Perang Minyak Sawit

Sudah beberapa tahun ini pemerintah sedang “berperang” memperjuangkan minyak sawit Indonesia, khususnya di daerah eropa. Negara-negara eropa pun tidak kalah sengitnya melawan minyak sawit Indonesia. Ini bisa menjadi seri cerita yang panjang, perlahan-lahan kita akan bahas beberapa waktu ke depan.

Süddeutsche Zeitung, salah satu koran terkemuka dan berpengaruh di German, kemarin memberitakan tentang orangutan. Mereka mengungkapkan fakta bahwa banyak orangutan yang terbunuh dan anak orangutan menjadi yatim akibat pembalakan hutan, terutama untuk pembukaan lahan kelapa sawit. Juga karena ada kelompok pemburu liar yang memburu orangutan.

Anak Yatim, orangutan

Berikan ruang hidup untuk bangsa kera

Penyusutan area hutan dan populasi orangutan

Aktifis lingkungan untuk menyelamatkan hutan dan orangutan

Tentu saja urusan kelapa sawit ini masalah kompleks. Banyak sisi mulai dari aspek lingkungan, politik, ekonomi, sosial, hukum international, kesehatan, keamanan pangan. Beberapa waktu sebelumnya Indonesia berhasil memenangkan gugatan biodisel dari bahan baku minyak kelapa sawit. Bagaimanapun, minyak kelapa sawit menghasilkan produksi per satuan luas jauh lebih tinggi daripada minyak rapsid atau minyak bunga matahari produksi eropa. Bisa jadi dari sisi jejak karbon, penggunaan lahan, efisiensi lebih menang kelapa sawit jadi seharusnya lebih ramah lingkungan dibanding minyak lain. Nah, kalimat terakhir ini yang digugat oleh orang eropa, juga amerika yang produksi minyak kedelai dan jagung, dari banyak sisi. Ini perang dagang, Bung!

Inilah mengapa ada tempat sampah biru khusus untuk kertas. Tebal satu koran beserta iklan yang diselipkan bisa seperti ini, dan ini bukan yang paling tebal. Seringkali GT warior membawa koran dengan berat @250 gram

 

Berita tentang orangutan tersebut menjadi salah satu cover depan salah satu koran terkemuka di German. Dan dibahas di dua halaman penuh. Efeknya tentu menggugah emosi para pembaca. Membangkitkan kesadaran para pembaca mengenai penderitaan orangutan, sampai menggunakan diksi “anak yatim”. Hati siapapun akan terenyuh. Inilah hebatnya mereka. Tidak ada ajakan boikot kelapa sawit. Tidak ada ajakan benci produk NKRI, yang berarti asing-asong-aseng untuk mereka. Tidak ada bicara itu produk orang yang berlainan agama dan keyakinan dengan mereka.  Tidak ada SARA. Mereka mengajukan data dan fakta.

Sementara sikap kita terhadap produk negara lain terutama RRC? ah sudah lah……. Padahal yang suka teriak asing-asing-asong-aseng, dari ujung kepala sampai ujung kakinya pakai produk RRC, dengan alasan kalau belum bisa mengganti seluruhnya, minimal sebagian.

Lalu, bagaimana cara kita melawan narasi yang menyudutkan produk-produk Indonesia khususnya kelapa sawit? Yuk kita diskusikan bersama.

Location: Göttingen, German

Time: April 2018

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s