Just Simplification

Setelah berdiskusi dengan salah seorang sahabat, saya menyadari bahwa masyarakat yang anti impor ada salahpaham mengenai kebijakan impor beras kali ini. Sepertinya, yang anti impor ada kesalahpahaman dalam membaca data statistik. Data stok beras nasional pemerintah a.k.a bulog dirancukan dengan data produksi beras nasional dan kebutuhan beras nasional. Sebenarnya secara sederhana, kita bisa menyusun persamaan secara sederhana sebagai berikut:

Surplus atau defisit = Produksi – Kebutuhan.

Jika angka produksi lebih besar dari kebutuhan maka akan surplus beras, sedangkan defisit akan terjadi jika produksi lebih kecil daripada kebutuhan. Simple ya…….

Lalu angka impor dimana di persamaan itu? tidak ada. Tidak ada hubungannya dengan persamaan tersebut. Impor bisa saja dilakukan saat kondisi surplus karena stok beras nasional di gudang bulog menipis, dan bisa saja tidak dilakukan impor saat defisit karena ada stok persediaan dari tahun sebelumnya lebih dari cukup. Kondisi yang bahaya adalah jika impor dilakukan karena memang terjadi defisit produksi dan tidak ada stok di gudang, ini berarti kondisi krisis pangan, dan kemungkinan besar harga impor pun akan mahal karena kita dalam kondisi butuh, satu kata kalau itu terjadi: bencana.

Lalu, apa yang berhubungan dengan impor kali ini? perhatikan persamaan berikut.

Stok beras nasional = stok bulog + stok pedagang + stok penggilingan + stok rumah tangga + stok horeka dan industri + impor

Sebaran stok beras

Ini penyederhanaan saja ya… tidak akan ditemui di teori manapun 🙂 Kondisi sebenarnya bisa sangat rumit. Stok ini berubah setiap saat, bisa naik, bisa turun pada setiap penyusun persamaan. Kebijakan saat ini setahu saya, yang melakukan impor hanya boleh pemerintah, swasta diperbolehkan dengan syarat tertentu yang diawasi ketat oleh bulog, bea cukai dan sebagainya. Ingat, tidak mungkin tanpa impor 100%, pasti selalu ada yang menginginkan jenis beras dari luar negeri seperti basmati, beras thailand dan lainnya. Lalu berapa pantasnya angka impor? entah, para ahli saja masih berdebat, belum ada angka pasti.

Apakah ada hubungan angka surplus atau defisit dengan stok beras nasional? Pastinya ada. Nah, apakah ada hubungan angka surplus atau defisit dengan faktor penyusun persamaan seperti stok bulog, stok pedagang, stok penggilingan,  stok rumah tangga, stok horeka dan industri? bisa ya, bisa tidak.

Selanjutnya kita fokus saja di stok bulog, sebagai stok beras pemerintah, karena ini yang bisa dikendalikan pemerintah secara langsung. Pemerintah tidak bisa mengendalikan stok di tempat lain secara langsung. Stok di bulog, diusahakan di kisaran 1.5-2 juta ton beras (sekitar 5-7%) dari angka konsumsi 250an juta mulut rakyat), ini pun jauh dari rekomendasi FAO yang seharusnya 6.5 juta ton beras. Kenyataan sekarang, stok beras bulog tinggal 800 ribu ton. Lalu apa yang harus dilakukan? beli dari pedagang atau penggilingan. Kalau tidak cocok kuantitas, harga dan kualitas bagaimana? ya terpaksa impor.

Terus sebagian besar ngotot, jangan impor, haram…. lalu pemerintah kudu piye?? membiarkan stok bulog turun terus dan harga terus melambung?? so what is your solution then?

ada yang jawab, kenapa tidak beli dari propinsi lain yang katanya lebih stok? wah ini bisa satu tulisan sendiri… kata kunci, kalau tahu ada beras surplus dengan harga murah di daerah lain, kenapa tidak ada pengusaha, minimal pemda setempat yang membelinya saja untuk dijual ke DKI Jakarta dan kota besar di jawa lain misalnya….. kan sudah pasti untung besar tuh, modal 8rb dijual 12 rb per kilo, sedangkan bulog cuma mau beli diharga dibawah 9rb per kilo, daripada jual ke bulog rugi, kenapa tidak itu saja yang dikejar, keuntungan 4rb kali sekian juta ton beras? kenapa hayoo…… 😉

Harga beras Indonesia, Thailand dan Vietnam. Sumber: fao.org

Saya tahu, sebagian besar teman-teman tidak suka dengan kebijakan impor ini, entah apapun alasannya, mulai dari yang belum move on sampai alasan kita kan negara kaya dan subur, kenapa impor……. Ya pasti teman-teman punya argumen dan data sendiri. Dan artikel-artikel yang saya buat ini, bukan untuk meyakinkan teman-teman untuk menyetujui impor. Tetapi untuk sama-sama belajar dan berani untuk mengecek argumen dan data yang dimiliki, pertanyaannya, beranikah dirimu? apakah ada logical fallacy di hal yang kita yakini sudah benar? Kalau sudah merasa melalui proses dialektika, lalu kesimpulan tetap seperti semula, tidak masalah kok 😉 Selanjutnya, kerjakan sesuatu hal yang positif agar negara kita tidak perlu impor lagi, lebih baik nyalakan lilin daripada hanya bisa mengutuk kegelapan.

Tahap pertama sekali lagi, sama-sama berdoa kepada Tuhan, agar dicabut rasa dengki dari hati, serta minta diberi pencerahan untuk bisa menerima kebenaran. Bagaimanapun kemampuan akal terbatas, tetapi tidak menggunakan akal ya konyol juga…. biarkan Tuhan membimbing akal kita…. biarkan Tuhan menunjuki kita jalan yang benar… ini berlaku dalam segala hal, kasus impor ini hanya study kasus saja. Bahwa ada sisi pemikiran yang berbeda, yang bisa benar, bisa juga salah, silahkan di cek saja. Tapi kalau tidak ada dialog, thesis dan anti thesis tidak akan pernah bertemu menjadi sebuah sinthesa demi kemajuan bangsa.

Location: Göttingen, German

Time: January 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s