Penistaan terhadap kopi sachet

Saya beberapakali mendapat pesan WA tentang kopi sachet. Pesan tersebut masih saja beredar. Ada beberapa kawan yang bertanya mengenai artikel tersebut. Saya hanya menyebut terdapat beberapa kesalahan logika dalam artikel tentang kopi sachet karena keterbatasan ruang WA.

Bisa dikatakan, artikel ini patut diduga menistakan kopi sachet dan secara tidak langsung menistakan peminumnya 🙂 Kata penistaan begitu populer akhir-akhir ini walau mengalami penyempitan makna berlaku hanya untuk kelompok yang bersebrangan kelompoknya.. ye kan…

Artikel tersebut dimulai dengan penyebutan nama Prof Achmad Subagio dengan tambahan keterangan 1.Ketua Lembaga Penelitian ( Lemlit ) Universitas Jember, Jawa Timur, 2.Pakar pertanian dan juga pakar pengolahan pangan Lulusan Jepang. 3.Penemu tepung Modified Cassava Flour (MOCAF). Menyiratkan seakan-akan Prof Achmad Subagio yang menulis artikel tersebut unutuk menunjukkan bahwa seakan-akan isi artikel patut dipertimbangkan sebagai benar. Entah benar atau tidak bahwa beliau yang menulis artikel tersebut, tetapi penyebutan keterangan yang tidak ada hubungannya dengan kopi menjadi paradox tersendiri. Untuk amannya, kita fokus ke isi artikel saja untuk menghindari Argumentum ad verecundiam dan argumentum ad hominem. Kita bahas per item masalah.

Kopi bubuk berbeda dengan kopi instan

Kopi instan yang dikemas dan mengandung krimer bisa menimbulkan efek negative dalam tubuh.
Kandungan krimer nabati jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan Hipertensi dan penyumbatan pembuluh darah. Karena Krimer nabati tidak dapat dicerna sempurna oleh tubuh.

Ada beberapa kesalahan logika di sini. Kopi sachet bisa berisi kopi bubuk atau kopi instan. Dua hal yang berbeda. Kopi bubuk merupakan biji kopi yang digiling menjadi bubuk. Sedangkan kopi instan merupakan sari kopi yang dikeringkan menjadi bubuk. Penjelasan kopi instan ini hanya penyederhanaan karena sebenarnya agak teknis, meliputi serangkaian proses pengolahan. Sementara kita pakai pengertian ini.

Kemudian, tidak semua kopi instan dalam kemasan sachet, ada juga dalam kemasan botol kaca. Lalu kopi instan banyak jenisnya, ada yang murni kopi instan, ada yang dicampur gula atau kreamer. Tidak jelas apa yang mau dibahas pada artikel tersebut, pengertian subjek pembahasan rancu.

Pernyataan kopi instan yang dikemas (kemasan apa, sachet atau lainnya?) menimbulkan efek negative, klaim ini tidak jelas karena bisa juga menimbulkan efek positif yee kaann. Klaim selanjutnya menimbulkan hipertensi dan penyumbatan pembuluh darah, tidak dapat dicerna sempurna oleh tubuh juga tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jawaban untuk ini bisa sangat panjang, intinya kreamer lolos uji kesehatan makanan dan secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Peragaan percobaan kecil dengan tiga buah lilin menyala, yg ditaburi krimer nabati di atasnya nyalanya semakin membesar, bukannya mati. Ini karena krimer nabati bersifat eksplosif, mudah meledak atau eksplosif tinggi. Jadi banyak mengonsumsi  kopi krimer, sama halnya dengan memasukkan kolesterol kering dalam tubuh, karena susah dicerna oleh tubuh.

Penelitian efek kreamer terhadap tubuh ya harus dengan metode tertentu, misal dengan menggunakan tikus lab untuk melihat kombinasi dosis, frekwensi dan parameter lainnya terhadap fungsi tubuh. Bukan dengan bakar lilin, memangnya mau ritual ….. ah sudahlah…. Bagus juga idenya untuk yang sedang ritual cari uang, pakai kreamer saja agar lilinnya tidak padam 🙂 Lagipula, kok kreamer sudah seperti bubuk mesiu yah mudah meledak? kalau disebut mudah terbakar masih masuk akal. Kolesterol? ada kolesterol “baik” dan “buruk”. Tubuh kita perlu kolesterol, mana yang dimaksud?

IMG_8352

Ritual mencari uang via medium lilin 🙂

Boleh mengkonsumsi kopi instan, namun jangan banyak-banyak

Setelah bilang bahaya, sekarang membolehkan. Tidak konsisten. Kalau bahaya, ya jangan diminum walau sedikit, namanya juga bahaya. Jangan banyak-banyak? apa ukuran banyak atau sedikit? Ada yang sanggup minum 1 gelas, ada yang sampai 5 gelas kopi per hari, ada yang tidak bisa minum kopi, tergantung tubuh orang. Untuk yang tidak bisa minum kopi, 1 gelas sudah terlalu banyak.

