Makanan halal di eropa

Makanan halal yang saya bahas di sini dalam konteks keyakinan saya, yaitu dalam koridor 4 mazhab sunni dalam Islam. Konsep “halal” sendiri berbeda-beda untuk setiap keyakinan dan agama. Penganut Yahudi mempunyai sistem yang disebut kosher. Pemganut Nasrani juga punya sistem sendiri terutama pada masa advent. Banyak juga yang tidak mengkonsumsi daging babi. Di wilayah kota Göttingen, German, yang dominan adalah Evangelisch. Jadi setiap hari jum’at di kantin kampus hanya tersedia ikan, tidak ada menu daging lain. Kalau ada yang berpikir German adalah negara sekuler, pikirkanlah kembali. Bahkan dalam sistem gaji, untuk yang menganut Nasrani otomatis dipotong perpuluhan. Sedangkan negara kita, baru saja ada wacana pemotongan zakat, netizen langsung ribut hmmmm…….

Tentu banyak sistem makanan lain, diantaranya seperti penganut Hindu yang tidak memakan daging sapi, ummat Budha yang tidak mengkonsumsi beberapa jenis daging, juga di era modern ada kelompok vegan dan vegetarisch (ini dua mahluk berbeda loh) dan berbagai macam sistem diet lainnya,  serta sebagian penganut kepercayaan yang biasa puasa mutih. Belum lagi diperumit dengan orang yang alergi kacang, minyak atau lainnya. Dengan memahami perbedaan yang ada, kita diharapkan untuk saling menghargai kepercayaan yang berbeda termasuk jenis makanan yang boleh dan tidak boleh disentuh. Suasana toleransi sangat terasa saat kita ada acara grillen atau barbeque, atau makan bersama. Makanan yang disajikan jelas, kadang dibuat etiket agar orang tahu mana yang bisa diambil untuk dirinya.

Mencari makanan halal untuk muslim penganut faham 4 mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) di eropa tidak ada kesulitan. Di setiap tempat selalu ada gerai Döner kebab, atau restoran yang terkadang memasang sertifikat halal. Toko halal ada di banyak kota. Di swalayan biasa pun sudah banyak produk halal yang diproduksi di dalam German. Sebagian tidak mencantumkan logo halal tetapi dinyatakan di website perusahaan, atau bisa bertanya langsung ke customer service perusahaannya. Aplikasi untuk mengecek makanan halal berdasarkan barcode juga tersedia. Di German sendiri, pasar untuk produk halal makin meningkat sehingga banyak produsen yang ikut mengais rejeki di ceruk pasar tersebut.

Empat imam mazhab tersebut merupakan generasi awal dalam Islam, jadi aman untuk mengikuti pendapat mereka. Beliau Rahimahullah hidup pada generasi yang mendekati masa kenabian SAW. Mazhab sebenarnya merupakan metodologi, bagaimana menentukan hukun sesuatu. Tentu karena perbedaan metodologi, hasil ijtihad mereka bisa berbeda. Tidak ada masalah, tinggal pilih salah satu pendapat yang diyakini lebih cocok untuk diri pribadi. Dan tidak perlu anggap pendapat yang lain adalah salah.

Hal-hal seperti ini dibahas dalam buku “dari hukum makanan tanpa label halal hingga memilih mazhab yang cocok”, karya Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, L.L.M., M.A. (Hons), Ph.D. Beliau merupakan profesor hukum di Monash University, Australia, memegang 2 gelar Doktor, anak kiyai dan dirinya juga kiyai, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand. Tentu kita tidak perlu terjebak pada kesalahan logika Argumentum ad verecundiam. Silahkan dicek sendiri kajian yang dibuat oleh beliau. Kiyai muda ini juga banyak menulis dengan tema-tema kekinian seperti tafsir quran di medsos, tentang sejarah khilafah dan lain-lain. Simak saja tulisannya di website pribadi, geotimes, twitter dan entah aktif nulis dimana lagi.

Saya belum membaca lengkap buku ini, baru sebagian saja. Inti dasarnya adalah jelas, menghargai perbedaan pendapat di 4 mazhab sunni. Dan tema buku ini cocok untuk orang muslim pengikut 4 mazhab tersebut yang tinggal di negara bukan mayoritas Islam. Pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana jika yang memotong daging bukan dari ahli kitab, apakah cukup dengan baca bismillah, kode E471, apakah semua alkohol haram dikupas tuntas berdasarkan pendekatan kekinian. Silahkan dibeli bukunya atau didownload di playstore.

Pada prinsipnya, Muslim mengkonsumsi makanan halal dan tayyib (baik). Halal tidak cukup, tapi juga baik buat kesehatan, tidak menjijikkan, mencakup juga konsep pertanian berkelanjutan yang tidak merusak lingkungan, tidak menyiksa binatang atau tanaman. Prinsip selanjutnya adalah pada umumnya halal jika tidak disebutkan haram. Dan yang disebut haram tidak banyak, diantaranya adalah babi, darah dan khamr. Selain itu, debatable, tergantung metodologi mazhab.

