Aku cinta rupiah

Kalau kata Bang Ben, “Tuyul aje demen duit!”…. Suka atau tidak suka, kita membutuhkan uang untuk bertransaksi sehari-hari, apapun bentuk uang tersebut. Kita perlu uang untuk membeli sarana produksi pertanian, membayar tenaga pertanian sampai jual beli produk pascapanen. Uang bisa berbentuk kertas, logam, elektronik sampai komoditas macam tembakau dan kopi. Tidak ada bentuk mata uang yang disetujui oleh Tuhan atau agama, seakan-akan mata uang tertentu sebagai jalan masuk surga. Uang hanyalah hasil kebudayaan manusia yang terikat ruang dan waktu. Nilai relatifnya terhadap barang acuan tergantung kesepakatan manusia pada lokasi dan waktu tertentu, bisa berubah.

Mata uang bisa juga merupakan identitas suatu bangsa. Rupiah contohnya, merupakan suatu bentuk kedaulatan dari NKRI. Ada juga Euro yang merupakan identitas dari gabungan negara-negara Eropa. Hampir sulit untuk membuat mata uang tunggal yang berlaku bagi seluruh dunia. Paling tidak, belum pernah ada sepanjang sejarah dunia. Karena mustahil menyatukan bangsa-bangsa yang beragam ini dalam satu ide, satu kepemimpinan, satu pemerintahan absolut. Belum pernah ada. Dan itu sama sekali bukan solusi terhadap permasalahan dunia dan akhirat.

Akhirnya, saya memegang kembali lagi Rupiah. Dalam beberapa hari kedepan, saya akan kembali ke tanah air. Dan harus membiasakan diri lagi bertransaksi menggunakan Rupiah. Bukan berarti sering memegang Euro juga 🙂 Sebagian besar transaksi di german menggunakan kartu atau transaksi elektronik seperti paypal, jarang menggunakan uang secara fisik. Lain kali kita bahas mengenai hal tersebut.

Perbandingan nilai Rupiah dan Euro

Rupiah merupakan segelintir mata uang dengan angka 0 berderet. Heboh. Di foto terlihat perbandingan selembar uang 10 Euro dengan berlembar-lembar uang Rupiah dengan deretan angka 0 yang banyak. Dari biaya modalnya saja kita sudah kalah. Modal selembar kertas dan tinta yang diprint menjadi uang Euro tentu lebih rendah daripada berlembar-lembar Rupiah. Nilai intrinsiknya Rupiah juga kalah.

Salah satu solusinya adalah redenominasi, penyederhanaan angka tanpa perubahan nilai. Jadi 3 angka 0 rupiah tersebut dihilangkan. Untuk sobat yang sering nongkrong di cafe, tentu sudah biasa dengan redominasi. Misal, harga kopi 32000 ditulis menjadi 32K atau 32 saja. Untuk pembiasaan kepada masyarakat, restoran, swalayan dan supermarket harus menerapkan hal serupa terhadap label harganya, jika kebijakan redominasi ini akan diterapkan. Juga di lembar uang nya, angka 0 diperkecil dulu tanpa merubah unsur desain lainnya. Saya yakin BI sebagai pemegang kekuasaan moneter sudah merancang strategi redominasi yang baik.

Penerapan kebijakan redominasi tersebut harus hati-hati, sosialisasi harus masif dan bertahap, serta penerapan strategi yang tepat sasaran. Ditengah masyarakat yang mudah diracuni oleh hoax, kebijakan apapun harus hati-hati dan penuh perhitungan untuk menghindari keributan yang tidak perlu.

Dilihat, diraba, diterawang

Lebih mirip orang menari.

Logo lebih mirip penari Bali. Tergantung imajinasi masing-masing orang Sumber: http://www.balinesedance.org/

Contoh beberapa waktu lalu isu lambang palu arit di uang Rupiah baru. Nah, saya baru pegang uang Rupiah baru yang saya dapat dari kolega beberapa hari ini. Saya lihat, raba dan terawang seperti di iklan tv jaman dulu. Hasilnya saya tidak melihat ada arit atau palu. Malah saya pikir, lebih mirip orang sedang menari. Hmmmm mungkin tergantung isi imajinasi fiksi yang fiktif di kepala kita masing-masing. Kalau di hati dan pikiran kita isinya palu arit, ya setiap benda yang dilihat semuanya jadi mirip atau menyerupai logo tersebut.

Ini fitnah keji. Dan saat itu, secara TSM (terstruktur, sistematis, masif) fitnah ini disebar dan diviralkan. Saat yang bersamaan juga, ada pihak tertentu yang menghina tokoh pahlawan yang terdapat pada seri uang baru.  Tujuannya adalah merusak perekonomian NKRI. Sayang kasusnya menguap begitu saja. Walau tidak selalu sama, tapi kelompok tersebut seringkali beririsan dengan kelompok penyebar fitnah lainnya seperti isu pemerintahan pro komunis, pro RRC, anti islam, anti ulama dan sederet isu lainnya. Yang terakhir, isu receh sembako pun digoreng juga 🙂 Kita doakan saja kelompok ini agar dilembutkan hatinya oleh Tuhan. Dan lucunya, kelompok yang suka bikin gaduh ini juga cinta Rupiah loh… tring..tring….

Location: Göttingen, German

Time: April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s