Lalu bagaimana dengan white coffee? White coffee, sebenarnya “bukan jenis kopi putih, warna putih” itu didapatkan dari estrak gula atau minyak nabati yang diekstraksi. Proses ekstraksi bahan tersebut menggunakan *bahan kimia.* Proses pembuatannya juga tidak memenuhi standar kesehatan, kopi disangrai dengan suhu kecil, sehingga kandungan kafein dan asam tidak turun. Hal itu dilakukan, agar warna bubuk yang dihasilkan tidak terlalu hitam, hal ini tidak bagus untuk kesehatan, karena bisa menyebabkan kanker.

Memang tidak ada kopi warna putih, itu dari kreamer. Itu hanya teknik marketing saja. Nah, kata menggunakan ekstraksi dari bahan kimia ini sangat menyesatkan. Menyeduh kopi juga menggunakan bahan kimia yaitu H2O alias air. Kalimat selanjutnya, klaim sudah terlalu jauh bahwa bisa menyebabkan kanker. Jawaban untuk ini bisa panjang. Intinya selama tidak ada data ilmiah, itu hanya klaim kosong saja. Biji kopi juga tidak bisa disangrai dengan suhu kecil (kecil itu berapa?), minimal diatas 230 C untuk bisa terjadi first dan second crack. Kalau tidak ada first and second crack, ya tidak jadi minuman kopi seperti yang kita kenal.

*MINUM KOPI YG TEPAT*. Mengkonsumsi kopi hendaknya secukupnya saja dan tidak berlebihan. Disarankan dikonsumsi *tanpa gula dua kali sehari,* secangkir di pagi hari setelah sarapan dan secangkir sore hari setelah makan.

Tidak ada cara minum kopi yang tepat, suka-suka anda saja. Bebas. Setiap orang punya preferensinya masing-masing.

Kopi hitam tanpa gula memberikan manfaat bagi tubuh, terutama penderita diabetes, karena kopi hitam mengandung ;
-60 persen nutrisi.
-20 persen vitamin
-10 persen kalori
-10 persen mineral.

Kesannya benar, kandungan bahan tersebut jika dijumlahkan jadi 100%. Padahal misleading. Tidak jelas maksud kopi hitam disini, bubuk kopinya atau minuman kopinya? Kalau yang dimaksud minuman kopi nya, asumsinya kopi hitam adalah kopi bubuk plus air panas, ya sudah pasti 98% lebih isinya air.

Berikut ini manfaat meminum kopi tanpa gula bagi kesehatan tubuh: -Meningkatkan daya ingat. -Membantu otak tetap aktif juga membantu mengaktifkan saraf utk mencegah dimensia dini. -Meningkatkan kecerdasan, kafein merupakan simultan psikoaktif yang bereaksi dengan tubuh dan dapat meningkatkan mood, energi dan fungsi kognitif seseorang. -Membantu membersihkan “isi perut”, jadi akan kerap buang air kecil. -Membuat racun dan bakteri dalam tubuh yang ada di perut keluar bersama urine. -Membantu menurunkan berat badan, karena dapat membakar lemak. -Dapat meningkatkan metabolisme tubuh. -Mengatasi penyakit jantung, mengurangi tingkat peradangan dalam tubuh sehingga menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. -Sebagai antioksidan, secangkir kopi mengandung vitamin B2, B3 dan B5 serta mangan, magnesium dan kalium.

_*Mulailah untuk minum kopi tanpa gula dari sekarang*_
Minum kopi hitam dua kali sehari dapat mencegah penyakit Parkinson, karena kafein meningkatkan kadar dopamin dalam tubuh.
*Manfaat terakhir..:*
Dapat meningkatkan mood sehingga menjadi “obat” terbaik untuk melawan depresi…

Klaim saja. Terlalu banyak variabel dan parameter untuk dibahas dan bisa dibuktikan klaim tersebut.

Jadi, jangan nistakan kopi sachet karena klaim yang tidak berdasar. Tidak semua orang bisa minum kopi di gerai internasional yang seharga per cup nya di kisaran 35rb rupiah, atau kopi bermerk yang per kilonya ratusan ribu rupiah. Sebagian besar rakyat kita ya mampunya minum kopi sachet, entah itu isinya kopi bubuk atau kopi instan dengan segala macam variasi bahan campuran lain seperti gula atau creamer seharga 1-2 rb rupiah. Pangsa pasar di ceruk ini juga besar, jangan diremehkan. Sekali lagi, terserah sobat mau minum kopi dengan gaya apa, sama siapa, dimana dan sambil ngapain 🙂 Tapi jangan remehkan selera orang lain, apalagi kemampuan ekonominya. Selera tidak bisa diperdebatkan.

Begitu banyak pesan yang bersliweran di WA yang sulit untuk dikonfirmasi, baik penulisnya maupun isi artikel. Sebaiknya jangan mudah percaya, apalagi mengikuti anjuran isi artikel tidak jelas tersebut. Sifat orang Indonesia yang baik, ingin selalu berbagi kebaikan dengan teman atau keluarganya menyebabkan pesan berantai yang tidak jelas tersebut selalu beredar dari waktu ke waktu.

Location: Göttingen, German

Time: April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s