Daging babi jelas semua sepakat, itu haram jika dimakan. Jangan salah, babi nya sendiri tidak haram, itu makhluk Tuhan loh ya. Tidak perlu menghina babi. Babi berhak hidup dan beranak pinak. Hati-hati menistakan mahluk Tuhan. Tuhan sendiri memberikan hak hidup pada mahluk lucu ini. Hanya, babi, sekali lagi menurut keyakinan Muslim penganut 4 mazhab, mendapatkan takdirnya sendiri haram dimakan oleh kaum muslim. Mengapa babi haram? ya perintahnya begitu. Kalau disangkutpautkan karena babi mengandung cacing pita, itu hanya cocokologi saja.

Saya pernah mendatangi semacam lokasi penelitian babi milik Uni, babinya steril dalam pengertian tidak ada penyakit, bersih kandangnya. Bahkan kita manusia yang tidak boleh dekat-dekat babi tersebut karena bisa membawa penyakit untuk babi yang sehat tersebut. Babi-babi ini setahu saja untuk penelitian kedokteran. Sudah ada beberapa organ babi yang ditransplantasi ke manusia karena kemiripan genetik, bahkan manusia lebih dekat secara genetik ke babi dari pada kera, monyet, simpanse, orangutan dan saudara-saudara yang lain.

Nah, bagaimana dengan gelatine, produk turunan dari tulang babi. Sebagian besar tetap mengharamkan. Gelatine bisa juga didapat dari sapi. Nah, kalau sapinya tidak dipotong berdasarkan syariat agama bagaimana? lalu jika bagian dari babi, seperti kulitnya digunakan untuk tas, sepatu atau produk kulit lainnya bagaimana? mulai ada perbedaan pendapat disini.

Khamr itu pengertiannya kurang lebih sesuatu yang memabukkan jika dikonsumsi. Tidak pas begitu, tapi ini kurang lebih. Makanya tidak spesifik ke alkohol. Karena alkohol sendiri buanyak ragamnya, ada metanol, etanol dan lain-lain. Kalau patokannya alkohol, tape atau peyem bisa jadi haram karena mengandung alkohol. Kenyataannya tape atau peyem boleh dimakan. Masih banyak lagi kasus yang ditemui di produk makanan, seperti mono und diglycerida. Apakah bacon pasti haram? ternyata ada tuh bacon dari sapi. Tidak perlu pusing, hampir semua urusan sudah ada jawabannya, tinggal ngaji saja sama ulama-ulama bersanad dari ke 4 mazhab tersebut, ambil salah satu pendapat, ga perlu ribut.

Tidak ada pendapat fiqih yang mutlak. Tergantung situasi dan kondisi. Jika situasi darurat, misal situasinya ada kita ada ditengah laut. Sudah beberapa lama terombang ambing di lautan tanpa terlihat tanda-tanda daratan. Tidak ada ikan, tidak ada bahan makanan lain. Yang ada hanya babi. Minum air laut hanya akan memperparah kondisi. Pada kondisi ekstrim ini, fiqih memberi jalan keluar diperbolehkan konsumsi daging babi hanya untuk sekedar bertahan hidup. Lalu bagaimana jika menggunakan enzim babi, misal untuk pembuatan vaksin untuk menyelamatkan hidup anak-anak dari penyakit mematikan karena tidak ada alternatif pengganti? Nah, silahkan merujuk pendapat mazhab masing-masing, tidak perlu ribut 🙂 Sebagian besar permasalahan sudah di jawab oleh ulama bersanad, tinggal kita saja yang perlu mengaji sama mereka. Ingat, ulama bersanad ya, bukan cuma sekedar lulusan universitas.

Saat belajar ilmu pangan dan gizi, saya masih ingat perkataan dosennya. setelah kita kaji, kebanyakan makanan yang kita makan bisa jadi subhat atau meragukan, juga tidak tayyib atau baik. makin banyak tahu ilmu pangan, makin malas rasanya untuk makan ini itu karena tahu isi kandungannya seperti apa. Dosen tersebut berkata, prinsipnya adalah baca bismillah dan  jangan berlebihan. Kalau tidak begitu, jadinya malas lihat semua makanan karena mungkin tidak memenuhi kriteria halal dan tayyib.

Nah, kalau metodologinya cuma “itu tidak ada di zaman kenabian”, atau “Nabi SAW tidak pernah melakukannya atau memakannya”, wah ya semua makanan dan minuman di hari ini bid’ah dan haram semua. Prinsip ini gugur dengan sendirinya. Zaman dulu tidak ada sayur asam, brownies kukus, pizza, kopi dan lain-lain. Yup, kopi pun saat awal kemunculannya sempat diharamkan, karena tidak ada pada teks kitab suci dan hadits manapun. Bukan hanya di dunia muslim, Pope pun pernah mengharamkan kopi untuk kaum nasrani.

Makan bukan urusan sepele karena termasuk salah satu ibadah. Sebelum makan berdoa, dan sesudah makan berdoa. Bahkan doanya dikaitkan dengan permintaan rezeki dan dijauhkan dari api neraka. Ada hubungan apa coba makan dengan lindungan dari api neraka? Mari kita renungkan………

 

Location: Göttingen, German

Time: April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s