Era disrupsi: iBeras

Artikel sebelumnya membahas mengenai permasalahan yang dihadapi petani. Tentu itu belum semuanya. Banyak lagi seperti permasalahan ketersediaan air, masalah teknik budidaya dan hama penyakit, curah hujan dan musim yang tidak menentu serta tingkat kesuburan lahan tanah. Perlahan-lahan akan kita kupas pada lain kesempatan. Tidak mudah toh menjadi petani. Ini untuk menunjukkan betapa rumitnya jalan berliku yang harus ditempuh untuk mencapai kondisi ketahanan pangan. Dan di bagian inilah sebagian besar merupakan tanggup jawab kami di kementan.

saluran pemasaran beras di cibeber

Kita lanjut ke tahap berikutnya dari saluran pemasaran beras: tengkulak-penggilingan-pedagang besar, singkat cerita adalah sistem distribusi. Pada makalah mengenai sistem pemasaran beras di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, dijelaskan bahwa oligopoli terjadi di bagian tengah sistem distribusi. Kurang lebih, dibagian tengah inilah yang memegang peranan cukup kuat untuk melakukan penimbunan stok dan penentuan harga. Sudah ada beberapa kasus yang terungkap, tetapi prestasi KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) dan Satgas Pangan bisa jadi lebih ditingkatkan lagi jika mereka punya wewenang semacam KPK untuk urusan korupsi. Wah, pasti hasilnya makin greget.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai rakyat kecil untuk menghadapi situasi ini? Bagaimana caranya gabah di petani bisa dibeli dengan harga yang bagus agar mereka sejahtera, tetapi dalam saat yang bersamaan harga di tIngkat konsumen bisa cukup rendah dan stabil? Apakah mungkin melawan pemain-pemain besar yang sudah mapan dengan kekuatan uang tidak terbatas? apalagi ditambah kekuatan politik yang ikut bermain? Ingat, beras adalah komoditas politik.

Jawabannya adalah dengan memanfaatkan dan membangun startup. Kita memasuki era disrupsi. Era dimana perusahaan besar tiba-tiba runtuh oleh pesaing baru. Contoh gamblang adalah Nokia dan Blackberry di dunia smartphone. Dunia perhotelan diguncang oleh aplikasi semacam airbnb. Dunia transportasi dibuat kalangkabut dengan adanya gojek, uber dan grab. Dunia kuliner mulai terdisrupsi oleh gofood dan madhang, sampai jargon lokasi, lokasi dan lokasi sudah tidak berlaku lagi untuk penentuan rumah makan. Dunia retail? terlalu banyak online shop untuk disebutkan yang menyebabkan banyak toko retail ditutup. Untuk pakar mengenai perubahan dan era disrupsi, silahkan ikuti seri tulisan Prof Rhenald Kasali.

sumber: rumahperubahan.co.id

 

Lalu kapan hegemoni industri beras ini mulai diguncang startup? harapan saya, segera. Sudah ada startup untuk produk rumput laut di Bali yang bernama Shushi, produk sapi bernama karapan dan aneka bawang serta cabai dibawah bendera limakilo.

Ketiganya memiliki semangat yang sama. Memberikan kesejahteraan untuk petani, meningkatkan kualitas produk serta menjaga harga stabil dan terjangkau untuk tingkat konsumen. Source code sudah ada, pengalaman sudah ada, tinggal dirubah sedikit komoditasnya menjadi beras. Ya, iBeras šŸ™‚

iBeras belum ada yang buat. Kalau ada yang pakai merek ini, kasih saya 10% dari keuntungan ya šŸ˜‰ Dengan semangat yang sama, aplikasi atau web iBeras ini harus bisa menjangkau petani yang hendak menjual gabahnya serta konsumen di kota yang hendak membeli beras kualitas bagus harga bersaing. Mengenai teknis detil bisnis, kita bisa bicarakan sambil ngopi-ngopi jika ada sahabat yang tertarik.

