen saat ini serta menjaga stok beras nasional, bukan untuk menurunkan harga gabah petani. Ada beberapa kemungkinan harga gabah panen turun saat panen raya nanti: 1. Beras di gudang bulog “bocor halus” ke masyarakat saat panen. Ini harus dicegah oleh sistem yang ketat dan pengawasan bersama-sama seluruh aparat, pedagang pasar dan rakyat. Jika ada info atau desas desus “bocor halus” langsung laporkan. 2. Over suply, solusinya pemerintah harus beli kelebihan beras dengan harga yang layak dan sekaligus untuk mengisi cadangan beras nasional. Solusi lainnya, gerakkan kelompok masyarakat dan mahasiswa yang peduli petani untuk memborong beras di petani kemudian di pasarkan di kota. Rekan-rekan saya di suatu himpunan alumni melakukan hal tersebut dan cukup berhasil untuk komoditas lain, pemasaran melalui group whatsapp cukup ampuh. 3. Oligopoli spekulan beras yang membanting harga. Ini harus dilawan oleh satgas pangan dan masyarakat. Jelas ya, asumsi contoh tersebut merupakan penggiringan opini.

Contoh: “Surplus beras kenapa harga naik”. Sudah dijelaskan di artikel sebelumnya. Harga naik atau turun bukan hanya masalah produksi, tetapi banyak hal lain seperti permainan spekulan beras. Ingat, pemerintah hanya memegang stok kurang lebih 3-7%, jauh dari angka ideal dari FAO 24%.

5. Argumentum ad Misericondiam, yaitu berargumentasi dengan membangkitkan belas kasihan/sentimental

Contoh: “Kasihan petani jika dilakukan impor”. Sebaliknya, jika tidak dilakukan impor, dan jika harga meloncat tinggi, masyarakat dan petani juga yang akan menderita. Petani membeli beras dari pasar, mereka cenderung menjual semua gabahnya. Masalah klasik petani kita, jual buah pisang ke pasar, pulang beli pisang goreng 😦 Tantangan pemerintah adalah menyeimbangan harga beli di tingkat petani yang layak dan harga jual di konsumen yang terjangkau.

6. Argumentum ad Populum adalah beragumen dengan berdasarkan “banyak orang yang mengatakan hal itu.”

Contoh: “Semua ahli, pengamat sampai buzzer di media menyalahkan kebijakan impor”. Silahkan cek data dan argument yang mereka ajukan dengan menggunakan parameter kesalahan logika ini.

7. Fallacy Ignoratio Elenchi: kesimpulan yang diambil dari premis tidak relevan.

Contoh: “rencana impor beras membuktikan kacaunya tata kelola pangan pemerintah rendahnya mutu data pangan”. Seperti yang dibahas pada artikel sebelumnya, masalah bukan pada keputusan impor atau tidak impor, tetapi kapan dilakukan dan berapa jumlahnya. Juga tidak ada hubungannya dengan mutu data. Mutu data tergantung pada metode dan teknik pengambilan data serta jumlah sampel. Mengenai mutu data, bisa lihat pada dokumen dari Badan Ketahanan Pangan Kementan RI. Untuk uji validasi, silahkan ambil data sendiri dengan metode yang sama. Jika menemukan metode yang lebih baik, silahkan buat paper dan buktikan secara ilmiah, dan kita uji sama-sama mutu datanya.

8. Argumentum ad ignorantiam: menyimpulkan sesuatu itu benar karena negasinya belum terbukti, atau sebaliknya.

Contoh: “Impor beras tidak perlu dilakukan karena kita masih ada stok 800rb ton”. Oya? stok itu tidak akan bertahan lama jika operasi pasar dilakukan secara masif untuk menahan laju kenaikan harga. Tahun politik ini selalu akan ada pemodal dengan uang tidak berseri siap “perang” harga dengan pemerintah. Tentu ini cerita under ground yang sulit dikonfirmasi. Sekadar petunjuk, salah satu senior di ring 1 pernah bercerita mereka tahu siapa-siapa yang bermain menahan komoditas. Mereka bertempur di belakang layar untuk memastikan harga dan komoditas tersedia untuk masyarakat. Kita harus berterimaksih untuk para petugas yang kita tidak pernah mengenal nama dan wajahnya yang telah memastikan ada makanan untuk bangsa kita.

9. Falasi aksidensi: kita memaksakan aturan umum pada suatu keadaan yang aksidental.

Contoh: “harusnya tidak impor karena masih ada stok beras 800rb ton”. Seperti sudah disampaikan, ini tahun politik, dalam situasi normal mungkin akan menunggu panen raya, tetapi situasi sudah menghangat dan pemerintah tidak mau mengambil resiko sekecil apapun jika harga beras menjadi liar tidak terkendali dan “peluru” berupa stok beras di gudang bulog tidak ada.

Contoh: “Dulu saat kampanye janji tidak akan impor”. Dalam keadaan normal, janji tersebut bisa dipenuhi. Saat ini produksi bisa surplus dan stok beras ada walau tipis. Dalam keadaan normal, memang tidak akan impor. Tapi ini tahun politik bung, goyang sedikit bisa bubar semua.

10. Falasi komposisi dan divisi: kesalahan berpikir yang muncul dari anggapan bahwa apa yang benar atau berlaku bagi individu tertentu pasti juga berlaku untuk seluruh individu yang ada pada kelompok itu.

Contoh: “jaman saya yang pimpin, saya tidak melakukan impor beras, harusnya pimpinan sekarang juga tida melakukan impor”. Keadaan 15 tahun lalu jauh berbeda dengan sekarang. Zaman itu situasi tidak serumit sekarang, jumlah penduduk tidak seperti hari ini, sistem irigasi, bendungan dan bulog masih berjalan dengan baik, politik tidak terbelah karena semua partai bergabung di pemerintahan, para spekulan tidak sekuat seperti sekarang. Zaman berbeda. Dan satu lagi yang sulit di cek secara logika, presiden saat itu dipercaya oleh sebagian orang sebagai Wali, bisa jadi karena keberkahannya beliau (pernyataan ini sulit diuji secara logika). Data ekonomi saat itu terbaik, gini ratio (kurang lebih diartikan sebagai perbandingan antara si kaya dan si miskin) terendah sepanjang masa Republik ini berdiri.

keberhasilan ekonomi era Gus Dur

Pengecekan logika hanya berlaku bagi orang-orang yang mau mempergunakan akalnya. Sayangnya, lebih banyak orang yang menggunakan nafsu membenci dan mendengki, sehingga logika dan bukti apapun yang diajukan, tidak akan berguna. Dalam agama juga diajarkan, tidak ada yang bisa dilakukan terhadap orang pembenci dan pendengki, kita hanya bisa berdoa dilindungi dari kejahatan orang dengki apabila ia mendengki, dan mudah-mudahan hatinya diberi pencerahan. Aaamiiin.

 

 

Location: Göttingen, German

Time: January 2018

Advertisements

4 thoughts on “Saat Mendapat Isu: Analisa Kesalahan Logika

  1. Pingback: Behavioral Economics | Postharvestnotes

  2. Pingback: Framing Data | Postharvestnotes

  3. Pingback: Makanan halal di eropa | Postharvestnotes

  4. Pingback: Penistaan terhadap kopi sachet | Postharvestnotes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s