Saluran pemasaran beras

Artikel ini sebagai jembatan untuk kita belajar membahas hal-hal lain mengenai komoditas beras. Banyak permasalahan lain, dari A sampai Z kata senior saya. Melalui proses dialektika pada artikel sebelumnya, saya mencoba mengeluarkan impor dari permasalahan beras, ada hal yang lebih penting tetapi jarang dibahas. Melalui pembahasan saluran pemasaran beras ini, mudah-mudahan bisa terjawab segala macam asumsi-asumsi yang sering diviralkan oleh para ahli. Tetapi seringkali tidak menyentuh akar permasalahan.

Sekali lagi, premis yang saya ajukan untuk mendukung kebijakan impor kali ini adalah, impor dilakukan untuk mengisi stok beras pemerintah di bulog, yang datanya sudah menurun hingga 800 ribu ton. Mengenai ada pernak-pernik cerita seperti mengapa awalnya PPI yang awalnya ditunjuk untuk impor beras bukannya bulog, juga perubahan spesifikasi beras yang hendak dibeli, itu permasalahan teknis lain. Tetap tidak merubah premis bahwa pemerintah harus impor untuk stok beras.

 

saluran pemasaran beras di cibeber

Perhatikan grafik saluran pemasaran beras berikut di Cibeber. Sumber makalah bisa di download di sini. Makalahnya menarik dan cukup jelas, menjelaskan saluran pemasaran pada setial level serta jenis pasarnya apakah persaingan sempurna, monopoli atau oligopoli dan oligopsoni. Ternyata setiap level saluran pemasaran memiliki ciri yang berbeda. Perhatikan juga saluran pemasaran beras di sumatera utara. Saluran pemasaran bisa sangat beragam dan rumit. Bisa mulai dari petani – tengkulak – pengepul – RMU – pabrik penggilingan – bandar besar – distributor – pengecer – konsumen.

Apakah sahabat melihat Bulog di situ? Tidak ada. Karena bulog bukan pedagang beras. Institusi ini berfungsi sebagai buffer jika ada bencana alam atau kelaparan, harga gabah di petani rendah atau harga di konsumen tinggi.

saluran pemasaran beras di sumatera utara

Lalu stok beras bulog darimana? bisa beli dari petani atau impor. Keputusan untuk membeli dari petani atau impor, tergantung situasi yang dihadapi. Kenyataannya, bulog tidak mudah untuk membeli gabah atau beras dari petani, karena pedagang beras atau tengkulak berani membeli beras lebih mahal dari yang bulog tawarkan. Bulog hanya bisa membeli gabah atau beras berdasarkan keputusan pemerintah. Misal, bulog diberi mandat membeli gabah dengan harga Rp 4900, sedangkan di lapangan harga sudah Rp 5500. Bulog tidak bisa beli. Siapa yang mau nombok selisih harga pembelian?

Petani juga dapat untung ketika harga gabah tinggi dibeli oleh para pedagang, kan tidak masuk akal juga petani dipaksa menjual ke bulog dengan tingkat harga yang diinginkan. Hal ini juga sekaligus menjawab banyak kepala daerah yang menyampaikan bahwa daerahnya surplus beras sekian juta ton. Pertanyaannya, maukah berasnya dibeli dengan harga yang diajukan bulog, dengan jaminan kualitas yang ditentukan serta waktu pengiriman sesuai kontrak? beli satu dua karung mungkin mudah, tetapi ketika skalanya sudah ratusan ribu ton, tidak semudah itu.

Jadi, tidak ada urusannya bulog dengan saluran pemasaran. Petani bisa menjual beras kepada bulog atau pedagang beras. Ingat, bulog hanya menguasai 3-7% stok beras. Justru yang lebih lega untuk saluran pemasaran adalah pedagang beras. Ngapain juga meributkan bulog harus beli beras petani, toh harga yang ditawarkan bulog lebih rendah. Bulog baru memainkan perannya jika harga gabah jatuh di tingkat petani, itu sudah kewajibannya.

Seringkali intervensi operasi pasar bulog untuk menurunkan harga di tingkat konsumen tidak berhasil, atau kurang efektif. Bsa jadi karena metode operasi pasarnya kurang tepat, atau kekuatan rantai distribusi beras yang begitu kuat a.k.a. spekulan. Nah, kenapa tidak semua mata mulai fokus terhadap spekulan ini yang memainkan harga. Daripada sibuk mensleding kementan, kemendag atau bulog, mari kita mulai sleding spekulan ini.

Aparat pemerintah harus kompak menghadapi situasi, jangan mau diadudomba. Kementan disalahkan karena katanya produksi gagal, kemendag disalahkan karena kebijakan impor, bulog disalahkan karena tidak becus jaga stok beras. Sudah mulai terlihat polanya? dan beberapa stake holder terpancing, apalagi kalau pernyataan-pernyataannyadigoreng media  akan makin sedap. Plus buzzer medsos masuk, wuihh makin renyah. Nanti diadulah pernyataannya kementan kok begini, pernyataan kemendag kok gitu, diaduk-aduk tanpa melihat frame waktu serta pelintiran-pelintiran berita.

Faktanya, produksi berjalan dengan baik, kita surplus, kemendag sudah membuat keputusan betul untuk impor, dan bulog sudah siap membeli gabah atau beras jika terjadi panen raya dan harga merosot tajam.

Tapi kok, harga melambung begini? Nah, itu…. mulailah belajar untuk mengarahkan mata dan hati sahabat di saluran pemasaran beras ini….. Masalah sebenarnya ada disini. Bukan impor atau tidak impor. Kita simak di artikel lain untuk mengupas permasalahan gonjang ganjing harga tersebut. Cukup ya urusan impar impornya 😉

 

Location: Göttingen, German

Time: January 2018

Advertisements

2 thoughts on “Saluran pemasaran beras

  1. Pingback: Behavioral Economics | Postharvestnotes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s