Konsumsi beras orang Indonesia

Untuk mengetahui berapa sebenarnya kebutuhan beras nasional, seperti yang dibahas pada artikel sebelumnya, tidak semudah itu. Penyederhanaan masalahnya ya jumlah penduduk tahun yang dimaksud dikalikan dengan berapa jumlah beras yang dikonsumsi per orang. Tapi pendekatan model macam begini akan sangat beresiko menyimpang dari jumlah sesungguhnya yang diperlukan. Pertama, jumlah penduduk selalu berubah setiap saat. Tentu perkiraan jumlah penduduk bisa diharapkan lebih mendekati kenyataan. Tetapi secara pasti? mungkin bisa 99% mendekati angka real kalau program e-KTP kita beres. Satu orang satu identitas tunggal. Lah 1%nya bagaimana? selalu ada saja penyelundup yang memasuki wilayah NKRI ini serta angka kelahiran atau kematian yang terlambat dilaporkan.

Seperti pengalaman saya selama nyantri di German, hanya dengan menyebut nama dan tanggal lahir, keluar lah itu data di balaikota mulai dari alamat rumah, nomer telp, nomer asuransi dan lain-lain. Negara kita sedang mengarah ke sana untuk tertib administrasi, walau sedang tersandung kasus e-KTP serta protes segelintir warga yang menentang pendaftaran nomer telepon dengan narasi data buat kepentingan pemilu lah, data bocor lah. Padahal di banyak negara lain di seluruh dunia, merupakan suatu norma untuk mendaftarkan nomer paspor atau identitas untuk mendapatkan nomer telp.

Kemudian, menghitung berapa sebenarnya konsumsi beras per orang juga tidak mudah. Secara resmi, pemerintah mengacu perhitungan data dari BPS. Data tersebut diperoleh berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dari 10512 rumah tangga. Metode lengkapnya bisa dilihat pada link berikut. Bisakah 10512 rumah tangga tersebut mewakili penduduk Indonesia? Bisa. Itulah pentingnya mempelajari ilmu statistik, yaitu bagaimana menghitung sample untuk memperkirakan populasi. Ingat, penghitungan jumlah sample dibatasi oleh waktu dan biaya. Makin banyak sample akan makin banyak waktu yang dibutuhkan serta biaya makin membengkak. Menghitung konsumsi populasi real? hil yang mustahal untuk saat ini. Kecuali nanti seluruh warga Indonesia sudah online dan bersedia mengupload data konsumsinya sehari-hari. Keakuratan statistik sudah teruji kok, contohnya quick count pemilu yang terbukti errornya dibawah 1%.

Permasalahannya, ada lembaga lain yang mengeluarkan data berbeda.  Jika menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 87,63kg/tahun atau 240gr/hari, BPS/Kemendag 114kg/tahun atau 312gr/hari, Kementan 124kg/tahun atau 340gr/hari dan Badan Pusat Statistik 139kg/tahun atau 380gr/hari. Hmmm… agak rancu juga nih, data yang sama dari susenas bisa dihitung berbeda oleh BPS. Yup, kita bisa akses data susenas kemudian menghitungnya sendiri berdasarkan asumsi-asumsi yang kita gunakan.

Nah, disinilah terbuka ruang untuk debat secara ilmiah. Angka mana yang lebih mendekati kenyataan berdasarkan waktu. Ada ahli tingkat dewa, dengan gampangnya mengatakan survei yang satu terlalu tinggi, hasil yang lain terlalu rendah, jadi yang benar adalah hasil perhitungan yang diantaranya. Lah, ini sih namanya hitung kancing, tebak-tebakan juga. Bahasa mana yang benar juga merupakan bahasa politis. Lebih tepat jika menggunakan “mana yang lebih mendekati kenyataan”.

Silahkan para peneliti untuk mengembangkan metode untuk menentukan konsumsi penduduk Indonesia. Kritisi dan challenge metode yang digunakan oleh BPS serta lembaga lain. Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan adalah berapa ukuran sample, bagaimana cara pengambilan data, dimana data diperoleh. Diseminasikan, yakinkan kami bahwa metode dan data anda yang lebih tepat.

Menurut saya, penyederhanaan angka konsumsi per kapita sedikit misleading. Ada sebagian fakta yang hilang. Contoh, masa sih konsumsi beras untuk bayi sama dengan orang dewasa sebanyak 139 kg per tahun? Untuk itu, beberapa kriteria sample seharusnya masuk untuk dapat menggambarkan keragaman penduduk di Indonesia.

  1. Usia: a. laki, b. perempuan
  2. Umur: a. 0-2, b. 3-5, c. 6-12, d.13-18, e 19-25, f. 26-50. g >50 tahun.
  3. lokasi: 34 propinsi
  4. pekerjaan dan aktifitas: a. pelajar/mahasiswa/belum bekerja, b. atlet, c tentara/polisi, d. pegawai kantor/pns/, e.  buruh

Ini hanya gambaran saja. Jadi kita akan mempunyai beberapa angka tingkat konsumsi untuk jenis kelamin berbeda, tingkat usia, pekerjaan dan akitifitas serta lokasi tinggal. Beda propinsi punya kebudayaan berbeda, wajar dong kalau tingkat konsumsi beras berbeda. Gaya hidup perkotaan tentu beda dengan gaya hidup di desa. Bayi masih konsumsi ASI atau susu formula atau MPASI, masa disamakan dengan kebutuhan remaja. Kebutuhan makan nasi untuk pekerja kasar tentu beda dengan mahasiswa yang mungkin cukup dengan konsumsi mie instan plus micin plus telur 🙂

Metode dan data untuk menentukan tingkat konsumsi beras harus diperbaiki secara terus menerus. Setiap tahun, gaya hidup manusia Indonesia bisa berubah yang berarti tingkat konsumsi beras bisa berubah. Gaya hidup ngafe+ croissant atau roti bakar, makan roti dan mie instan serta fastfood ala barat, diet keto sudah menjadi bagian sehari-hari dari kehidupan warga. Digabungkan dengan data dari e-KTP, diharapkan kebutuhan beras nasional makin mendekati angka real. Untuk menuju kesana, buat kajian dulu metode penghitungan yang lebih baik serta selesaikan permasalahan e-KTP. Jangan cuma bisa share link nyinyir saja ya 😉 tringg…. trringg

Location: Göttingen, German

Time: April 2018

Advertisements

One thought on “Konsumsi beras orang Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s