Saya beri gambaran sedikit. Startup bisa membeli ke petani berupa gabah atau beras, tapi saya akan lebih prefer untuk membeli berupa beras dari petani. Jadi ada unit penggilingan beras yang akan datang ke rumah petani, giling di tempat. Hal ini sekaligus akan menyelesaikan beberapa persoalan. Pertama kulit gabah atau dedak sisa penggilingan bisa dikembalikan ke lahan petani sebagai pupuk organik atau sebagai campuran bahan pakan ternak. Selain itu mengurangi bobot produk yang akan ditransportasikan, yang berarti menghemat biaya bahan bakar dan tempat penyimpanan. Petani pada umumnya menjual keseluruhan gabah, kemudian malah mereka membeli beras dari pasar. IniĀ  sama saja seperti jual pisang ke pasar, pulang ke rumah beli pisangĀ  goreng. Ini sangat memiskinkan petani. Biarkan petani menyimpan beras sesuai kebutuhannya, selebihnya dibeli oleh startup.

Bagaimana startup bisa melakukan penggilingan gabah? lupakan konsep punya pabrik penggilingan. Penggilingan berjalan bisa dilakukan, dan alatnya pun sudah murah serta dibuat dibengkel lokal. Saya pun pernah melihatnya di pelosok desa. Ini sangat membantu. Kadang disebut huller keliling, atau selep keliling. Ya, selep bahasa petani untuk aktifitas penggilingan gabah menjadi beras. Mengenai kreatifitas, orang Indonesia memang nomer wahid, keren. Bisa merubah barang rongsokan menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat. Kapasitas penggilingan saya perkirakan bisa diatas 500 kg/ jam. Kelemahan mobil modifikasi macam ini, hanya bisa beroperasi di jalanan desa, dalam desa setempat. Tidak mungkin dibawa ke kota macam Jakarta.

Nah, untuk mengatasi hal ini, kita memerlukan mobil pabrikan resmi yang dirancang bisa untuk menggiling padi. Perlu investasi pastinya, perkiraan saya di sekitar angka 100 juta. Tuan dan Puan, saya perkenalkan, Mahesa. Mobil rancangan pabrikan yang sama dengan esemka. Esemka sendiri tidak bisa produksi massal karena tidak ada investor yang berminat. Mahesa dirancang untuk melayani kebutuhan pedesaan, jadi bisa digunakan untuk pengairan, penggilingan sampai pengangkuan hasil panen. Ini cocok untuk keperluan startup iBeras.

Hasil pengilingan berupa beras, akan mudah diangkut ke kota menggunakan kendaraan buatan pabrikan lokal ini. Jadi modal berupa mobil ini akan sangat efektif dan efisien, selalu digunakan setiap saat. Jika tidak sedang musim panen padi, kendaraan pun bisa digunakan untuk mengairi kebun, memproses jagung, kedelai serta hasil panen lainnya. Angkut sayur atau hasil bumi lainnya ke kota. Mantab toh….. Dan tidak perlu takut ditilang karena kendaraan resmi dengan surat-surat resmi.

Juga startup ini tidak perlu pergudangan beras yang besar. Setiap hari, beras hasil gilingan bisa langsung dibawa ke kota dan didistribusikan. Melalui aplikasi iBeras ini, konsumen kota juga bisa membeli beras dengan harga bersaing, dan beras diantar sampai rumah. Saya hitung secara singkat, dengan harga beli gabah di petani Rp 5 ribu per kg, dengan memperhatikanĀ  rendemen gabah ke beras, lalu biaya variable cost, jual Rp 9 ribu ke konsumen akhir sudah sangat untung besar. Bulog saat ini hanya sanggup membeli Rp 4.050 per kg gabah.

Jika sistem ini bisa berjalan, akan membawa keberkahan untuk petani, bengkel lokal, programmer sampai konsumen akhir. Akan membuat kesejahteraan untuk banyak pihak. Keuntungan besar yang selama ini hanya dinikmati oleh segelintir orang dengan mengorbankan banyak orang lainnya, akan mulai terdistribusi dengan baik. Semoga. Nah, untuk sahabat yang peduli terhadap kesejahteraan petani serta kemajuan NKRI, yuk kita bekerjasama mewujudkan hal ini menjadi kenyataan šŸ™‚

 

Location: Gƶttingen, German

Time: February 2018

Advertisements

One thought on “Era disrupsi: iBeras

  1. Pingback: Behavioral Economics | Postharvestnotes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s